
Naya kembali ke rumah besar tersebut, sekali lagi dia mengalah untuk kebaikan orang-orang disekitarnya.
"Nay.... hari ini aku pulang telat," pamit Radit sambil memakai baju kerjanya.
"Mau kemana?" tanya Naya datar.
"Ketemu sama klien."
"Bukan buat ketemu janda gatel itu lagi kan?" tanya Naya dengan suara ketus.
"Nggaklah Nay, aku kan udah bilang kalo aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia," terang Radit dengan suara lembut, kesabarannya memang harus lebih ekstra mengingat perbuatan bejatnya waktu itu menyakiti Naya.
"Share lokasi live mas," titah Naya tanpa mau dibantah, lalu melenggang keluar dari kamar setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Radit menatap punggung Naya dengan rasa yang terasa campur aduk, ingin marah atau komplain atas sikap Naya yang berubah terhadapnya, tapi Radit tak sanggup.
Dia yang salah, dia yang memulai semua, jadi apabila Naya belum atau tak bisa sepercaya dulu terhadap dirinya, Radit rasa ia hanya perlu bersabar dan mengalah.
Setelah selesai berpakaian, Radit lalu keluar dari kamar dan bergabung dengan Naya di meja makan.
"Kamu mau ikut aku Nay? Sekalian bantu kerjaanku," ajak Radit sambil menyuapkan sepotong roti isi kacang ke dalam mulutnya.
"Nggak ah, aku mau ke toko rotinya Reza," tolak Naya sambil menikmati sarapannya.
Mereka makan pagi dalam diam, tak ada obrolan yang berarti karena memang Naya bicara kalau diajak bicara dan diam kalau Radit tak mengajaknya berbicara.
Naya sekarang total berubah dengan Naya yang dulu, Naya yang sekarang adalah Naya yang lebih banyak curigaan dan tak percaya dengan pasangannya.
"Aku berangkat ya Nay, aku udah kirim share lokasi live ke ponsel kamu, dimanapun aku berada kamu bisa pantau," ucap Radit lalu mencium kening Naya.
"Thanks," sahut Naya pelan.
Jujur Naya tersiksa dengan situasi seperti ini, hidup penuh curiga itu tidak enak, tetapi percaya begitu saja dengan Radit lebih tidak mungkin lagi.
Benar kata pepatah yang mengatakan orang mungkin mudah memaafkan tetapi sulit untuk melupakan, ya itu yang terjadi dengan Naya sekarang.
"Mbok.... " panggil Naya ketika melihat simbok melintas di depannya.
__ADS_1
"Pripun mbak?" tanya simbok bingung tiba-tiba Naya memanggilnya.
"Duduk mbok," titah Naya lembut yang langsung dituruti sama simbok.
"Sepi ya mbok, sejak ibu nggak ada dan bapak lebih sering di rumah mbak Rania," curhat Naya.
"Iya mbak bener, rumah segede gini cuman diisi kita-kita aja."
"Kemarin-kemarin waktu aku nggak disini mas Radit gimana mbok?" tanya Naya memulai sesi wawancaranya.
Simbok gelagapan, tak mengira Naya akan menanyai dirinya tentang Radit, sudah bukan rahasia umum lagi kalau mereka sempat pisah beberapa bulan karena Radit yang ketahuan selingkuh.
Dan simbok juga tahu kalau Radit dan Naya harus pisah ranjang, Naya kehilangan janinnya dan ibu jadi sakit-sakitan karena malu atas tingkah polah anak lelakinya.
"Simbok kan setelah jam tujuh malem lebih sering di belakang nonton sinetron mbak, jadi mas Radit pulang jam berapa simbok ndak pernah tahu." Akhirnya hanya itu yang sanggup simbok ungkapkan kepada Naya.
Bukan simbok tak mau jujur kepada Naya, hanya saja simbok takut kesalahan kalau menjawab jujur, apalagi dia sudah mengabdi selama belasan tahun pada keluarga ini.
"Tapi simbok tahu kan kenapa aku sama mas Radit sampai pisah rumah?" tanya Naya.
"Simbok hanya mendengar kasak-kusuk yang nggak jelas mbak, jadi simbok nggak berani menyimpulkan apapun." Dengan mengelak seperti ini simbok jadi merasa tak bersalah terhadap Naya maupun keluarga Efendi majikannya.
"Ya udah kalo gitu mbok, aku mau siap-siap ke toko rotinya Reza," pamit Naya pergi dari hadapan simbok.
Simbok bernafas lega, di matanya Naya yang dulu lembut dan baik hati itu, entah kenapa seakan sekarang berubah menjadi sosok yang datar dan minim ekspresi.
Tak lama Naya telah bersiap dengan baju mahalnya dengan menenteng tas branded di tangannya dan pergi menggunakan mobil yang disediakan oleh Radit untuk aktivitasnya.
Kalau kalian menganggap Naya benar-benar pergi ke toko adiknya kalian salah, tujuan utamanya tentu saja kantor suaminya, untuk apa ia berdandan allout kalau hanya menjadi kasir seperti biasanya.
Tak lama ia sampai ke dealer milik suaminya yang ada di pusat kota tersebut.
Naya berjalan anggun memasuki dealer itu dengan sesekali mengulas senyum kepada beberapa staf marketing yang berdiri menyambut pelanggan yang datang.
"Selamat siang Pak Radit nya ada di kantor kan?" tanya Naya sopan kepada salah satu staf disana.
"Maaf apakah ibu sudah ada janji?" tanya wanita muda tersebut.
__ADS_1
"Bilang saja dicari Naya," jawab Naya lembut.
"Lho bu Naya," sapa salah satu manager yang tahu siapa Naya sebenarnya.
"Pak Santoso, apa kabar pak?" tanya Naya.
"Baik bu, ibu mencari pak Radit?" tanya Santoso sopan.
"Iya, suami saya ada kan pak?" tanya Naya.
"Ada bu, mari saya antarkan ke ruangan beliau."
Hampir dua tahun menikah dengan Radit, Naya jarang mengunjungi suaminya di kantor, jadi tidak heran kalau staff tadi tak mengenal dirinya, hanya beberapa orang lama yang tahu siapa Naya.
"Lho Nay kamu kok nggak bilang-bilang mau kesini?" tanya Radit kaget.
"Kenapa mas? Nggak boleh?" tanya Naya dingin.
"Bukan nggak boleh sayang, katanya tadi nggak mau ikut aku, kok tahu-tahu kesini."
"Dadakan mas, sekalian mau sidak mas Radit aja, hehehe," canda Naya santai.
Radit termangu mendengar ucapan Naya yang terdengar santai tapi sarat makna itu, benar adanya sebuah hati yang retak itu akan sulit untuk mengembalikannya seperti sedia kala.
"Kamu masih belum memaafkan aku ya Nay?" tanya Radit akhirnya, mereka kini duduk berhadapan saling tatap dengan ribuan makna yang terkandung dalam kedalaman mata keduanya.
"Memaafkan tapi belum bisa melupakan, jadi aku harap mas Radit mengerti dengan kondisiku saat ini ya," jawab Naya tegas, sisi dominan wanita itu kembali lagi seperti saat ia memimpin perusahaan dulu.
"Tapi aku benar-benar sudah berubah Nay," desah Radit tertahan.
"Ya.... aku kan nggak tahu mas, kita balikan lagi kan belum ada seminggu, selama aku nggak ada di samping kamu, kan aku nggak tahu apa yang mas Radit perbuat," ucap Naya santai.
"Aku harus melakukan apa agar kamu percaya sama aku lagi?" tanya Radit.
Naya mengedikan bahu acuh."Do nothing mas, nanti juga semesta yang akan menunjukan kebenaran setiap ucapanmu, aku harap mas Radit nggak bosen menghadapi aku yang mungkin akan semakin posesif dan curigaan, bukankah itu punishment untuk orang yang telah berlaku curang?" ancam Naya cuek.
Radit menghela nafas panjang, kalau tahu rasanya seperti ini mungkin dia tak akan berani berselingkuh di belakang Naya.
__ADS_1
Toh nyatanya wanita di depannya ini merupakan sumber berkah tersendiri untuknya, terbukti ketika Naya hengkang dari sisinya, performa perusahaan Radit terjun bebas tanpa bisa ia kendalikan.