Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 47 : Jangan memohon kepada perempuan seperti saya


__ADS_3

Hari berganti hari bahkan minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan.


Untuk sebagian orang mungkin waktu berjalan begitu cepat meninggalkan mereka, tetapi untuk sebagian orang waktu masih berpijak di tempat yang sama dan tak bergerak sama sekali.


Naya..... perempuan cantik dengan sejuta pesona itu hanya mengulas bedak tipis di wajahnya yang semakin lama semakin tirus karena persoalan hidup yang menderanya sedemikian rupa.


Mungkin sebagian orang mengatakan dia perempuan bodoh yang tak bisa melepaskan diri dari duri yang menancap dengan garangnya di hatinya.


Yah karena mereka tak merasakan apa yang dirasakan Naya hingga bisa menghakimi dia sedemikian rupa.


"Mbak, sudah siap belum?" tanya Reza mengetuk pintu kamar Naya dengan pelan.


Ceklek... pintu terbuka dan menampilkan sosok Naya yang terlihat cantik dengan dress garis-garianya.


"Yuk Za." Naya melangkah di depan Reza dan membuka pintu, kembali Naya mendapati bucket bunga tergeletak di meja teras.


Tanpa melihat pengirimnya, Naya melempar bunga tersebut ke tong sampah.


Reza yang melihat itu hanya bisa menghela nafas lelah melihat orang-orang disekitarnya yang seakan stagnan dan tak bergerak maju.


Ya... selain Naya ada satu orang lagi yang tak bergerak maju alias jalan di tempat, orang itu adalah..... Bagas.


Dengan sejuta kali penolakan dan pengusiran yang Naya lakukan, pria itu tetap mengejar cinta pertamanya tanpa lelah dan tanpa bosan.

__ADS_1


"Kenapa nggak diomongin saja sih mbak? Sayang kan buang-buang uang untuk beli sesuatu dan berakhir di tempat sampah," ucap Reza bijak.


"Capek!" Lalu Naya memejamkan matanya menandakan tak ingin diganggu, tapi kali Reza tak akan berdiam diri melihat Naya seperti ini.


"Mbak Naya belum puas ya, mengombang-ambingkan perasaan mas Bagas, mas Radit bahkan perasaan mbak sendiri." Reza mulai mengeluarkan uneg-uneg yang ia tahan beberapa bulan ini.


"Aku nggak peduli tentang perasaan mereka mbak, yang aku peduliin cuman perasaan mbak Naya, sudahi dan cari kebahagiaanmu."


Naya membuka matanya pelan, ada sesuatu yang menancap ke hatinya, bahagia.... satu kata yang rasanya sulit untuk ia jangkau dan nikmati, seakan hidupnya memang untuk berteman dengan kecewa dan kesedihan.


Sampai depan toko, Naya turun dan Reza meneruskan perjalanan menuju cabang yang lain, ya sejak beberapa bulan lalu mereka telah membuka cabang baru di tempat berbeda.


"Pagi chef Ajun, Maya sudah datang?" sapa Naya ketika memasuki toko dan melihat Ajun sedang menata roti ke etalase.


"Ada mbak, lagi ke toilet."


Naya siap melangkah ketika dirinya melihat sesosok perempuan cantik yang duduk di pojok ruang.


"Oh iya mbak, ibu itu nunggu mbak Naya sejak toko belum dibuka." ucap Ajun setengah berbisik.


Naya sangat paham siapa perempuan muda itu, dan dia harus menyiapkan mental untuk hal ini bukan.


"Tolong seduhkan teh chef." Naya meminta kepada chef Ajun dengan sopan.

__ADS_1


Chef Ajun mengangguk, paham kalau Naya ingin ditinggalkan berdua dengan tamunya tersebut.


Dua cangkir teh telah tersaji di hadapan keduanya, Naya memutar jari telunjuknya menyusuri bibir cangkir tersebut, tak ada kata yang keluar dari bibir keduanya.


"Mbak Naya." Suara perempuan itu terdengar lembut dan merdu.


"Apa yang anda mau saya lakukan?" tanya Naya to the point, karena Naya tak ingin berbasa-basi dan tahu tujuan perempuan itu menemuinya.


"Saya mohon mbak, tinggalkan suami saya," suara lirih itu serupa bisikan penuh luka yang memohon belas kasihan kepada orang telah mengambil suaminya.


Hati dan luka yang sama yang pernah Naya rasakan dulu ketika Radit diambil paksa dari sisinya.


"Saya minta maaf telah menjadi sumber kekacauan dalam rumah tangga kalian, tapi percayalah bahwa saya tak ingin mengambil Bagas dari sisi anda, saya bisa jamin bahwa kami tak melakukan sesuatu seperti yang anda pikirkan."


Naya menjeda sejenak ucapannya dengan menyeruput teh yang di pegangnya.


"Seharusnya anda tak memohon kepada perempuan seperti saya yang ingin menghancurkan rumah tangga anda, tegakkan kepala anda dan genggam erat suami anda, jangan sampai pelakor seperti saya bisa mencurinya dari anda." Naya mengucapkan itu dengan nada datar.


"Saya rasa pembicaraan kita cukup sampai disini, maaf saya tak bisa menemani anda lebih lanjut lagi." Naya menganggukan kepala sopan lalu berdiri mempersilakan istri Bagas itu untuk pergi.


Istri Bagas hanya menatap Naya dengan wajah sendu, lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu.


Ada nyeri yang dirasakan oleh Naya, mungkin dirinya dulu sama dengan istri Bagas, menghiba dan memohon kepada suaminya untuk kembali padanya, tetapi Radit tak pernah cukup hanya dengan dirinya saja.

__ADS_1


Dan sekarang perempuan lain datang padanya memohon agar ia berbelas kasihan kepada dan mundur dari kehidupan sang lelaki.


Tanpa diminta pun Naya sudah mundur dari kehidupan Bagas, karena dalam pikiran Naya sekarang, sulit untuk menemui seseorang yang benar-benar tulus dengan perasaannya.


__ADS_2