
Naya menghela nafas panjang, pertemuan tak terduganya dengan Radit tadi tetap membekas rasa sakitnya, bohong kalau Naya mengatakan dirinya sudah melupakan Radit dan kenangan mereka.
Melihat betapa cinta yang ia puja dulu justru meluluh lantakan seluruh perasaannya bagaikan debu yang tak ada artinya lagi.
Apakah tak sedikitpun Radit melihat awal mereka bertemu dulu, sehingga semudah itu ia memalingkan wajahnya dan memuja perempuan lain selain dirinya.
Sedang termenung, sedang mengurung diri dalam kamar, tapi suara bel memanggil Naya untuk membukakan pintu.
Ceklek....
Naya terpaku menatap sosok tinggi tegap itu di hadapannya.
"Nay.... " Bagas tampak tertegun menatap Naya yang tak ingin melihat dirinya.
"Kamu ngapain kesini Gas?" tanya Naya dengan suara dingin.
"Boleh kita bicara sebentar?" Bagas meminta ijin dengan suara memohon.
Tak menjawab, Naya hanya menggeser tubuhnya dan duduk di kursi teras.
"Nay.... maafin aku." Sebuah suara lirih lolos dari bibir Bagas setelah keduanya terdiam cukup lama.
Naya menghela nafas panjang."Seharusnya aku yang meminta maaf Gas, tak seharusnya aku menyeret kamu ke dalam duniaku yang sedang berantakan ini."
"Sejak awal harusnya aku sudah membangun tembok tinggi di antara kita, karena hubungan yang ada di kepala kita itu salah meskipun mungkin apa yang ada di kepalaku dan kepalamu berbeda tapi tetap saja salah."
"Aku masih istri sah seseorang, nggak pantes aja membangun hubungan persahabatan dengan cowok manapun apalagi cowok itu suami orang lain."
"Nay.... " Bagas kehabisan kata-kata, harusnya ia tak terburu-buru seperti kemarin.
Naya yang sedang terpuruk, Naya yang sedang terluka, tak akan mudah untuk dirinya memulai hubungan baru dengan orang lain, harusnya Bagas bersabar dan menemani Naya untuk mengobati semua lukanya.
"Jadi aku rasa kamu sudah tahu kan Gas, kalo kita tak bisa melanjutkan hubungan ini, ya meskipun bagiku kamu tak lebih dari seorang teman," ucap Naya dengan suara lembut tapi penuh penekanan di dalamnya.
"Aku tak akan menyerah Nay, aku akan menunggu sampai hatimu sembuh."
"Jangan buang-buang waktumu menunggu aku Gas karena aku nggak tahu sampai kapan aku bisa menerima orang lain dihidupku lagi."
"Sekarang pergilah, aku lagi pengen sendiri." Naya berlalu dan menutup pintu di belakangnya.
__ADS_1
Ada yang terasa teremas di dalam dada sana, sakit yang tak berdarah tapi membuat dia tak bisa bernafas dan..... sekarat.
***
Keesokan harinya Bagas kembali menyambangi Naya di toko roti milik Reza, sempat mendatangi rumah Naya dan ternyata dalam keadaan kosong.
Bagas harus gerak cepat untuk meluluhkan hati Naya karena jadwal terbangnya tak selalu dari dan ke Jakarta, waktu yang ia punya tentu tak banyak.
Naya sudah duduk di balik meja kasir, melayani pembeli dengan ramah, senyum yang jarang Bagas dapatkan itu kembali muncul di wajah gadis pujaannya.
"Mbak aku mau ke cabang ya." pamit Reza kepada Naya.
"Chef Arjun ada kan Za?" tanya Naya.
"Ada, kenapa mbak?"
"Aku ikut kamu aja deh, toh ada chef Arjun yang bisa handle di sini."
Reza mengernyitkan kening heran dengan tingkah Naya, lalu mengangguk saja ketika tatapan mata! Naya terlihat seperti memohon.
Mereka kini telah memiliki mobil SUV keluaran tahun lama untuk kendaraan operasional mereka, karena mereka benar-benar butuh kendaraan, ya meskipun mereka harus mengambil beberapa perhiasan simpenan Naya.
"Hmm," jawab Naya singkat.
"Cerita kalo memang berat, jangan semua dipikirin sendiri mbak," tegur Reza lembut.
"Kamu punya aku lho mbak." Akhirnya Reza kembali mengeluarkan suara setelah Naya terdiam dan tak menimpali perkataannya.
"Aku bingung Za, aku ngerasa jadi orang jahat." Suara Naya terdengar lirih dan wajahnya tertunduk dalam.
"Kenapa bisa begitu mbak?" tanya Reza tak mengerti arah pembicaraan Naya.
"Aku menyeret orang lain dalam kubangan masalahku."
"Masalah yang mana dan siapa yang mbak Naya seret?" tanya Reza bingung.
Dan pertanyaan Reza hanya sebuah pertanyaan yang tak mendapat jawaban Naya sampai mereka tiba ke tempat tujuan bahkan sampai kembali ke cabang utama.
Naya masuk ke dalam toko roti dan mendapati Bagas sudah menantinya.
__ADS_1
Naya membeku, sedang Reza hanya melirik respon Naya terhadap teman sekolahnya tersebut.
Setelah mengangguk pelan, Reza masuk ke belakang meja kasir untuk menggantikan karyawannya yang berjaga disana.
"Nay.... " panggil Bagas setelah Naya duduk di hadapannya.
Naya memilih acuh tak acuh terhadap Bagas dan menatap keluar melalui kaca jendela besar di sampingnya.
"Nay... " Setelah panggilan ketiga baru Naya mengalihkan pandangannya ke Bagas.
"Aku nggak sering ke Jakarta lho, masak ketika aku disini kamu nggak mau aku ajak bicara." Nada suara Bagas terdengar frustasi.
"Kita kan udah ketemu, udah bicara, lalu apalagi yang dipersoalkan?" Akhirnya suara itu keluar juga dari bibir tipis itu.
"Aku mau kamu maafin aku."
"Aku udah maafin kamu, terus mau gimana lagi?" tantang Naya dengan suara dingin.
"Bener udah maafin aku?" cecar Bagas.
"Iya, kita berteman bukan? Dan aku udah maafin kamu, aku juga minta maaf kalo membawamu ke pusaran problematika hidupku."
"Nay... "
"It's enough Gas, aku udah maafin kamu, dan yah.... selesai kan, terus mau kamu gimana?" tantang Naya membuat Bagas membisu.
Bukan itu yang dimaksud Bagas, dia ingin memulai hubungan yang layak dengan kamu, seorang wanita yang telah mencuri hatinya bahkan ketika ia masih remaja dulu.
"Kamu tahu yang aku mau Nay," ucap Bagas akhirnya.
"Dan maaf aku nggak bisa, baik itu sekarang ataupun nanti ketika statusku telah sendiri," tolak Naya tegas.
"Nay... please," pinta Bagas memelas.
"Maaf Gas, lukaku mungkin nggak akan sembuh sampai nanti, jadi aku ingin menyembuhkan semua luka yang ada disini..... sendiri." Naya bangkit berdiri dan mempersilakan Bagas untuk pergi.
Bagas bangkit berdiri dan sebelum kakinya melangkah keluar dari sana dia berucap dengan tegas," Sampai kapanpun aku akan menunggu kamu sembuh."
Lalu tubuh tegap itu menghilang dari pandangan Naya.
__ADS_1