
"Za," panggil Naya lembut.
"Mbak Naya mau kemana?" tanya Reza heran melihat Naya sudah cantik dengan dress kotak-kotak sepanjang betis.
"Mau ikut kamu," jawab Naya mengulas senyum manis.
"Beneran?" tanya Reza bahagia karena Naya mau keluar dari kesedihannya.
"Iya." Naya menyunggingkan senyum manis kepada Reza.
"Ya udah ayok!" ajak Reza bersemangat.
Berdua mereka berboncengan motor, Naya duduk menyamping di boncengan, tak lupa tangannya melingkar di perut sang adik.
"Mbak Naya harusnya tadi pakai celana aja biar gampang boncengnya," ucap Reza sambil menolehkan sedikit kepalanya ke belakang agar suaranya terdengar oleh si kakak.
"Nggak ah, aku pengen pakai dress biar kelihatan feminim," sahut Naya.
"Ya kalo gitu tadi naik taksi aja biar enak," cetus Reza lagi.
"Nggak papa Za, aku kan nggak pernah ngerasain naik motor, rasanya awesome kok," pekik Naya kegirangan.
Reza bahagia melihat kakak perempuannya seaktratif ini, hal ini menandakan Naya sudah terlepas dari kesedihannya.
Tak lama motor matic itu berhenti di sebuah toko Roti kecil yang Reza beri nama "Kanaya Anugrah Bakery".
Naya yang baru pertama kali datang ke tempat usaha ini, matanya terlihat berkaca-kaca membaca papan nama besar toko roti adiknya.
" Kok kamu kasih nama Kanaya Za?" tanya Naya terharu.
"Ya karena mbak Naya itu sesuatu yang penting dan bernilai untuk aku," jawab Reza sambil membimbing tangan sang kakak memasuki toko rotinya.
Ada sebuah etalase besar dan juga dua set meja kursi untuk dua orang yang ditata disana, sengaja disediakan untuk orang yang ingin menikmati roti di tempat tersebut.
"Aku bantuin apa Za?" tanya Naya mengedarkan pandangan mencari kerjaan yang bisa dia kerjakan.
"Mbak Naya jaga kasir aja mbak," jawab Reza sambil tersenyum.
"Wah tugasku enak banget, pegang duit," sorak Naya dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Iya mbak, itu kode-kode untuk jenis rotinya ada di depan mbak, nanti kalo ada yang beli tinggal masukin kodenya sesuai nama rotinya ya mbak," ucap Reza.
"Siap pak bos!" sahut Naya dengan mengangkat tangan memberi hormat.
Reza gemas melihat tingkah kakak itu dan dengan sengaja mengacak rambut Naya pelan.
"Ih Eza rambutku jadi berantakan ini," rajuk Naya dengan bibir manyun.
"Waduh jadi keinget dulu mbak Naya manggil aku Eza karena belum bisa ngucapin kata R hahaha," ledek Reza.
"Iya aku mau panggil kamu Eza lagi biar kayak kecil dulu ya?" goda Naya terkekeh.
"Asal mbak Naya happy, aku mah oke oke saja," balas Reza.
Lalu keduanya asyik bekerja karena setelah obrolan absurd mereka tadi, pelanggan datang tak henti-henti.
Sudah dari sananya pintar, hanya sekali diajari oleh Reza, Naya langsung bisa mengerjakan tugasnya dengan baik.
Beberapa jam kemudian, ketika Reza sedang rehat untuk makan siang dan melihat Naya masih asyik berbicara dengan pelanggan, akhirnya niat Reza untuk mengajak kakaknya itu untuk istirahat ia tunda dulu, melihat begitu bahagianya sang kakak disana.
Lalu.... hari-hari cepat berlalu, dan Naya tampak bahagia tenggelam dalam pekerjaannya.
Dan Reza bahagia melihat perubahan yang terlihat dalam diri Naya, kakak perempuannya itu kembali hidup dan melupakan musibah yang telah menimpanya.
Suara pintu kaca terdengar membuka, Naya langsung mengangkat kepala, senyuman tersungging di bibir tipisnya melihat siapa yang datang.
Bergegas dia keluar dari balik meja kasir dan menghambur kepelukan orang tersebut.
"Apa kabar Nay?" tanya Rania menangkup wajah Naya yang terlihat lebih segar dari terakhir kali mereka bertemu.
"Baik mbak, mbak Rania gimana kabarnya?"
"Aku juga baik Nay," jawab Rania mengulas senyum.
"Ayo duduk mbak, mau sarapan roti apa mbak? Maaf disini adanya roti sama kopi dan teh."
"Nggak usah Nay, aku udah sarapan tadi di rumah kok," tolak Rania halus.
"Kalo gitu teh aja ya mbak, bentar aku pesenin dulu." Naya bangkit tak menghiraukan penolakan kakak iparnya tersebut.
__ADS_1
Tak berselang lama Naya kembali bersama Reza yang membawa nampan berisi teh.
Dengan sopan Reza meletakkan cangkir berisi teh tersebut di depan Rania, lalu menyalami perempuan yang masih jadi kakak ipar kakaknya tersebut.
Rania menyesap teh hangat tersebut, pembawaannya yang tenang memang membuat siapa saja sungkan terhadapnya.
"Aku seneng liat usaha kalian maju sedemikian pesat seperti ini, aku dengar sampai kewalahan ya menerima orderan," puji Rania tulus.
Naya tersenyum mendengar pujian Rania yang memang berhati baik dan tulus itu.
"Kamu nggak pengen bantu mbak aja Nay? Kebetulan mas Arman lagi ngebangun hotel sekarang, kalo kamu mau kamu bisa handle itu."
Naya tersenyum menanggapi pernyataan Rania barusan." Aku bersyukur dan berterima kasih banget sama mbak Rania atas kepercayaannya sama aku, tapi aku enjoy kerja disini mbak, disamping lebih santai, aku juga nggak terlalu ke forsir pikiranku, karena jujur aku belum bisa kembali bekerja seperti dulu," tolak Naya sopan.
"Maafin kami ya Nay, kami nggak bisa ngejaga kamu, Radit memang luar biasa, rasanya aku pengen bedah otaknya diganti sama yang baru, biar bisa mikir bener," ucap Rania dengan suara santai tapi terdengar emosi di dalamnya.
"Udahlah mbak, aku nggak mau mikirin itu lagi," sahut Naya pelan.
"Bapak ibu sampai malu sama kamu Nay, bahkan ibu sampai sakit-sakitan sekarang mikirin kamu."
Naya mematung, tak pernah terlintas dalam benaknya kalau ibu sedemikian sayangnya terhadap dirinya.
Seperti yang Naya tahu, ibu itu sayang banget sama Radit, bahkan sering kali bertindak impulsif kalau sudah menyangkut Radit, dan Naya baru tahu bahwa kali ini ibu tak membela Radit sama sekali.
"Bahkan sejak kejadian itu, ibu mendiamkan Radit, berbicara kalo sedang ada perlunya, bahkan sekarang sering menginap di rumahku dan rumah Raisa untuk menghindari Radit," terang Rania membuat Naya ternganga.
"Aku minta maaf mbak, aku nggak tahu kalo ibu terkena imbas masalahku," ucap Naya pelan.
"Kenapa kamu meminta maaf Nay, kamu kan nggak salah, kalo mau mencari biang keroknya ya Radit itu yang mesti disalahin!" Tegas suara Rania membuat Naya terharu.
"Bahkan kami tak akan menahanmu kalo kamu ingin mengajukan gugatan cerai terhadap Radi, biar tahu rasa dia, istri baik, cantik dan pintar seperti dirimu malah diselingkuhin sama cewek ondel-ondel begitu!" Lanjut Rania menggebu-gebu.
"Kok mbak Rania tahu?" tanya Naya penasaran.
"Raisa menyeretku untuk melabrak dia," jawab Rania lirih.
"Kan harusnya aku yang melabraknya mbak," gumam Naya pelan.
"Ya karena kami tahu kamu terlalu baik hati untuk melakukan hal itu Nay, makanya Raisa melakukannya demi membela kamu, dan percayalah dia sudah mendapatkan balasan yang setimpal untuk itu, dan Radit..... pria beg* itu sekarang sedang berkubang dalam penyesalan terdalamnya karena perbuatan jahatnya itu," kata Rania.
__ADS_1
"Untuk itu kami minta kamu bangkit dan berdirilah dengan angkuh, tunjukan pada mereka bahwa kamu tetap bahagia dan baik-baik saja, jangan biarkan mereka tertawa diatas penderitaanmu," lanjut Rania.