Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 23 : Separuh jiwaku pergi


__ADS_3

Dengan santai bahkan teramat santai, Radit melenggang masuk ke dalam rumah.


Hari sudah cukup larut dan dia tahu pasti Naya sudah tertidur pulas, hingga Radit tak perlu mencari alasan karena lagi-lagi ia pulang terlambat.


Radit membuka pintu kamarnya dan tak mendapati Naya di sana, dengan wajah masih santai karena berfikir Naya pasti menginap di rumah adiknya, Radit mengisi daya ponselnya yang sengaja ia biarkan habis untuk dijadikan alasan kalau Naya bertanya kenapa dirinya tak bisa dihubungi.


Dengan cuek Radit mengambil baju ganti dan melenggang ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak sampai sepuluh menit Radit selesai membasuh diri, lalu meraih ponsel yang telah terisi beberapa persen daya itu dan menghidupkannya.


Bunyi notifikasi masuk secara bergantian membuat tangan Radit gemeteran, karena pasti ada yang penting hingga seluruh keluarganya menghubunginya.


Dia buka notifikasi pesan dari Raisa yang berada diurutan teratas, dan tubuhnya langsung bergetar hebat, dia raih kunci mobilnya dan menyambar jaket denimnya yang tergeletak di sandaran kursi.


Secepat kilat dia memacu kendaraannya menuju rumah sakit yang disebut oleh Raisa tadi.


Dan tubuhnya langsung melemas mendapati semua keluarganya berada disana.


Bapak menatap tajam Radit."Darimana?" tanya bapak tanpa basa-basi.


"Naya kenapa pak?" tanya Radit lirih.


"Bapak kecewa sama kamu Dit, bisa-bisanya kamu lakukan hal ini hingga Naya harus kehilangan janinnya!" ucap bapak ketus.


Deg.... dada Radit berdetak kencang mendengar informasi dari bapaknya, Radit bingung karena dia merasa tak melakukan apapun terhadap Naya hingga mereka harus kehilangan calon anak mereka.


"Bisa nggak sih jadi cowok yang gentleman, malu gue punya adek kayak lo!" maki Raisa to the point.


"Sa.... tenangkan dirimu," tegur Nico suaminya.


"Nggak bisa tenang aku bang, ada manusia jahat kayak dia!" maki Raisa lagi.


"Sa!" tegur Rania membuat Raisa terdiam dan memilih menyingkir ke pojokan.


"Naya mana pak?" tanya Radit tergugu.


"Dia lagi ditenangkan sama Reza, hanya adiknya itu yang bisa ia dengar sekarang," jawab Bapak lelah.


Sungguh kejadian ini benar-benar mencoreng nama baiknya, anak yatim yang jadi menantunya itu harus dizolimi oleh anak kandungnya sendiri yang berstatus suami.

__ADS_1


"Aku mau masuk pak," desak Radit tak sabaran.


"Jangan memaksa Dit, daripada dia histeris lagi," ucap Rania pelan.


Radit menatap pintu di depannya yang tertutup rapat itu, hatinya teriris melihat sang ibu yang terlihat terisak lirih dan tak mau memandangnya.


"Aku mau masuk!" keukeuh Radit membuat semua mata tertuju padanya.


"Itu juga kalo Naya mau ketemu sama lo!" ketus Raisa marah.


"Emang kenapa Naya nggak mau ketemu ama aku? Salah aku apa?" tanya Radit dengan suara meninggi.


"Hmm.... tak sadar dia," ledek Raisa.


"Lo kenapa sih mbak!" Akhirnya kesal juga Radit akan semua makian sang kakak tadi.


Lalu.... ceklek.... bunyi pintu di depan terbuka menampilkan Reza yang terlihat sembab di kedua matanya.


"Naya mana Za, aku mau masuk!" Desak Radit mendorong tubuh Reza yang menghalangi pintu.


"Mbak Naya lagi istirahat mas, mending untuk sementara nggak usah nemuin mbak Naya dulu, daripada dia histeris lagi," tegur Reza pelan.


"Sebelum mas Radit nemuin mbak Naya, lebih baik mas Radit lihat ini dulu." Reza menyerahkan ponsel Naya ke tangan Radit.


Radit menerimanya dan membaca rentetan pesan yang terkirim ke nomer Naya.


'Anj*ng!' maki Radit dalam hati.


Tanpa sadar Radit meremas ponsel tersebut dengan kencang lalu badannya luruh ke lantai membayangkan Naya yang terluka dan stress hingga kehilangan janin yang telah mereka tunggu selama ini.


"Aku ingin ketemu Naya Za," ucap Radit pelan tapi memaksa.


"Biarkan Naya tenang dulu Dit, sekarang dia lagi dalam kondisi terpuruk gara-gara kamu , lebih baik bersikap gentleman dan beresi masalah kamu dulu, mbak rasa Naya nggak akan bisa diajak bicara saat ini," nasihat Rania tenang.


"Bapak ibu, saya mau minta ijin untuk bawa pulang mbak Naya ke rumah saya dulu untuk sementara waktu sampai ia tenang dan bisa diajak bicara," ijin Reza sopan.


"Bapak ijinin Za, maafin bapak yang nggak bisa jagain kakakmu ya nak, bapak mereka berdosa sama orang tuamu," sahut bapak bijaksana.


"Nggak, aku nggak ijinin!" tolak Radit dengan suara ketus.

__ADS_1


"Kamu mau buat Naya gila ya Dit! Jangan egois jadi suami, kamu yang bikin Naya kayak gini, biarkan dia menenangkan diri dulu, nanti kalo dia sudah stabil kita jemput lagi," kata bapak membuat Radit membisu, karena kata-kata bapak tak ada satupun yang berani mendebatnya.


"Aku mau lihat kondisi Naya sebentar saja," gumam Radit lirih.


"Jangan berisik ya mas, mbak Naya lagi tidur sekarang setelah dikasih obat penenang sama dokter," ucap Reza akhirnya, bagaimanapun Radit masih suami Naya, jadi dia masih punya hak terhadap Naya.


Kalau tak menahan emosinya ingin rasanya Reza memberi bogem mentah kepada kakak iparnya yang keterlaluan itu.


Naya.... kakak satu-satunya yang Reza miliki, wanita cantik yang baik hati itu harus menerima perlakuan seperti ini.


Kehilangan orang tua, kehilangan kekayaan dan sekarang harus kehilangan calon bayinya, dan mungkin sebentar lagi kehilangan suami, sungguh sesuatu yang sangat berat yang harus Naya alami.


Radit melangkah pelan, melihat tubuh ringkih di atas tempat tidur itu, dengan selang infus yang menancap di tangannya.


Radit luruh bersimpuh di dekat ranjang, penyesalan menghantam hatinya, Radit menahan tangis, menggenggam tangan mungil itu dan menciumnya lembut.


Kata-kata maaf terus terucap dalam hatinya, sungguh Radit menyesal, perbuatannya membunuh anaknya sendiri.


Tak ingin mengganggu tidur Naya, Radit keluar dari kamar rawat Naya, menepuk pundak Reza pelan sambil berkata," Titip Naya bentar, aku ada perlu."


Tak menghiraukan panggilan bapak, ibu dan kakak-kakaknya, Radit melangkah lebar meninggalkan tempat itu, satu tujuannya yaitu menjumpai Nindya si sumber masalah.


Sesampainya di apartemen Nindya, Radit membuka pintu dan membantingnya keras.


"Nin..... Nindya!" panggilnya keras.


"Apa sih yang, teriak-teriak kayak gitu," tegur Nindya keluar dari kamar tidurnya.


"Apa yang kamu lakukan bang*at!" maki Radit sambil mencengkeram kerah baju Nindya.


Nindya berusaha melepaskan diri, tapi genggaman tangan pria itu begitu kencang tak mudah Nindya untuk melepaskan diri.


"Kamu apa-apaan sih Dit," ucap Nindya mencengkram tangan Radit, mencoba melepaskan diri.


"Dasar jala*g lo! Lo udah bikin anak gue pergi sebelum dia dilahirkan, anak yang gue tunggu sejak lama, bang*at!" maki Radit dan tangan pria itu menampar pipi Nindya keras hingga wanita itu terhuyung dan hampir tersungkur, sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Kenapa lo sejahat itu Nin," tangis Radit meraung menggema di ruangan itu.


Bibir Nindya kelu, jadi Naya keguguran karena dirinya? Wah ini berita bagus yang harus ia rayakan, tak peduli bagaimana jalannya, Radit harus menjadi miliknya seutuhnya.

__ADS_1


"Separuh jiwaku pergi Nin, separuh jiwaku pergi!" erang Radit sesegukan.


__ADS_2