Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 57 : Aku kenal kamu yang sekarang


__ADS_3

Naya memasukan mobil ke garasi rumahnya ketika langit telah berubah menjadi jingga.


Dinda tidur dengan tenang di car seat nya, untung tadi dia sudah dimandikan Naya di panti saat Naya mengantar susu dan pampers untuk anak panti lain.


Mbak Nur berjalan menghampiri mobil Naya dan hendak mengangkat Dinda untuk ia bawa ke dalam rumah.


"Mbak Nur ambil belanjaan di bagasi aja mbak, biar Dinda sama saya, soalnya suka riweh kalo nggak lihat emaknya."


"Iya bu."


Lalu Naya mengangkat Dinda dan membawa masuk ke dalam kamar Naya, setelahnya Naya kembali ke dapur untuk menyimpan belanjaan tadi ke kitchen set.


"Mbak Nur udah makan?" tanya Naya melihat meja makan dalam keadaan kosong.


"Sudah bu tadi dadar telur."


"Kamu boleh makan lauk yang lain mbak, yang di kulkas ada yang dimau dimasak aja ya, jangan sungkan," tegur Naya lembut.


"Iya bu, saya suka telur kok."


"Oh ya sudah kalo begitu, kalo kerjaan mbak Nur udah selesai boleh istirahat mbak."


Lalu Nur kembali ke kamar untuk istirahat dan menonton televisi, tinggalah Naya di ruang tengah sambil mengecek email pendapatan toko rotinya.


"Unda." Jeritan Dinda mengagetkan Naya yang sedang serius menatap layar laptop, buru-buru Naya menghampiri Dinda yang menangis di dalam kamarnya.


"Anak bunda kok nangis." Naya memeluk tubuh mungil itu dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.


"Au cucu," rengek Dinda pelan.


"Dinda haus?" tanya Naya dan Dinda mengangguk-angguk pelan dalam pelukannya.


Naya bangkit menuju meja yang berada di sudut ruangan, lalu membuat susu dalam botol dan menyerahkan kepada Dinda.

__ADS_1


Naya kembali menepuk-nepuk punggung Dinda, menina-bobokan Dinda agar tidur kembali.


Deru mobil Samuel terdengar memasuki halaman, tapi Naya tak bisa menyambutnya karena Dinda belum terlelap lagi.


Samuel mencari keberadaan sang istri, dan senyum lebar tercetak pada wajahnya ketika melihat sang istri sedang menidurkan Dinda.


"Bentar," ucap Naya tanpa suara, Samuel mengerti, ia memilih memasuki kamarnya dan membersihkan diri terlebih dahulu.


Tak lama Naya menyusul dan menyiapkan baju ganti untuk Samuel.


"Gimana yang?" tanya Samuel setelah selesai dengan semua aktivitasnya.


"Udah semua mas, aku udah kirim susu sama pampers ke panti."


"Uangnya cukup kan?" tanya Samuel dengan nada khawatir.


"Masih mas, uang yang mas kasih ke aku itu banyak lho, mas nggak usah khawatir," jawab Naya sambil terkekeh geli.


"Banyak kalo buat kebutuhan kita aja Nay, ini kan sama buat kebutuhan panti, dulu aku hidup sendiri jadi bisa atur keperluan sesuai dengan budget, sekarang kan aku hidup bersama kalian, takutnya kurang."


"Terima kasih sayang." Samuel mengecup kening Naya dengan lembut.


Kini mereka melepas penat dengan tidur berpelukan, Naya menimbang apakah perlu memberi tahu kepada Samuel perihal pertemuannya dengan Bagas tadi.


"Mass... " panggil Naya lembut.


"Hmm.... kenapa?" tanya Samuel melihat keraguan pada diri Naya,


"Aku ada cerita, aku harap mas nggak marah atau kecewa sama aku ya."


Seperti biasa Samuel menyimak tanpa bertanya sebelum Naya selesai bercerita.


"Mas tahu kan kisahku dengan mantan suamiku dulu, bagaimana terlukanya aku, dikhianati sampai berkali-kali membuat aku rendah diri, hingga aku pernah berada diposisi terendah, rasanya marah, frustasi dan dendam berkumpul jadi satu dalam hati, aku haus pengakuan, aku haus dihargai, hingga aku melakukan sebuah kesalahan fatal...... aku hampir menghancurkan rumah tangga orang mas."

__ADS_1


Sampai disini Naya bercerita tak sekalipun Samuel menghakimi Naya, ia masih setia mendengarkan kelanjutan cerita dari sang istri.


"Aku melarikan diri kesini karena aku tak mau jadi perempuan jahat yang mengambil kebahagiaan seorang istri dan seorang anak dari ayahnya, meskipun pria itu berjanji memberikan surga rumah tangga untukku dan meninggalkan keluarganya, tapi aku tetap nggak mau, aku nggak bisa."


Naya mengambil nafas untuk menjeda ceritanya."Aku tadi ketemu pria itu..... Bagas, dia menanyaiku kenapa bukan dia yang aku pilih." Naya membenamkan diri dalam dada sang suami, mencari kekuatan bukan penghakiman.


"Lalu kamu jawab apa?" tanya Samuel lembut.


"Aku hanya meminta maaf mas, aku meminta maaf karena telah memberikan janji palsu kepadanya, aku tahu aku salah, tak seharusnya aku menyeret dirinya dalam keadaan seperti itu, sungguh itu bukan kemauanku secara sadar."


Alih-alih menghakimi, Samuel justru membelai punggung Naya dengan lembut.


"Mas nggak marah?" tanya Naya lirih.


"Kenapa aku harus marah, setiap orang pernah punya masa lalu, dan setiap orang pernah melakukan kesalahan, yang terpenting Naya yang aku kenal adalah Naya yang baik dan berhati malaikat, jadi aku tak peduli dengan masa lalu Naya yang kamu ceritakan tadi."


"Massssss..... " Naya tak bisa bicara apa-apa atas kebesaran hati sang suami yang begitu luar biasa itu.


Betapa Tuhan begitu sayang kepadanya dipertemukan orang sebaik Samuel Krisna yang sekarang jadi suaminya.


"Apa sayang?" goda Samuel.


"Aku jadi semakin cinta sama kamu mas," ungkap Naya malu-malu.


"Ngomong-ngomong kenapa Dinda mau tidur di kamarnya sendiri?" tanya Samuel penasaran, pasalnya anak cantiknya itu kemarin masih susah disuruh tidur sendiri.


"Tadi aku rayu mau aku kasih adik." Naya terkikik teringat obrolannya tadi siang dengan Dinda.


"Hah? Maksudnya gimana Nay?" Samuel semakin bingung dengan penjelasan istrinya itu.


"Tadi aku tanya ke Dinda apakah mau punya adik, dia bilang mau, terus aku bilang kalo mau punya adik harus bobok di kamar sendiri, eh dia mau lho, tapi dia minta adiknya gini." Naya mempraktekkan jari Dinda tadi.


"Pinter banget sih bunda ngerayu anaknya, jadi sekarang kita mulai bikin adik buat Dinda dong bun?" Samuel mengecup telinga Naya membuat sang istri meremang bulu kuduk nya.

__ADS_1


Dan mereka melakukan ritual malam mereka.


__ADS_2