Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 37 : Jangan salahkan aku


__ADS_3

Disini Naya akhirnya berada, di sebuah tempat makan mewah bersama seseorang pria yang tak pernah ia duga mengisi kembali hari-harinya yang kosong.


Dulu sekali Naya pernah tertarik dengan Bagas, ya hanya sejauh itu, karena perasaan bocah SMP itu tak mungkin seserius itu kan?


Buktinya ketika mereka lulus sekolah dan tak pernah bertemu lagi, rasa itu dengan sendirinya tersisih dan memudar.


Andai sekarang rasa itu kembali, rasanya tak mungkin kalau rasa itu masih rasa yang sama yang mereka miliki ketika mereka SMP dulu.


"Besok aku terbang ke Makasar, ikut yuk Nay, kita extend dua hari lalu kembali lagi ke Jakarta" ajak Bagas lembut.


"Mau ngapain aku ikut kamu Gas?" sahut Naya terkekeh pelan, jelas meledak ajakan Bagas yang tidak pada tempatnya itu.


"Liburanlah, jalan-jalan, refresing, something like that" jawab Bagas mengedikan bahu.


"Nggak ah, sayang buang-buang duit aja!" tolak Naya halus.


"Kamu cukup bawa badan aja Nay."


"What! Gimana maksudnya?" pekik Naya dengan mata melotot, bayangan jelek melintas tanpa diminta dalam otaknya.


Bagas terkekeh pelan."Maksud aku, kamu nggak usah mikir biaya, biar aku yang tanggung."


"Nggak ah Gas, nggak mau aku, takut ngrepotin kamu."


"Aelah santai aja kali, aku dapet bonus gede sekali nerbangin pesawat kok, kalo cuman buat makan ama hotel kamu pasti cukup bahkan lebih," bujuk Bagas tak mau menyerah.


Naya masih tetap menggeleng, rasanya tak elok kan bepergian keluar kota bahkan keluar pulau dengan pria lain yang tak ada status apa-apa dengannya bahkan harus menginap pula.


"Ayolah Nay, just for fun, Jalan-jalan, makan lalu pulang."


Naya menyeruput kopinya santai, menatap Bagas yang tetap memperhatikannya tanpa kedip, membuat hatinya yang rapuh dan butuh pegangan itu mendadak goyah.


Baru saja mulut Naya ingin menolak lagi ajakan Bagas, tak jauh dari tempatnya duduk, melintas Radit dan Nindya berjalan dengan bergandengan tangan mesra.


"Fu**!" maki Naya mengejutkan Bagas.


Bagas memalingkan wajahnya menatap kemana mata Naya tertuju, sepasang pria dan wanita sedang berjalan dengan mesra.


"Siapa Nay?" tanya Bagas mengalihkan atensi Naya.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa, nggak usah!" sahut Naya acuh.


"Tapi kenapa atensi kamu keliatan gede banget gitu?" tanya Bagas yang tak diindahkan oleh Naya, justru wanita itu menyesap jus jeruknya hingga tandas lalu memanggil pelayan untuk memesan minuman lagi.


"Haus banget Nay?" sindir Bagas curiga kalau cowok tadi pasti suami Naya yang sedang berselingkuh dengan Naya, bukankah waktu Naya sempat membocorkan kepadanya meski tidak banyak.


Keduanya akhirnya terdiam cukup lama, Naya terlihat asyik memainkan ponselnya bahkan sekali-kali memutarnya dengan menggunakan dua jarinya.


"Who's the guy?" tanya Bagas.


Berhasil, Naya mengangkat wajahnya dan menatap mata Bagas dengan dalam."My husband!" jawab Naya lirih setelah menimbang beberapa saat.


"What the... " Bagas menutup mulutnya dengan kedua tangan dan tak melanjutkan kalimatnya.


"Apa yang terjadi Nay?" tanya Bagas penasaran.


"Ya seperti yang kamu lihat Gas, dia selingkuh.... dua kali, i mean dengan dua wanita, kita pisah ranjang dan aku.... aku mungkin akan gugat cerai dia."


"Seriusan Nay, kamu.... diselingkuhi? Sama dia! Anjay!" pekik Bagas kaget.


"Yes i am."


"I don't know." Naya mengedikkan bahu acuh, rasanya sudah tak sesakit dulu, mungkin dirinya sudah mulai ikhlas dan menerima takdir.


"Gilak! Cewek kayak kamu, kurangnya apa?"


"Aku nggak tahu, kadang aku mikir aku salah apa, kurangku apa?"


"Selingkuh itu tidak melulu karena kekurangan pasangan sih Nay, dan kadang selingkuh tidak perlu alasan Nay, ya semua karena ada kesempatan dan ketemu yang pas aja yang kebetulan mau diajakin main api."


"Semudah itu ya Gas?"


"Iya semudah itu!"


"Jadi kapan kamu akan berangkat ke Makasar?"


"Besok lusa, kenapa?"


"Aku terima tawaran kamu, kayaknya bener aku memang harus healing."

__ADS_1


Bagas tersenyum lebar mendengar perkataan Naya itu, tentu ada yang bersorak di dalam dada sana.


***


Hari ini senja telah menyapa, Naya berjalan kaki menyisir sepanjang pantai ini menikmati panoramanya yang cantik karena semburat jingga mentari yang turun ke peraduan.


Suasana semakin meriah dengan kedai-kedai makanan tradisional khas kota ini yang berjejer menawarkan dagangannya.


"Mau makan apa Nay?" tanya Bagas yang sejak tadi berjalan di samping Naya, keduanya berjalan dalam diam.


"Aku belum lapar Gas."


"Ngemil dulu aja ya, mau apa? Kue ape atau pisang bakar keju?"


Naya mengedikkan bahu, mempersilakan Bagas yang memilihkan makanan untuknya.


Sebenarnya kota ini bukan kota yang asing untuk Naya, dulu ketika ia masih remaja, ia bahkan beberapa kali mendatangi tempat ini, bahkan mungkin hampir semua tempat di seluruh Indonesia pernah ia jelajahi.


Naya dengan kekayaannya orang tuanya, tentu bukan perkara sulit bukan untuk mengunjungi suatu daerah?


Jadi kalau saat ini ia menerima ajakan Bagas mengunjungi tempat ini, semata-mata bukan karena Naya tertarik karena belum pernah berkunjung kesana, melainkan Naya hanya ingin menghilang sejenak dan melepaskan semua beban yang menyesakkan dadanya.


Mereka memasuki salah satu tenda yang berada di dekat mereka, dan duduk berdampingan, suara ramah pedagang menyapa mereka membawa atmosfer sendiri untuk Naya.


"Lagi bulan madu ya mbak mas?" tanya pedagang tersebut mencoba mengajak bicara kepada pelanggannya, bukankah negara Indonesia adalah negara yang terkenal dengan keramahtamahan penduduknya bukan, maka tak heran kalau orang-orang disinipun ramah menyapa para pendatang.


"Iya bu." Bagas mengedipkan mata meminta Naya tak memprotesnya biar tak lagi banyak pertanyaan yang menyusul.


"Serasi banget, ganteng sama cantik," puji si ibu membuat Naya dan Bagas meledakkan tawa.


Ingin Naya meneriakkan kepada si ibu bahwa Bagas bukan pasangannya, hanya teman SMP yang kembali didekatkan karena keadaan.


Tak berlama-lama di warung tersebut, Naya dan Bagas kembali menyusuri pantai itu, entah keberanian dari mana Bagas tiba-tiba meraih tangan Naya dan menggenggamnya lembut.


Naya menghentikan langkah, wajahnya menunduk melihat tangan yang menggenggamnya itu dan ingin menarik tangannya dari genggam itu, tapi suara bariton itu menahan niatnya.


"Nggak papa kan Nay?"


Naya menatap kedalaman mata dengan iris hitam itu, lalu mengulas senyum tipis, dan mereka kembali melangkah dengan tangan tetap terpaut.

__ADS_1


__ADS_2