Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 36 : Rasa yang berbeda


__ADS_3

Naya kembali menjalani rutinitas seperti biasanya, mengurus rumah tangga di pagi hari dan ketika siang menjelang dia akan bergegas membantu Reza mengelola toko rotinya.


Tak banyak yang bisa Naya lakukan saat ini, untuk menepis semua kegalauan yang terus menggerogoti perasaannya, hingga ia memutuskan untuk menyerah atau bertahan.


Menyerah yang berarti menjemput kebebasan dan menyandang status baru sebagai seorang janda yang sampai sekarang masih mendapat stigma buruk di masyarakat atau bertahan yang berarti ia harus menerima Radit dengan semua kesalahan masa lalunya yang artinya Naya masih sah sebagai istri Radit, masih memiliki status yang baik dan juga siap untuk berbagi suami kembali.


Ting.... sebuah notifikasi chat masuk ke ponsel Naya, segera Naya mengusap layarnya dan mendapati chat dari Bagas.


'Hai Nay.... selamat pagi, aku udah nyampai London, Sabtu ini aku ada schedule flight ke Indo lagi, ketemuan yuk'


Naya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan bergumam lirih untuk dirinya sendiri. "Kok kayak orang pedekate gini sih, setiap saat ngasih kabar ke gue, jangan bikin hati gue yang sedang patah hati ini meleleh bang, apalagi situ masih punya bini."


Karena tak tahu harus menjawab apa Naya hanya meletakkan ponselnya begitu saja dan melanjutkan aktivitasnya.


Dan saat semua tugas di rumah telah selesai, Naya lalu bersiap untuk menuju toko rotinya Reza, pas Naya mengunci pagar rumahnya kebetulan sekali Radit kembali menghubungi dirinya.


Dengan kesal Naya memutuskan memblokir kontak Radit yang terus menganggunya disaat seharusnya Naya berfikir untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk mereka.


Segera Naya berlalu menuju tempat usahanya dan ketika kakinya baru menginjak lantai di dalam toko tersebut, ada seseorang mengikuti di belakangnya.


"Heh Naya!" teriak seorang wanita yang membuat Naya menoleh.


"Elo!" Jari lentik Naya menunjuk muka wanita yang tak tahu malu dengan mendatanginya.


"Heh.... lo tuh nggak tahu malu banget ya? Udah dilepeh sama Radit ya udah pergi sana yang jauh dan lepasin Radit, jangan lo gantung kayak gini! Biar gue sama Radit bisa nikah dan melanjutkan hidup kami!" teriak Nindya dengan emosi.


Naya melotot, ini cewek sudah merebut suami orang tapi masih punya muka untuk melabrak istri sahnya.... astaga jaman memang sudah berubah ya, pelakor justru semakin di depan dan semakin tak tahu malu.


"Heh.... jala**! Lo nggak usah nyolot ama gue, nggak malu apa lo yang rela ngang**** ke suami gue, lo juga berani nunjukin muka lo di depan gue!" desis Naya dengan suara tertahan.

__ADS_1


"Lo yang nggak tahu malu, udah letoy nggak bisa muasin suami kok lo yang tetap ngeyel dan nggak mau pergi-pergi, matre ya karena lo sekarang miskin," ledek Nindya meremehkan.


"Heh.... gue bukan lo*** kayak lo ya yang rela ngang**** karena silau sama harta orang!" desis Naya emosi.


"Halah banyak bac** lo!" maki Nindya tak tahu malu.


"Oke karena lo nantangin gue, harusnya dalam waktu dekat ini gue udah mau ngajuin gugatan cerai gue ke pengadilan, tapi karena lo lancang dengan dateng kesini, sekalian aja gue gantung masalah ini, biar aja lo juga digantung ama cowok brengsek itu!" teriak Naya membuat Reza dan yang lainnya keluar dari dapur karena keributan ini.


"Sekarang keluar! Keluar kata gue!" teriak Naya emosi, tubuh Naya bergetar hebat menahan amarahnya.


"Mbak... mbak Naya baik-baik saja?" tanya Reza memeluk sang kakak, untung saja suasana toko lagi sepi sehingga keributan ini tak menjadi konsumsi publik.


"Ayo duduk dulu mbak, pak tolong ambilin mbak Naya minum!" perintah Reza pada salah satu karyawannya.


Tak lama Dimas keluar membawa air putih hangat dan mengangsurkannya pada Reza.


"Diminum mbak." Reza menyodorkan gelas ke tangan Naya yang masih terlihat gemetaran.


"Kenapa sih mbak? Tadi siapa mbak?" tanya Reza.


"Selingkuhannya Radit," jawab Naya enggan.


"Lho bukannya mas Radit.....sama karyawannya?" tanya Reza bingung karena setahu dia Radit berselingkuh dengan salah satu SPG yang bekerja di dealernya.


"Itu selingkuhan pertamanya dan kayaknya masih berhubungan sampai sekarang."


"Jadi udah bulat buat pisah sama mas Radit mbak?" tanya Reza menggenggam tangan Naya lembut sekedar memberi kekuatan.


Naya menggeleng "Ntar aja, mau mainin mereka dulu."

__ADS_1


"Maksud mbak Naya?" tanya Reza dengan kening berkerut.


"Awalnya emang pengen cepetan kelar, tapi... berhubung pelakor itu berani ngelabrak aku, jadi.... apa salahnya kalo membuat status mereka ngegantung dulu."


"Mbak...!" tegur Reza pelan.


"Nggak Za, aku nggak akan kenapa-napa, kamu tenang aja ya." Naya menepuk pipi Reza dengan lembut.


Pembicaraan keduanya terhenti karena ada pelanggan yang masuk ke dalam toko mereka, Naya dengan cekatan melayani mereka dan sejenak melupakan kejadian yang baru saja menimpanya.


Lalu ketika Naya kembali melamun, tiba-tiba Bagas menghubungi dirinya lagi, entah setan daripada pikiran balas dendam kepada Radit dan Nindya melintas begitu saja, dan Naya akan memanfaatkan cinta Bagas untuknya.


"Hallo Gas," sapa Naya renyah.


"__"


"Sorry aku sibuk terus, eh akhirnya lupa mau balas chat kamu, kamu masih di London?"


"__"


"Oh oke, safe flight ya Gas."


"__"


"Iya tentu, nanti kabarin aja ya kalo udah landing di Jakarta."


"__"


"Bye Gas."

__ADS_1


Naya si wanita cantik yang bersahaja itu, yang biasanya bisa mengendalikan diri dan melakukan sesuatu yang bijaksana, tetapi hari ini ketika hati tak lagi bisa berbicara karena terlalu sering disakiti, Naya memutuskan untuk membalas perlakuan orang-orang yang menyakiti dirinya.


Entah seperti apa balas dendam itu akan ia lakukan, Naya hanya ingin menikmati rasa yang berbeda di dalam hatinya.


__ADS_2