
Naya kembali beraktivitas seperti biasa, tak ada gurat kesedihan atau tertekan di wajahnya seperti saat ia pertama kali mengetahui perselingkuhan Radit.
Pagi ini Naya sudah berada di dapur rumah minimalis milik Reza, rambut panjangnya ia cepol tinggi dan ia hanya menggunakan daster dibawah lutut tanpa make up sama sekali.
"Lagi ngapain mbak?" tegur Reza yang baru keluar dari kamar tidurnya dan mendapati sang kakak sudah berada di depan kompor meski hari masih terbilang cukup pagi.
"Bikin sarapan Za." Naya menoleh sesaat lalu menatap kembali panggangan di depannya.
"Are you oke kan mbak?" tanya Reza hati-hati, ia terlampau memikirkan kondisi kakaknya yang mendapatkan musibah bertubi-tubi itu.
"Sudah berapa kali ya Za kamu tanya aku oke atau nggak?" Naya mengucapkan pertanyaan itu tanpa menatap Reza, karena Naya tahu meski dia menyimpan serapat mungkin perasaannya, Reza pasti secepat kilat mengendus apa yang ada di kedalaman hatinya tersebut.
"Aku cuman khawatir aja mbak." Hanya gumaman yang Reza ucapkan karena dia tidak ingin menyinggung perasaan sang kakak.
"It's oke Za, aku baik-baik saja." Naya membalikkan badan menghadap Reza (memasang wajah tenang) bertepatan dengan masakannya yang telah matang.
Reza mencari luka di kedua mata bening Naya, meskipun Reza tak melihat hal yang ditakutkannya, Reza justru melihat kemarahan yang sengaja Naya bungkus dan disembunyikan hanya untuk dirinya sendiri.
"Yuk sarapan dulu." Naya meletakkan dua gelas jus jambu merah dan juga dua piring omelet dengan sayuran.
"Sehat bener sarapan kita pagi ini mbak?" protes Reza mulai menyantap makanannya.
"Nggak usah banyak protes Za, kita emang kudu sehat dan kuat buat ngejalanin hidup kita yang sekarang, balas dendam kan juga butuh tenaga." Dengan santai Naya berucap membuat Reza tersedak makanannya yang belum sempurna melewati tenggorokannya.
"Kenapa kamu kaget gitu?" Naya mengeryitkan kening bingung.
"Maksud mbak Naya balas dendam itu apa?" tanya Reza horor setelah menenggak jus hingga habis hampir separo.
Naya mengedikan bahu acuh, bahkan ia belum menentukan pembalasan seperti apa yang akan ia jatuhkan kepada mereka yang telah menyakitinya.
"Jangan aneh-aneh ya mbak." tegur Reza lembut, dia tak ingin menasehati kakaknya dengan kata-kata kasar.
"Tenang aja Za, aku cuman becanda."
Reza melepaskan semua oksigen dalam paru-parunya, ada sesak yang tak bisa ia utarakan dengan kata-kata, bahkan dia tahu apa sebenarnya yang Naya rasakan.
"Nanti aku ikut ke toko ya Za, bosen kalo di rumah terus." Naya membersihkan sisa sarapan mereka dan membawa gelas dan piring kotor ke wastafel dan mencucinya.
"Ayo aja kalo mbak Naya nggak capek." Reza justru bahagia kalau Naya mau keluar melihat dunia luar daripada harus terpuruk di dalam rumah meratapi rumah tangganya yang berantakan.
__ADS_1
Tak lama mereka telah bersiap dan seperti biasa untuk menuju ke toko roti milik Reza mereka berboncengan naik sepeda motor.
Sebenarnya usaha Reza sudah mengalami peningkatan penjualan, tapi untuk mengambil dana dan membeli mobil rasanya masih terlalu berat untuk mereka.
Turun dari boncengan Reza, Naya langsung melangkah menuju ke dalam toko roti, meletakkan tasnya dalam loker lalu mulai menyusun roti di tempatnya masing-masing.
Syukurlah mereka bisa menambah satu lagi pegawai sehingga mereka bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.
Bahkan sejak Naya bergabung bersama mereka, Reza memutuskan untuk menerima pembelian dengan sistem delivery.
Pintu kaca itu terbuka, ada pelanggan masuk dan langsung memilih beberapa roti untuk dibawa pulang, Naya langsung melayani langganan itu dengan ramah.
Toko yang ramai membuat Naya sejenak melupakan semua masalahnya.
"Naya.... kamu Kanaya Thalia kan?" sapa seorang cewek berhijab yang terlihat modis itu menyapanya.
Naya mengeryit menatap lekat wanita cantik itu dan memutar memori di otaknya untuk mengingat sosok itu, dan hasilnya.... nihil, Naya tak mengingatnya sama sekali.
"Gue Sheila temen SMP lo Nay, lupa ya?"
"Sheila.... Sheila yang dulu duduk di belakang gue?" tanya Naya lalu bergegas keluar dari meja kasir dan memeluk Sheila dengan erat.
Naya menggiring Sheila untuk duduk di salah satu kursi yang berada di sana.
"Maaf La, gue beneran lupa." Naya meringis mengakui kemampuannya yang tak mudah mengingat seseorang apalagi kalau mereka telah berpisah lama.
"Iya nggak papa, lo kerja disini Nay?" tanya Sheila.
"Iya bantu-bantu usaha adek." Naya mengangguk pelan.
"Lo apa kabar Nay? Astaga gue nggak nyangka bisa ketemu lo disini." Decak Sheila dengan wajah berbinar.
"Baik La, lo gimana kabarnya?"
"Gue juga baik Nay, kami turut prihatin dengan musibah yang menimpa lo ya Nay." Sheila menggenggam tangan Naya lembut.
"Kami ingin membantu tapi bingung gimana caranya," lanjut Sheila tulus.
"Iya nggak papa La, sudah selesai juga dan udah berlalu," ucap Naya pelan.
__ADS_1
"Oh iya Nay, lo inget Utami nggak?" tanya Sheila mengingat tujuannya mencari Naya.
"Utami? Utami yang mana?" Naya balik bertanya karena kemampuannya mengingat orang di masa lalu memang buruk, apalagi ini teman SMP yang terpisah puluhan tahun yang lalu.
"Utami yang mau di DO dari sekolah karena tak mampu membayar SPP lalu lo lunasin uang sekolahnya sampai dia lulus, Lo lupa?" ucap Sheila speechless.
"Maaf La, gue nggak ingat." Naya menggeleng pelan.
"Astaga, Naya!" Derai tawa Sheila terdengar melihat Naya yang benar-benar melupakan seseorang yang pernah dia bantu dulu.
"Emang Utami kenapa La?" tanya Naya menjadi penasaran dengan nama yang di sebut Sheila.
"Utami kan sekarang kerja di US sana, pekerjaannya mantep banget deh, nah dia kan dalam waktu dekat akan pulang ke Indo dan ngajak kita buat reunian, hanya kelas kita aja kok, dan dia minta lo harus dateng," terang Sheila.
"Wah hebat dong, tapi La, gue udah banyak yang lupa, selain lo hanya Dara teman sebangku gue yang gue inget yang lainnya... lupa." Naya nyengir memperlihatkan barisan gigi putihnya yang berjejer rapi.
"Pokoknya lo mesti dateng, kalo lo nggak dateng Utami juga cancel acara ini." ancam Sheila galak.
"Emang kapan sih acaranya?" tanya Naya akhirnya tak enak hati kalau menolak undangan teman yang mungkin tak bisa sering kembali ke tanah air itu.
"Sabtu ini."
"Astaga dadakan banget sih! Dimana dan jam berapa acaranya?" tanya Naya heboh sendiri.
"Di hotel Venus jam tujuh malem, lo nanti tanya aja ya sama embak resepsionisnya nama ruangannya."
"Ada dresscode-nya nggak?" Naya memastikan.
"Pakai batik aja."
"Oke aku usahain dateng La."
"Harus dateng, daripada Utami nggak jadi traktir kita." sahut Sheila sambil terkekeh.
"Oke gue bakalan dateng." putus Naya akhirnya.
"Ya udah Nay, gue mau balik dulu ya, jangan lupa jam tujuh di Hotel Venus Sabtu ini."
Lalu Naya melepaskan kepergian Sheila dan ketika Sheila sudah berlalu Naya menghembuskan nafas kasar, dia paling tidak suka ada di keramaian, baik itu dulu apalagi sekarang, apalagi kali ini teman yang dulu sempat ditolongnya mengundang secara khusus.
__ADS_1