Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 24 : Rasanya sesakit ini


__ADS_3

Naya kembali duduk termenung di taman belakang rumah Reza, kembali ia usap perut tipisnya yang sudah tak ada lagi janinnya disana.


Tanpa ia minta airmatanya kembali menetes deras membasahi pipi tirusnya, kejadian demi kejadian yang menimpanya kembali melintas di dalam pikirannya, layaknya kaset yang diputar berulang-ulang.


Reza menatap kakaknya yang sedang termenung dengan wajah sedih, sudah sebulan lebih sejak kejadian itu dan Naya masih tenggelam dalam dunianya sendiri.


"Mbak.... " panggil Reza pelan membuyarkan lamunan Naya.


Naya menoleh, menyunggingkan senyum manisnya, lalu dengan pelan mengusap airmata yang masih tersisa di pipinya.


Reza berjongkok di depan Naya, memegang kedua tangan itu dengan lembut." Jangan seperti ini terus, aku mohon."


"Kenapa rasanya sesakit ini ya Za, aku ibu yang jahat yang tak bisa melindungi anaknya hingga ia memilih pergi bahkan sebelum ia sempat dilahirkan," ucap Naya dengan suara lirih.


"Semua sudah menjadi takdir Yang Diatas mbak, jangan sakiti diri mbak seperti ini terus, ikhlasin mbak," nasihat Reza sambil mengelus pipi Naya yang terlihat semakin tirus.


Naya tersenyum, mengusap lembut rambut adik satu-satunya tersebut dengan sayang.


"Kamu nggak ke toko kamu?" tanya Naya mengalihkan pembicaraan, cukup dia yang merasakan kesakitan ini, Reza tak perlu ikut merasakan deritanya.


"Bagaimana aku bisa ninggalin mbak Naya, kalo mbak Naya begini terus," jawab Reza lembut.


"Aku nggak papa Za, kamu pergi saja, jangan tunda-tunda pekerjaan kamu," bujuk Naya lembut.


"Tapi janji mbak Naya nggak bengong lagi ya, jujur aku khawatir ninggalin mbak sendiri atau mau ikut aku ke toko? Biar bisa lihat dunia luar," ajak Reza.


"Aku di rumah aja Za, aku pengen tidur, rasanya capek banget badanku," tolak Naya.


Reza menghela nafas panjang, dia tak tega meninggalkan kakaknya seorang diri, tetapi toko kuenya juga butuh dirinya, bagaimana bisa ada kemajuan kalau dirinya abai dengan tokonya yang baru dirintisnya itu.


"Beneran tidur ya, bukan ngelamun."


"Iya." Tawa Naya terdengar renyah tapi sumbang.

__ADS_1


Dengan berat hati Reza meninggalkan Naya, sesegera mungkin ia akan menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang, untung saat ini dia telah memiliki karyawan yang bisa diandalkan.


Karena toko yang baru dibukanya beberapa minggu itu juga butuh perhatiannya, karena dari sana Reza menopang hidupnya dan Naya, tak ada lagi yang tersisa, dia harus berjuang untuk mengelolanya dan membuatnya besar.


Setelah kepergian Reza, Naya kembali termenung, tak ada yang ingin ia lakukan selain melamun, suara gemericik air di taman kecil itu menambah suasana sepi yang menambahkan rasa kesepian di hati Naya.


Suara ketukan di pintu terdengar lamat di telinga Naya, tanpa sadar ia sempat ketiduran dengan posisi duduk karena keasyikan menatap taman.


Dengan malas Naya bangkit dan membuka pintu rumahnya, matanya serta merta membulat melihat sosok pria yang paling tidak ingin ia temui saat ini berdiri menjulang di depannya.


"Nay... " panggil Radit pelan, ada kerinduan dan penyesalan pada kedua mata pria itu.


Naya bergeming, menatap suaminya yang tak punya hati ini masih berani menemuinya.


"Nay.... " panggil Radit pelan lalu luruh bersimpuh di depan Naya.


Naya mundur selangkah, mencoba menjauh dari jangkauan Radit yang berusaha memeluk kakinya.


"Ngapain kesini mas? Pulanglah, aku nggak mau lihat wajah kamu!" Dingin suara Naya menahan getar amarah yang memenuhi hatinya.


"Maafin aku Nay, maafin aku." Lirih suara Radit tenggelam dalam isak tangisnya.


"Penyesalanmu itu nggak bisa ngembaliin anak aku mas," sahut Naya dingin.


"Aku tahu Nay.... aku.... "


"Pergilah mas, aku pengen sendiri!" ucap Naya dingin


"Naya... please.... dengerin aku." pinta Radit memelas, cukup sudah penderitaannya saat ini, dimusuhi istri dan keluarga besarnya membuat mental Radit benar-benar terpuruk.


Tanpa mempedulikan Radit yang tetap bersimpuh meski telah diusirnya, Naya membanting pintu di belakangnya dan pergi ke kamarnya, kembali ia menumpahkan tangisnya disana.


Hatinya kembali menjerit setiap Radit berusaha menemui dan meminta maaf padanya, hatinya tak sebaik itu untuk melupakan dan memberikan maaf kepada Radit, mengingat kembali pengkhianatan pria itu yang menyebabkan ia harus kehilangan janinnya membuat hati Naya kembali sakit.

__ADS_1


"Mas Radit! Mas Radit ngapain disini?" tanya Reza shock melihat Radit bersimpuh di depan pintu rumahnya.


"Please mas, biarin mbak Naya tenang dulu, nanti kalo dia sudah tenang pasti aku ijinin kalian buat ngobrol," tegur Reza pelan.


Sebagai seorang adik, Reza tentu murka melihat kakak semata wayangnya diselingkuhi oleh suaminya, tetapi Reza juga tak mau egois dengan membiarkan masalah Naya dan Radit tak menemui titik temu seperti ini.


"Za, tolong bantu aku untuk bertobat dan kembali sama Naya, aku tahu aku cowok baj**gan yang tak layak menerima kata maaf dari Naya, tapi aku benar-benar menyesal dan ingin memulai semuanya dari awal."


"Aku nggak janji bisa membujuk mbak Naya buat kembali sama kamu, prioritasku sekarang adalah kebahagiaan mbak Naya, apapun keputusannya aku akan dukung dia, please biarkan dia tenang dulu," ucap Reza tegas.


"Maafin kesalahanku ya Za," kata Radit tulus.


"Manusia tempatnya salah bukan? Rasanya aku tak ada hak untuk tak memaafkanmu mas, tapi kata maafmu sampaikan sendiri nanti sama mbak Naya, sekarang pulanglah dulu," pinta Reza lembut tapi tegas.


Reza masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Naya, melihat Naya tengkurap dengan menyembunyikan wajah di bawah bantal dan punggung itu bergetar hebat, hati Reza kembali teriris.


"Mbak," panggil Reza pelan.


"Za!" Naya bangun lalu memeluk tubuh adiknya erat, mencari perlindungan disana.


"Kenapa lagi hmm?" tanya Reza mengusapi punggung kakaknya lembut.


"Sakit Za," adu Naya lirih.


"Mbak.... dengerin aku! Aku nggak mau mbak Naya begini terus, ayo bangkit mbak, kemana mbakku yang cantik, pinter dan tegar itu pergi? Jangan buat orang yang menyakitimu berbahagia atas penderitaanmu, tunjukan bahwa kamu wanita hebat dan kuat," bujuk Reza sambil menangkup kedua wajah Naya lembut, menatap mata yang telah hilang cahayanya sejak kehilangan calon bayinya itu.


"Cukup meratapi diri, kalo mbak Naya nggak mau balik lagi sama cowok itu, fine tinggalin, kejar bahagianya mbak, tapi jangan tenggelamkan dirimu dalam kesedihan seperti ini.... hmm," nasihat Reza lembut.


"Please mbak, aku cuman punya embak sekarang, jangan kayak gini terus, aku takut mbak Naya sakit dan pergi ninggalin aku." Isakan Reza terdengar lirih.


Naya terperangah, pikirannya yang berantakan belakangan hari ini kembali menemui kesadarannya, ia masih punya Reza yang butuh dirinya.


"Maafin mbak Za, maafin embak," tangis Naya pelan.

__ADS_1


Reza memang benar, sekarang saatnya ia bangkit, melupakan yang ada dibelakangnya dan menatap masa depannya meskipun itu tanpa ada Radit di dalamnya.


__ADS_2