Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 56 : Paling tidak aku melihatmu bahagia


__ADS_3

Naya sedang menyiapkan baju kerja buat Samuel, ketika Dinda berlari dan menubruk kakinya.


"Ada apa nak?" tanya Naya melihat ke bawah.


"Unda, Inda engen beyi boneka di tipi." Dengan aksen cadel yang menggemaskan Dinda terus berceloteh kepada sang bunda.


"Lho anak ayah ngapain ini pagi-pagi udah ngegelendoti bunda." Samuel yang baru selesai mandi terlihat menautkan alis melihat pemandangan di depannya.


"Minta boneka ayah," jawab Naya sambil mengangkat Dinda dan menggendong untuk dibawa ke meja makan.


Samuel menatap punggung sang istri yang dengan sayang dan telaten mengurusi Dinda.


"Mas aku hari ini mau ke mall buat belanja sama mau ngecek toko roti ya." Naya meminta ijin sambil tangannya cekatan menyiapkan sarapan buat Samuel dan Dinda.


"Dinda diajak Yang?" tanya Samuel sambil menyuapkan sesendok sayur bening ke mulutnya.


"Iyalah, bisa kejer kalo nggak diajak." Naya terkekeh mendengar pertanyaan aneh sang suami.


"Bawa stroller biar kamu nggak capek."


"Iya mas."


"Uang di ATM masih kan Nay?"


"Masih banyak mas." Naya menjawab tak lupa tertawa geli, uang segitu banyak mau dipakai apa coba, sang suami hanya meminta uang seperlunya, sisanya Naya yang memegang dan mengatur untuk keperluan rumah tangga dan panti.


"Nanti kalo kurang kamu bilang aja ya Nay, jangan dipikirin sendiri." Samuel mengusap rambut Naya pelan.


"Aman mas."


Setelah selesai sarapan Samuel membawa tas kerjanya dan pamit kepada kedua orang terkasihnya tersebut untuk berangkat praktek.


Lalu Samuel mengecup kening Naya dan Dinda kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Hari ini Samuel punya tiga schedule di tiga rumah sakit berbeda, sudah dipastikan sepanjang hari ini ia sibuk dan sampai rumah diatas jam sepuluh malam, itupun kalau pasiennya tidak membludak seperti biasanya.


"Ayo nak ganti baju dulu, katanya mau beli boneka." Naya membantu Dinda keluar dari kursi makannya dan menuntun sang anak ke kamar.


Sambil mengganti baju Dinda, Naya mencoba memberi pengertian pada gadis kecil tersebut.

__ADS_1


"Dinda sayang, Dinda mau punya adek nggak?" tanya Naya lembut.


"Au unda, Inda au adek yang anyak." Dinda menjawab sambil mengangkat jari jempol sama telunjuknya ke atas.


"Oh Dinda mau punya dua adek?" tanya Naya yang dijawab dengan anggukan Dinda.


"Kalo Dinda mau punya adek, Dinda harus bobok sendiri di kamar ini," bujuk Naya lembut.


"Anti diinggal ma ayah ma unda ayok Inda bobok endili." Dinda cemberut siap memprotes keinginan Naya.


"Bunda sama ayah janji nggak akan ninggalin Dinda, kita akan bersama-sama terus disini, Hmm."


Akhirnya entah paham atau tidak dengan ucapan Naya, Dinda hanya menganggukkan kepala.


"Mbak Nur, saya pergi dulu ya, mungkin nyampai rumah agak sorean, bapak juga pulang malem, nggak usah masak buat kami ya." Naya pamit sama asisten rumah tangganya dan berjalan menuju mobilnya dengan Dinda bersamanya.


Naya melajukan mobil menuju ke pusat perbelanjaan, sampai di tempat tersebut Naya turun dan menggandeng Dinda menuju ke supermarket.


Membeli beberapa barang untuk keperluan untuk rumahnya dan panti, Naya tak merasa kesulitan karena Dinda bukan tipe anak yang rewel dan tak bisa diarahkan.


"Unda, unda, itu onekanya." Dinda menunjuk boneka yang tergantung di salah satu rak di dekat mereka.


"Dinda mau yang ini, iya nak?" tanya Naya lembut.


"Dinda mau beli es krim dulu nggak nak?" tanya Naya.


"Au nda, yang oclat ya." Senyum cerah Dinda membingkai wajah manisnya,


Naya membawa belanjaannya ke mobil dan menaruhnya ke dalam bagasi, dia mengeluarkan juga stroller untuk Dinda biar anaknya itu tak kecapaian nanti karena harus berjalan mengelilingi mall yang lumayan besar ini.


Sambil mendorong stroller Naya kembali memasuki mall tersebut, tujuannya langsung ke kedai ice cream di lantai dua mall ini.


Mengantri sejenak lalu menerima satu cup ice cream rasa coklat, lalu ia mencari tempat duduk dan mulai memperhatikan Dinda yang sedang asyik menyendok ice cream tersebut.


Dengan perasaan sayang dan juga terharu melihat Dinda yang begitu lahap menikmati ice cream nya, makanan yang tentu saja merupakan barang yang langka untuk bisa ia nikmati setiap saat ketika gadis cilik itu menjadi penghuni panti.


Tak ada yang bisa Naya utarakan dengan kata, gadis secantik dan sepintar ini dibuang dan ditolak oleh orang tuanya sendiri.


"Nda au?" tanya Dinda menyodorkan sendok ke mulut Naya.

__ADS_1


"Nggak sayang, buat Dinda aja." Naya tersenyum seraya menggeleng, dan Dinda melanjutkan makannya dengan lucu.


Naya masih setia memperhatikan sampai sapaan seseorang mengagetkannya.


"Naya!"


Sontak Naya menoleh dan menatap Bagas yang berdiri tak jauh darinya.


"Bagas!" Naya membulatkan matanya terkaget-kaget melihat Bagas bisa beradi di Semarang.


Tanpa meminta ijin, Bagas duduk di hadapan Naya dan melirik Dinda dengan penasaran.


"Siapa dia Nay?" tanya Bagas dengan suara pelan.


"Anakku Gas," jawab Naya tanpa keraguan.


"Dinda salim dulu sama om Bagas." Sesuai dengan permintaan sang bunda, Dinda salim dan mendekatkan punggung tangan Bagas ke keningnya.


Bagas menelisik bocah kecil tersebut dengan seksama, tak terlihat terlalu mirip dengan Naya tapi bisa saja kan bocah ini mirip dengan sang ayah.


"Kenapa kamu tak mencari aku setelah kamu berpisah sama Radit Nay? Kenapa malah memilih orang lain untuk mendampingi kamu." Suara Bagas terdengar lirih dan frustasi.


"Maaf Gas, maaf kalo aku memberikan harapan palsu waktu itu, aku.... aku mungkin sedang bingung saat itu, dan kamu kena imbasnya."


"Nda..... udah." Dinda menyerahkan sendok ke arah Naya, dengan telaten Naya melepas celemek makan Dinda, mengelap tangan dan wajah bocah itu dengan tissue basah.


"Aku seperti orang gila mencarimu kesana kemari, tapi kamu malah asyik-asyikan dengan suami barumu." Ada emosi yang tertahan dari kalimat yang terucap dari bibir Bagas, tak sanggup ia berteriak memaki Naya karena ada bocah kecil yang memperhatikan mereka.


Naya hanya menghela nafas panjang, tak ingin membela diri dan menjelaskan kenyataan yang sesungguhnya, cukup diam dan menerima semua tuduhan itu.


Naya sengaja menghindar karena Bagas bukan pria single yang bisa menikahi dirinya seenak jidatnya, bagaimana nasib anak istrinya kalau Naya nekat menerjang semua penghalang itu.


Naya bukan ****** murahan yang menghalalkan cara untuk meraih semua keinginannya.


"Maafin aku ya Gas, aku terlalu jahat sama kamu." Naya menundukkan kepala dalam menyesali perbuatannya di masa lalu yang menorehkan luka di hati pria sebaik Bagas.


"Nda.... apek." Dinda mengeluh dan mulai ingin bikin huru-hara, namanya juga anak-anak kan, kalau sudah capek dan bosan pasti bikin orang tuanya kelimpungan.


"Maaf Gas, anakku minta pulang, sekali lagi aku minta maaf ya, salam buat istrimu."

__ADS_1


Naya membungkuk dan mendorong stroller anaknya pergi menjauh dari Bagas.


"Paling tidak aku liat kamu bahagia Nay," bisik Bagas dengan mata berair.


__ADS_2