
Dandan yang cantik untuk menghadiri reuni, meski hanya menggunakan dress batik tapi aura Naya terlihat tetap mahal, meskipun tanpa riasan tebal di wajahnya.
Naya memilih sepatu dan tas yang senada dengan bajunya, memilih yang sederhana karena tak ingin mencolok dibanding teman yang lain.
Tapi namanya juga bekas orang kaya, koleksi tas dan sepatunya tidak ada yang harganya ecek-ecek, bahkan kadang Naya merasa malu kalau memakai barang branded nya sementara kondisi ekonominya ternyata kembang kempis seperti sekarang.
Memilih tas dan sepatu termurah berwarna hitam, Naya lalu melangkah keluar dari kamar.
"Wow wow wow.... mbakku mau kemana nih?" gurau Reza melihat penampilan rapi Naya.
"Ada undangan reuni SMP di hotel Venus Za," jawab Naya sambil memeriksa penampilannya sekali lagi.
"Aku berlebihan nggak Za?" tanya Naya lagi.
"Berlebihan apanya?" tanya Reza bingung dengan pertanyaan Naya.
"Penampilanku," jawab Naya.
"Cantik, anggun." timpal Reza.
"Cckk maksud aku barang yang aku pakai, branded semuanya, berlebihan nggak?" tanya Naya dengan merotasi matanya karena jawaban adiknya yang nggak nyambung.
"Emang kenapa dengan barang branded itu mbak?" Reza mengeryitkan kening bingung.
"Ya.... ya.... kan aku sudah nggak seperti dulu, masih pantes nggak nenteng barang beginian?" tanya Naya lirih.
"Emang kenapa dengan barang itu? Mbak Naya nyuri? Atau pinjem ke orang?" Alis Reza bertaut mendengar perkataan Naya yang ajaib itu, siapa yang akan menilai kalau dia pakai barang seperti itu yang memang miliknya sendiri.
Naya menggeleng lemah menjawab pertanyaan adiknya, ia hanya merasa tidak pantas saja memakainya ditengah situasinya yang tak lagi sama.
Harusnya Naya menjual saja barang-barang tersebut daripada menyimpannya untuk koleksi, toh barang branded yang dimiliki itu tetap laku di pasaran dengan harga yang terbilang masih oke.
"Udah nggak usah mikir yang aneh-aneh mbak, have fun sama temen-temen nya, dan jangan pulang malem-malem!" ancam Reza judes.
Naya tertawa terbahak."Aku berasa jadi anak kamu bukannya kakak kamu."
"Ya kan sekarang mbak Naya jadi tanggung jawab aku, kalo nanti mbak nikah lagi kan walinya aku," ledek Reza.
Naya terkekeh."Cerai aja belum udah mikirin nikah lagi. OMG!"
__ADS_1
"Ya siapa tahu ketemu cinta monyetnya disana."
"Aku bukan monyet jadi nggak pernah ngalamin cinta monyet," balas Naya tak mau kalah.
"Ya udah sana mbak berangkat, tuh taksinya udah dateng," usir Reza cuek membuat Naya mendengus kesal.
"Aku berangkat ya Za," pamit Naya.
"Hati-hati!" teriak Reza singkat.
Naya segera masuk ke dalam taksi online yang menunggunya, lalu mobil SUV itu meluncur menuju hotel Venus tempat acara itu diadakan.
Tak berapa lama mobil itu berhenti di depan lobby hotel, dan setelah mengucapkan terimakasih kepada pak supir, Naya menuju ke resepsionis untuk menanyakan ruangan yang ditujunya.
Naya diarahkan ke sebuah ruangan yang sudah disulap sedemikian rupa untuk acara mereka.
Naya baru akan melangkahkan kaki memasuki ruangan tersebut saat sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Naya.... benar Naya kan?" tanya seorang wanita bertubuh gemuk menyapanya.
Naya membalikkan badannya dan menatap lekat ke arah cewek itu yang lagi-lagi tak ada memori yang tertinggal untuk mengingat nama orang tersebut.
"Kamu lupa ya Nay? Arin Nay, Arin!" teriak Arin gemas sambil memeluk Naya erat.
"Iya Arin yang mana lagi," ledek Arin.
"Maaf Rin, gue lupaan orangnya."
Lalu mereka melangkah bersama memasuki ruangan tersebut yang ternyata telah ada beberapa orang yang hadir.
Naya si wanita berhati malaikat, yang dulu sering membantu kesulitan teman tanpa pamrih, cewek kuper yang cantik tapi pintar itu menjadi pusat perhatian teman yang lain.
Semua mengerubunginya seperti lalat, meski dirinya bukan top woman lagi karena kondisi ekonominya yang acak adut, tapi di mata teman yang lain Naya tetaplah Naya yang dulu mereka sanjung karena kebaikan hatinya.
"Gue kira lo nggak bakalan dateng Nay."
"Iya waktu Sheila bilang Naya pasti hadir, gue sih nggak percaya, wong setiap reuni nggak pernah dateng." sahut teman yang lain.
"Maaf ya guys, gue bukannya nggak mau dateng waktu itu, gue sibuk banget, buat me time aja kadang nggak ada waktu." Naya memberi alasan meski bukan itu masalahnya, Naya hanya malas berbasa-basi apalagi dengan teman beda kelas yang pasti tak diingatnya itu.
__ADS_1
"Sekarang semua udah oke kan babe?" tanya teman yang lain.
"Oke, makanya gue bisa dateng kesini, ya anggap aja kalo nggak ada masalah itu mungkin gue masih gila kerja dan nggak mentingin hidup gue," ucap Naya bijaksana.
"Naya!" teriakan heboh itu terdengar membuat sekumpulan orang itu sama-sama menoleh.
Utami.... bintang utama yang ditunggu oleh semua orang disana akhirnya datang juga.
Wanita itu tampak sangat bersahaja dengan penampilan sederhana, hanya menggunakan celana panjang dan atasan baju batik.
"Finally Nay, gue bisa ketemu juga sama lo," ucap Tami setelah sebelumnya dia memeluk Naya dengan erat.
Wanita baik hati yang menyelamatkan sekolahnya hingga ia bisa sesukses sekarang, tanpa Naya dia pasti akan jadi anak putus sekolah dengan masa depan yang suram.
"Hallo Tam, gue juga seneng bisa ketemu lo lagi," sahut Naya tulus.
Mereka duduk berhadapan, semua teman menyingkir untuk memberi waktu keduanya untuk mengobrol.
"Rasanya gue tuh pengen ngucapin makasih banget sama lo Nay, berkat lo gue sekarang bisa seperti ini." Tami sosok luar biasa yang tetap humble meski sudah jadi top management di sebuah perusahaan raksasa di Amerika sana.
"Gue cuman jalan Tam, semua yang lo raih sekarang kan berkat kerja keras lo dan juga takdir yang diberikan sama Yang Maha Kuasa, terlalu besar kepala kalo gue nyebut itu semua berkat gue," balas Naya bijak.
"Oh my God, ternyata lo tuh beneran malaikat tanpa sayap ya Nay, hati lo itu luar biasa banget, " puji Tami takjub.
"Mana ada malaikat tanpa sayap Tam, lo ada-ada saja." Kekeh Naya pelan.
"Waktu gue denger musibah yang menimpa keluarga lo, menimpa lo, rasanya gue pengen cepet balik buat kasih support lo, tapi pekerjaan yang menahan gue untuk nggak bisa pulang."
"It's oke Tam, sudah lewat juga dan udah selesai, at least meski kami harus kehilangan semua milik kami, tapi kami bisa lepas dari semua tuntutan."
"Betewe kalo lo butuh kerja, lo info gue aja, pasti ada tempat kosong buat orang cerdas kayak lo," ajak Tami ada nada kesungguhan di dalamnya.
"Thanks Tam, tapi nggak dulu ya, gue lagi pengen santai menikmati hidup setelah semua yang terjadi."
Utami mengangguk mengerti, ia akan sangat bersyukur kalau Naya menerima tawarannya, siapa sih yang tak ingin bekerja sama dengan orang cerdas seperti Naya, tapi Utami tahu disini pun Naya pasti banyak yang ingin merekrut mungkin memang Naya ingin mengistirahatkan pikirannya barang sejenak.
"Naya!" suara bariton memotong pembicaraan keduanya.
______
__ADS_1
Buat semua pembaca terimakasih sudah baca cerita dalam novel ini, plis babe kasih vote, like dan bintang lima nya ya, biar aku semakin semangat buat nulis.
Makasih kesayangan aku semua. ❤😘