
Untuk beberapa bab kedepan cerita tentang kehidupan Radit dan Nindya ya....
____________
Sore menjelang, sejak Radit membeli apartemen ini, praktis Radit lebih banyak menghabiskan waktu untuk tinggal disini bersama Nindya.
Sertifikat kepemilikan apartemen memang atas nama Nindya, tapi jangan harap wanita itu bisa menguasainya sendiri.
Harga dua milyar rasanya terlalu besar untuk diberikan secara cuma-cuma untuk Nindya yang bahkan tidak memiliki status yang jelas dengan Radit.
Meskipun sering membangkang, ternyata Radit masih memiliki sisi gentar terhadap peringatan Rania kakak pertamanya yang jelas-jelas menolak pernikahan siri antara dirinya dan Nindya.
Hanya kepada kakak pertamanya itu Radit merasa di backup, yang jelas-jelas tak akan ia diterima dari Raisa kakak keduanya.
Buktinya sampai saat ini Rania masih mau menerima dan berbincang dengan dirinya, berbeda sekali dengan Raisa yang bahkan tak ingin sekedar bertegur sama dengannya lagi.
"Makan dulu Dit." Berbagai menu terhampar di meja makan, disana Nindya menata piring dan sendok untuk mereka.
"Kamu masak Nin?" Radit duduk sambil mengambil nasi dan udang saos mentega yang menarik minatnya.
"Masak? Kamu becanda ya sayang? Mana bisa aku memasak, takut kukuku rusak kalo mengiris bawang." Nindya tersenyum masam mendengar pertanyaan Radit barusan.
"Lalu ini?" Radit menunjuk menu di hadapannya yang terdiri dari lima macam lauk dan sayur itu.
"Aku pesen di resto chinese food yang ada di lobby bawah sana." Nindya menjawab santai sambil mengisi piringnya dengan nasi dan capcay.
Radit menghela nafas cukup panjang mendengar perkataan Nindya itu.
"Tenang aja sih, ini paling habis beberapa ratus ribu doang kok." Nindya mengomel melihat Radit tampak tak suka dia menghamburkan uang seperti ini.
"Hemat Nin, ingat lho biaya perawatan apartemen ini lumayan mahal, belum lagi ditambah kamu yang sekarang sering belanja macem-macem." Radit mencoba menegur dengan lembut, ingin membandingkan Nindya dengan Naya yang terkenal sederhana dan tidak neko-neko tapi bibirnya tak berani berucap.
__ADS_1
"Iya, ngerti sayang." Nindya mengangguk mengiyakan saja apapun yang diucapkan Radit, toh dengan sekali goyangan saja apapun yang ia mau pasti akan Radit kabulkan.
Selesai makan malam, kini mereka duduk berdua di depan TV sambil menonton acara fashion show dari brand terkenal mancanegara.
"Dit.. " Sambil bersandar di lengan kekar itu Nindya mulai menancapkan racun berbisanya kembali.
Radit terdiam mendengarkan Nindya melanjutkan bicaranya dengan mata tetap terfokus pada layar televisi di depannya, melihat acara lenggak lenggok peragawati kesukaan Nindya yang memakai baju yang harganya sering membuat Radit pusing tujuh keliling.
"Boleh nggak aku ikutan arisan sama temen-temen sosialitaku?" Nindya bertanya sambil tangannya menggambar abstrak di dada sang pria.
"Buat apa sih Nin?" Radit bertanya dengan suara tertahan.
"Ya buat memperluas jaringan aja." sahut Nindya masih dengan membuka pola abstrak disana.
"Berapa emang arisannya?"
"Lima puluh juta per bulan." Jawaban enteng Nindya membuat Radit reflek menegang.
Nindya mendengus sebal kalau Radit sudah komplain masalah dia mengatur keuangan.
Radit menghembuskan asap itu dengan kasar, kepalanya sering pusing belakangan hari ini, ibaratnya maju kena mundur juga kena.
Dalam benaknya dia mengakui bahwa Naya adalah wanita terhebat yang pernah ia kenal, berapapun uang belanja yang Radit berikan selalu ia terima dengan rasa syukur, mungkin karena ia wanita pekerja yang memiliki penghasilan sendiri hingga tak begitu bergantung penuh pada suami.
Salahnya sejak awal tidak bisa menerima Naya sebagai mana adanya dan mulai memaksa wanita bergelar istri itu untuk menuruti permintaannya dan tinggal di rumah dan menunggu suami pulang kerja.
Hingga akhirnya Radit kecewa karena Naya yang tak sesuai dengan ekspetasinya dan mulai membandingkan dengan wanita lain yang tragisnya memiliki racun mematikan seperti Nindya.
Meski tahu Nindya yang membocorkan perselingkuhan mereka kepada Naya, tapi dengan bodohnya Radit memaklumi tindakan itu dan terlalu percaya diri bahwa Naya memiliki hati seluas samudera u untuk memaafkannya.
Dan sekarang ia menyesal? Semua rasanya sudah terlambat, Naya semakin menjauh dan kuku beracun Nindya semakin menancap kuat di tubuhnya.
__ADS_1
Cukup lama Radit duduk termenung di balkon, sampai dinginnya malam menusuk ke tulang, membuat dirinya akhirnya memilih masuk ke dalam apartemen.
Nindya sudah tak ada di ruang televisi, bahkan beberapa lampu sudah dimatikan olehnya.
Radit menyusul ke dalam kamar dan mendapati Nindya telah bergelung di bawah selimut, terdengar isak tangis lirih dari bibir Nindya.
Radit menghembuskan nafas kasar, selalu dan seperti ini apabila keinginannya tak Radit wujudkan.
Radit ikut bergelung di bawah selimut tebal itu dan memeluk tubuh sintal itu dari belakang. "Please Nin, jangan nangis," bisik Radit pelan.
"Aku kan cuman ingin merasakan berkumpul sama mereka Dit, mengingat mereka yang meremehkan aku dulu, rasanya aku ingin membalas mereka dengan masuk dalam perkumpulan mereka." Nindya menangis semakin pilu dan membenamkan wajahnya dalam dada bidang sang lelaki.
"Kenapa sih harus ngedengerin omongan mereka? Tak cukup diam di rumah, menikmati hidup, belanja sesuka kamu, bagaimana kalo mereka mempertanyakan darimana kamu dapat semua ini?" Radit mencoba menasehati Nindya dengan suara selembut mungkin, tak ingin melukai Nindya.
"Makanya nikahin aku Dit," rengek Nindya akhirnya.
"Sabar sayang, tunggu waktu yang tepat," bujuk Radit lembut.
"Kapan itu!?" Nindya mulai merajuk dan membalikkan badannya membelakangi Radit.
"Hei lihat aku." Radit menarik lengan Nindya lembut, memintanya untuk kembali menghadapnya.
"Aku masih minta persetujuan mbak Rania dan bapak, aku nggak mungkin melangkah tanpa restu."
"Tapi kakak kamu dan bapak kamu itu kan nggak suka sama aku, sampai kapan aku harus menunggu, oh jangan-jangan kamu masih berharap rujuk sama Naya ya!"
"Nin, tahan suara kamu!" tegur Radit mulai terpancing emosinya.
Heran ia lama-lama Nindya banyak tingkah dan banyak maunya, dia pikir mudah apa menceraikan Naya, sementara bukti-bukti perselingkuhannya dipegang oleh Naya.
"Aku tahu kamu cuman jadikan aku pemuas nap** kamu aja, dan tak ada niat dalam hati kamu untuk menghalalkan aku!" teriak Nindya lalu bangun dari ranjang dan meraih kunci mobilnya lalu bergegas menjauh dari hadapan Radit.
__ADS_1
"Keluar satu langkah dari pintu itu dan jangan harap aku akan menerima kamu kembali!" bentak Radit dingin.