
Tak terasa pernikahan Naya dan Samuel telah memasuki bulan ke empat, ada yang berbeda dengan keseharian Naya saat ini, dia jadi malas bangun pagi, mandi dan merias diri.
"Sayang.... kamu nggak jadi ke toko?" Samuel mengusap pipi Naya pelan.
"Nanti aja mas," sahut Naya lalu membalikkan badan memunggungi sang suami.
"Katanya minta anter aku, nanti siang aku ada praktek lho yang." Samuel ikut membaringkan diri di samping Naya.
"Sepuluh menit lagi mas." Naya kembali memejamkan mata dan tak menghiraukan Samuel yang memeluknya dari belakang.
Tak ingin menganggu Naya karena terlihat seperti kelelahan, Samuel memutuskan keluar dari kamar untuk bermain dengan Dinda.
"Yah, unda ana?" tanya Dinda setelah duduk di pangkuan sang ayah.
"Bunda masih bobok, capek, Dinda main sama ayah aja ya."
Dan seperti biasa anak manis itu menuruti nasehat sang ayah, karena baginya mau ayah atau bunda yang menemaninya main, ia tetap senang.
Menjelang makan siang Naya keluar dari kamar dengan penampilan fresh, agaknya ia tadi menyempatkan diri untuk mandi, meski belakangan hari ia merasa malas untuk mengguyur badannya.
"Dinda main apa sama ayah?" Naya mendekat lalu mengelus kepala anak gadisnya dengan sayang.
"Ain ini nda," jawab Dinda sambil mengangkat tinggi bonekanya.
Samuel menatap sang istri dan meminta tolong untuk melepaskan dirinya dari peran ibu yang menggendong boneka.
"Sekali-kali mas," ucap Naya dengan santainya, lalu meninggalkan ayah dan anak itu untuk mencari buah mangga di kulkas.
"Mbak Nur, mangga mudanya masih ada kan?" tanya Naya sambil duduk di meja makan.
__ADS_1
Samuel yang mendengar permintaan Naya menoleh dengan cepat, matanya mengerjab pelan, dalam hati bertanya apakah sang istri sedang mengidam.
"Masih bu, sengaja saya taruh di kulkas biar nggak mateng," jawab Nur mengeluarkan mangga dari kulkas dan siap mengupasnya.
"Nanti kalo habis mintain tante Rosa lagi dong mbak," pinta Naya sambil mencolekkan mangga muda itu ke sambal rujak.
Samuel mendekati Naya, dengan lembut mengusap kepala Naya.
"Kamu nggak lagi ngerasa aneh ya bun?" tanya Samuel penuh kelembutan.
"Aneh kenapa mas?" Bukannya menjawab pertanyaan suami, Naya justru balik bertanya kepada Samuel.
"Kenapa belum makan apa-apa udah minta mangga muda?" Samuel melemparkan pertanyaan lagi.
"Emang salah?"
"Bukan salah, tapi aneh, biasanya kan kamu nggak suka mangga mentah dan asem, kamu nggak lagi..... ngidam kan?"
Dengan dada berdegup, Naya menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca.
Ia baru menyadari bahwa ia terlambat datang bulan lebih dari dua minggu, kenapa ia bisa lupa sih.
"Kenapa? Sudah telat?" tanya Samuel sambil memeluk tubuh Naya dan mengusap-usap punggung itu dengan sayang.
Bukankah Samuel itu seorang dokter, dan ia pasti tahu kalau istrinya sedang dalam fase mengandung dengan kebiasaan baru.
Naya menangis tersedu, ada yang bergejolak di dalam dirinya ketika sang suami mengemukakan apa yang jadi kecurigaannya.
"Aku beliin test pack dulu ya sayang, siapa tahu kecurigaanku benar." Samuel menuntun Naya untuk duduk di dekat Dinda.
__ADS_1
"Jagain bundanya ya Nak, ayah keluar sebentar." Samuel bergantian mengeluh puncak kepala Naya dan Dinda, lalu melajukan mobilnya menuju ke apotek.
Dengan rasa yang membuncah dalam dada karena diagnosanya yang belum tentu kebenarannya, Samuel bergegas pulang ke rumah dan menyerahkan beberapa buah test pack kepada sang istri.
"Coba dulu ya, semoga apa yang kita pikirin benar-benar jadi kenyataan."
Dengan langkah lemas bukan karena degup jantung yang terus berpacu, Naya membawa test pack tersebut untuk nanti ia celupkan ke air seninya.
Tak menunggu lama, Naya keluar dari dalam kamar mandi membawa beberapa hasil test pack yang ia pakai tadi dan menyerahkan kepada Samuel, tentu dengan air mata yang berderai.
Samuel menatap ketiga test pack di tangannya, mata yang memindai itu seketika berair lalu dipeluknya Naya dengan erat.
"Ayah, nda, enapa ais?" tanya Dinda kebingungan sambil memeluk kaki kedua orang tuanya.
Samuel mengangkat tubuh Dinda lalu menciumi gadis cilik itu dengan gemas, karena dia, Samuel dan Naya diberikan berkah sebesar ini.
"Dinda mau nggak punya adek?" tanya Samuel lembut.
"Au ayah, uak." Dengan lucunya Dinda mengangkat jempol dan telunjuknya ke atas.
"Itu tujuh lho kak bukan dua," goda sang ayah sambil menciumi sang putri yang berteriak kegelian.
"Bunda istirahat ya, jangan capek-capek, besok ayah praktek malem, paginya ayah anterin bunda dulu buat check ke dokter kandungan ya."
Naya memeluk suaminya erat, ia masih tak percaya dengan rejeki yang diberikan Tuhan untuk keluarga mereka.
Rasanya kehidupannya yang sekarang penuh rahmat dan berkah, setelah tahun-tahun sebelumnya ia mengalami fase yang begitu menyakitkan dalam hidupnya.
Ternyata benar apa yang dijanjikan Tuhan untuk umatNya yang sabar, bahwa Tuhan akan mengganti semua yang kita alami asalkan kita ikhlas dan berserah.
__ADS_1
Dan saat ini Naya menuai apa yang dulu ia tabur dengan air mata, rasanya Naya bersyukur dulu tidak terjerumus untuk menjadi pelakor dalam hubungan rumah tangga Bagas.
Kalau nyatanya Tuhan mengirimkan ke dalam hidupnya sosok suami berhati malaikat yang bernama dokter Samuel Krisna.