Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 29 : Radit dan segala tipu dayanya


__ADS_3

"Kenapa muka lo kayak kertas dibejek gitu sih Dit?" tanya Feri setelah duduk di hadapan Radit, mereka ada janji temu untuk makan siang hari ini.


"Pusing gue Fer," desah Radit sambil mengusap tengkuknya pelan.


"Kenapa? Nindya lagi?" tebak Feri dengan kening berlipat.


"Naya."


"Kenapa dengan Naya?" tanya Radit bingung, bukankah Radit harusnya senang karena Naya memberikan kesempatan kedua.


"Bawaannya curigaan mulu ke gue sekarang, hp gue di hack dan kudu share loc live," gerutu Radit kesal.


Tawa Feri pecah mendengar gerutuan Radit tersebut, suara tawanya yang kencang menyebabkan orang yang ada di sekitar mereka ikutan menoleh ke arah mereka karena penasaran.


"Wajarlah, habis lo selingkuhin kayak gitu mana bisa Naya langsung percaya sama lo lagi seratus persen, mau balik lagi aja udah kudu bersyukur lo!"


"Sialan lo!" maki Radit kesal.


"Ngaku Dit, apa sih yang bikin lo tertarik segitunya sama Nindya? Cakep juga kagak biasa aja kalo menurut gue. Jujur gue aja nggak begitu napsu lho ama dia, kalo gue disuruh milih sambil merem aja gue udah pasti milih Naya, nah lo melek malah milih dia dibandingkan Naya."


"Goyangannya itu lho Fer, mantep banget," puji Radit sambil cengegesan.


"Ya kalo gitu kenapa nggak lo nikahin aja kalo lo cuman perlu goyangan doang mah," tantang Feri santai.


"Ya nggak bisa gitu juga sih, kalo nyatanya gue juga perlu Naya dalam hidup gue."


"Jadi cowok jangan kemaruk Dit, dalam hidup harus ada yang lo prioritasin."


"Nah ini gue lagi prioritasin Naya dengan meminta dia balik, ya meskipun gue harus sabar karena dicurigain sama dia."


"Jadi puasa dong?" tanya Feri kepo yang dijawab cengiran santai oleh Radit.


"Gila lo ya?!" maki Feri kesal.


"Hush!" Radit meletakkan telunjuknya di bibirnya menyuruh Feri untuk diam.


"Jujur ama gue, selama lo pisah rumah ama Naya lo masih berhubungan kan sama tuh cewek, malah gue liat lo juga lirak lirik sama SPG lo yang masih muda itu."


"Hush! Jangan kenceng-kenceng lo!" tegur Radit frustasi dengan suara Feri yang kayak toa itu.

__ADS_1


"Apa lo nggak takut kualat sih Dit? Naya kan yatim piatu, udah gitu gara-gara kelakuan lo, kalian sampai kehilangan calon anak, ibu lo juga sampai meninggal mikirin lo.... "


"Cckk ngapain sih lo ingetin, gue juga tahu gue salah nggak perlu juga lo ungkit-ungkit, tapi gue kan cowok normal Fer, wajarlah kalo gue agak nakal dikit, namanya juga cowok!" potong Radit tak terima ditegur sama Feri.


Feri membuang nafas kasar, memang ia juga mengakui kalau dirinya juga baji**an, suka main perempuan, tapi status dirinya kan memang masih single, misal dia sudah memutuskan menikah apalagi istrinya cewek malaikat kayak Naya pasti Feri akan bersimpuh di bawah wanita itu dan anteng di rumah.


Sedangkan Radit yang telah menerima anugerah segede itu, malah seakan tak peduli dan menyia-nyiakan istri sebaik Naya.


Kadang takdir memang se menggelikan ini sih, orang yang telah diberi berlian, malah membuangnya dan memilih memunggut batu imitasi yang harganya tak sampai lima ribu perak yang dijual dipasaran.


"Naya telpon," ucap Radit sambil terkekeh menertawakan kelakuan Naya yang menggelikan ini.


Feri terdiam, membiarkan Radit menerima telpon dari Naya, dan Feri memilih menikmati makan siangnya yang sudah dingin karena kebanyakan berdebat sama Radit tadi.


"Halo sayang," sapa Radit dengan suara yang dimanis-manisin.


"__"


"Lagi makan siang sama Feri, kenapa sayang?"


"__"


"__"


" Kami minta Feri difotoin?"


"__"


"Oke sayang, nggak masalah."


Lalu Radit mengarahkan ponselnya ke arah Feri dan mengambil gambar temannya yang baru makan tersebut dan mengirimkannya kepada Naya.


"Udah aku kirim fotonya biar kamu tenang, aku nggak akan selingkuh lagi sayang." Janji Radit dengan nada sungguh-sungguh tapi berbeda dengan raut mukanya yang terlihat mengejek Naya.


"__"


"I love you Nay."


"Heran gue sama lo, bini sebaik dan se perhatian itu masih kurang aja Dit," ucap Feri di sela-sela dia mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Udahlah Fer, gue nggak butuh ceramah lo!" ketus Radit kesal karena ocehan Feri yang terdengar menyebalkan di telinganya.


"Semoga saja Naya nggak tahu kelakuan lo sebenarnya dan benar-benar memutuskan pergi dari hidup lo Dit, karena gue tahu lo bakalan nyesel nanti," nasihat Feri bijak.


"Cerewet!"


"Dan jangan heran kalo banyak cowok yang antri buat memperistri dia kalo tahu Naya sudah jadi janda." Kekeh Feri menggoda emosi Radit.


"Termasuk lo?" tanya Radit datar.


"Ya mungkin, itupun kalo Naya mau sih," gurau Feri


"Masak lo mau pakai bekas gue?" Radit mencibir Feri dengan kesal.


"Emang kenapa kalo bekas lo? Lo pakai bekas gue dan bekas orang banyak aja mau."


"Maksud lo?!" tanya Radit dengan alis bertaut.


"Oh come on, lo pikir Nindya belum pernah gue pakai? Jangan naif deh lo Dit, dia mah udah jadi piala bergilir kali ke temen-temen yang lain," jawab Feri cuek.


"Lo!?" Telunjuk Radit mengarah ke wajah Feri, lalu dia tarik kembali.


"Makanya jangan main hati sama cewek begituan, dia yang menghancurkan rumah tangga lo, kok bisa-bisanya lo masih anteng aja jalanin hubungan lo sama dia, kalo gue sih ogah."


Radit terdiam, Feri tidak mengerti dan bakalan tidak mengerti meskipun Radit menjelaskan sedetail-detailnya, mau seburuk apapun Nindya, tapi Radit benar-benar tak bisa meninggalkan Nindya, karena dengan Nindyalah kepuasan batin Radit terpenuhi.


"Jangan bilang lo sudah terperangkap sama Nindya Dit, inget Nindya memang hot di ranjang, tapi lo bisa kok cari modelan cewek kayak dia diluaran sana, gue cuman mau ngingetin jangan sampai lo menyesal." Feri kembali menyantap makan siangnya dan segera berlalu dari hadapan Radit.


Radit menatap punggung sang sahabat yang pergi menjauh, Radit paham kalau karena Nindya lah ia kehilangan anak yang dikandung oleh Naya, dan juga karena Nindya lah ibunya meninggal dunia, tapi.... sungguh entah kenapa dia tak bisa meninggalkan Nindya.


Apa mungkin ia sudah jatuh cinta sama Nindya? Radit menghembuskan nafas kasar menyadari hal itu mungkin saja yang ia rasakan.


Ponsel Radit yang satunya berbunyi dari dalam saku celana, Radit menerima panggilan tersebut dan tersenyum mendengar suara manja dari seberang sana.


Demi ketenangan bersama Radit memang mempunyai ponsel dengan nomor lain untuk berhubungan dengan para selingkuhannya untuk mengelabui Naya.


Radit segera keluar dari restoran tersebut setelah mengetahui Feri telah membayar makanan mereka.


Wajah muram itu kembali berseri membayangkan apa yang menunggunya di apartemen tak jauh dari kantornya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2