Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 26 : Wasiat ibu


__ADS_3

Sejak kedatangan Rania beberapa hari yang lalu, Naya kembali termenung dan mengingat semua masalah yang menimpa rumah tangganya.


Hampir lima bulan pisah rumah, Naya bahkan sama sekali belum bertemu dengan Radit untuk menyelesaikan masalah yang terjadi diantara mereka.


Bukan Radit yang tak ingin bertemu, Nayalah yang memilih untuk tak mempedulikan suaminya tersebut, dikarenakan Naya sendiri belum sembuh dari rasa sakit hatinya dan belum tahu apa yang akan ia lakukan kedepannya.


Mengakhiri atau melanjutkan pernikahannya, dua hal yang sama-sama sulit ia putuskan karena memiliki tanggungjawab yang besar.


Ibarat paku yang telah ditancapkan kepada kayu, meskipun paku itu dicabut tetap saja akan meninggalkan lubang pada kayu tersebut bukan?


Begitu juga dengan Naya, meskipun Radit meminta maaf kepadanya, tetap saja ada rasa tak percaya yang akan terus menghantui Naya yang nantinya akan mempengaruhi kehidupan rumah tangga mereka.


Bukankah hal itu yang justru akan semakin melukai Naya dan Radit pada akhirnya?


"Mbak Naya baik-baik saja?" tanya Reza ketika melihat Naya duduk terbengong sambil memutar gelas di depannya.


"Za.... apa yang harus mbak lakukan?" Naya tak menjawab pertanyaan Reza, malah wanita cantik itu meminta tanggapan sang adik.


"Mengenai apa mbak?" Pertanyaan yang lagi-lagi dijawab pertanyaan oleh keduanya.


"Tentang pernikahan mbak dan mas Radit," jawab Naya tergugu.


"Semua terserah sama mbak Naya, kalo mbak sudah tak bisa melanjutkan lagi ya nggak papa mbak, kami semua tahu kok gimana sakitnya menjadi embak," saran Reza lembut.


"Ibu sakit mikirin kami Za," gumam Naya pelan.


"Pastilah mbak, namanya juga orang tua ngeliat anaknya kayak gitu," ucap Reza setelah terdiam cukup lama karena khawatir Naya yang punya hati selembut sutra itu akan merasa bersalah.


"Aku pengen nengok Za, tapi aku takut."


"Takut kenapa?" tanya Reza bingung.


"Takut justru ibu semakin sakit karena bertemu aku," desah Naya frustasi.


"Ya nggak usah dateng mbak, hidup kamu tuh berarti lho, jangan terlalu mikirin perasaan orang lain, ya aku sih nggak mau pengaruhi mbak Naya, tapi yang namanya hidup kita prioritasin diri sendiri baru orang lain," nasihat Reza lembut sambil mengelus lengan sang kakak.


Dering ponsel Reza menghentikan pembicaraan mereka, Reza menatap layar tipis di genggamannya, ada tanda tanya ketika melihat pak Efendi menghubunginya, dan Reza memutuskan menerima panggilan tersebut.


"Nak Reza, bapak mau minta tolong bisa?" tanya Bapak dengan terbata.

__ADS_1


"Apa yang bisa Reza bantu pak?" tanya Reza sopan.


"Ibu kena serangan jantung dan sekarang di rawat di rumah sakit, bisa Naya datang menjenguk nak, ibu ingin sekali bertemu Naya." Suara bapak terdengar memohon dan berharap.


"Saya tanya mbak Naya dulu ya pak, saya akan antarkan mbak Naya kesana nanti kalo mbak Naya mau bertemu," jawab Reza.


"Terimakasih nak Reza, bapak menghargai kebaikanmu," ucap bapak tulus, lalu sambungan telepon itu terputus.


"Kenapa Za?" tanya Naya penasaran.


"Bapak telpon, ibu masuk rumah sakit, kalo mbak Naya nggak keberatan ibu pengen ketemu sama mbak Naya," ucap Reza.


Naya berfikir sejenak, sesuatu menghimpit dadanya, pikirannya tak tenang, dan dia memutuskan untuk menjenguk ibu mertuanya.


Karena Reza sedang sibuk-sibuknya sehingga tidak bisa mengantar dirinya, Naya berangkat ke rumah sakit yang disebutkan tadi sama bapak mertuanya.


Di depan ruang VIP rumah sakit tersebut tampak Rania dan Raisa sedang menahan tangisnya.


Radit hanya duduk dengan wajah tertunduk agak terpisah dengan kedua kakak perempuannya.


"Naya.... " panggil bapak membuat semua mata menatap Naya yang terlihat semakin cantik dan segar itu.


"Bapak," sapa Naya sopan lalu mencium punggung tangan laki-laki sepuh yang masih sah jadi bapak mertuanya itu.


Naya tersenyum."Ibu dimana pak?" tanya Naya khawatir.


"Ibu anfal lagi Nay, dokter sedang bertindak di dalam," jawab Bapak dengan wajah muram.


Radit hanya mampu memandang Naya dengan tatapan penuh kerinduan, sekian bulan tak bertemu, rasanya istrinya itu terlihat semakin menawan meski terlihat lebih tirus.


Seorang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan tersebut.


"Gimana istri saya dok?" tanya Bapak ada nada khawatir disana.


"Sudah lewat masa kritisnya pak, tolong dijaga jangan sampai banyak pikiran dan jaga emosinya," jawab dokter itu pelan.


"Baik kami akan laksanakan nasehat dokter."


"Saya permisi pak." Lalu dokter itu pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Bapak masuk ke dalam ruangan diikuti Rania dan Raisa juga kedua suami mereka.


Sementara Radit masih berdiri mematung menatap Naya yang bahkan sejak kedatangannya tadi tidak pernah sekalipun mau melihat keberadaan Radit.


Sebesar itukah rasa marah dan kebencian Naya terhadap Radit, hingga menganggap Radit tak ada?


"Nay.... " panggil Radit terputus oleh pintu kamar rawat ibu yang terbuka.


"Naya.... ibu pengen ketemu," ajak Rania lembut, membuat Naya melangkahkan kaki ke dalam ruangan tersebut.


"Kamu juga masuk Dit," tegur Rania ketika melihat Radit masih berdiam di tempat melihat punggung Naya yang menghilang di dalam ruangan.


Dengan langkah gontai Radit masuk ke dalam, dan hatinya terasa perih melihat banyaknya selang yang tertempel di tubuh ibunya.


Ibu melambai meminta Naya mendekat, Naya melangkah perlahan mendekati ranjang pesakitan tersebut, hatinya terasa perih melihat ibu mertuanya terbaring lemah tak berdaya.


Naya mengecup punggung tangan ibu, hanya elusan di kepala yang Naya rasakan, karena mulut ibu tertutup alat oksigen.


"Maafin Naya bu baru bisa jenguk ibu sekarang," isak Naya lirih.


Semua orang disana meneteskan airmata melihat bagaimana lemah lembutnya Naya bahkan ia masih mau menyempatkan diri melihat kondisi ibu mertuanya, bahkan mau meminta maaf, meski semua tahu itu bukan kesalahannya.


Tak terduga ibu melambai meminta Radit mendekat, tubuh Naya menegang melihat Radit berdiri begitu dekat di sampingnya.


Rasa amarah juga sakit hati itu menjajah hatinya dengan angkuhnya, meski Naya akui masih ada cinta yang tersisa di sudut ruangan hatinya untuk sang suami.


Ibu melihat keduanya dan menyunggingkan senyum manis, lalu tanpa disangka-sangka ibu menyatukan kedua tangan mereka ke dalam tangannya yang lemah.


Dengan kalimat terbata-bata ibu berucap," To long maaf in Radit Nay."


Radit terisak lirih, bahkan setua dan sesalah ini, ibu masih terus menyayangi dan membela dirinya.


"I bu a kan tenang ka lo me li hat kalian bersa ma lagi," ucap Ibu dengan suara terbata.


"Ibu jangan bicara seperti itu," tegur Naya pelan sambil ikut terisak.


"I bu su dah capek Nay," sahut ibu pelan.


"Kalo ibu ingin melihat Naya sama mas Radit bersama lagi, ibu harus sembuh dan sehat lagi, ya," pinta Naya sambil mengusap kepala ibu lembut.

__ADS_1


Tak menjawab ucapan Naya, justru nafas ibu terlihat tersengal dan tak berapa lama menghembuskan nafas terakhirnya.


Semua menangis dan histeris melihat kepergian ibu, terlebih Radit hanya sanggup meluruh ke lantai sambil menciumi punggung tangan ibu, tentu dengan rasa sesal yang semakin dalam.


__ADS_2