
Di ruang tamu Reza yang sempit telah hadir Radit, bapak dan Rania untuk meluruskan masalah yang kembali terjadi dalam rumah tangga Radit dan Naya.
Mengetahui kelakuan Radit yang menjijikan itu, Raisa menolak untuk datang ke rumah Reza untuk ikut mendampingi keluarganya untuk meminta maaf kepada keluarga Naya.
Dengan gelisah Radit menatap Naya yang bahkan sejak kedatangannya ke rumah itu tak sekalipun mau menatapnya dan sekedar mengucapkan sepatah dua patah kata.
"Nak Reza.... bapak datang kemari selain untuk menyambung silaturahmi sekaligus mendampingi Radit untuk meminta maaf kepada kalian khususnya Naya, atas kelakuan Radit yang kembali menyakiti Naya, bapak tahu Naya pasti marah dan benci sama Radit atas semua perbuatannya itu."
Bapak mulai berkata-kata dengan lembut, pria sepuh itu harus kembali menanggung malu atas kelakuan bejat anak lelaki satu-satunya itu yang kembali membuang kotoran ke mukanya.
"Bapak tahu kami terlalu tak tahu diri kalo meminta Naya untuk memaafkan Radit dan kembali mempertahankan pernikahannya, sekarang semua bapak serahkan sama Naya."
"Tapi Radit nggak ingin bercerai sama Naya pak, Radit beneran cinta dan sayang sama Naya," ucap Radit memotong kalimat bapak.
Naya yang mendengar perkataan Radit tadi hanya bisa melengos dan mencibir tanpa sadar, seolah-olah tak mempercayai ucapan suaminya itu.
"Mas Radit....kalo mas Radit mencintai mbak Naya, mas Radit pasti tak melakukan hal ini mas!" tegur Reza tegas.
"Aku khilaf Za," ucap Radit pelan.
"Khilaf kok berkali-kali dengan orang berbeda pula, itu bukan khilaf tapi disengaja!" ketus Naya kesal.
"Nay.... " panggil Radit setelah menghela nafas berat.
"Lagian dalam setiap rumah tangga kan pasti ada masalah, aku tahu aku tak. menyampaikan keberatanku kepada Naya hingga aku mencari pelampiasan di luar!" sambung Radit hati-hati, karena Naya saat ini ibarat kayu yang lagi terbakar kalau ia siram dengan minyak pasti akan tambah berkobar, saat ini bersabar dulu lebih baik untuk Radit.
"Lalu masalah kita dimana mas?" tanya Naya dengan suara dingin.
"Memang kamu nggak ngerasa Nay, kalo aku tuh nggak suka kamu kerja!"
"Lho dari awal kita kenal, pacaran lalu menikah kamu tahu aku seorang pekerja, dan kamu awalnya tak mempermasalahkannya, kamu mulai mencari alasan ketika kamu mulai selingkuh, dan kamu melimpahkan kesalahan kamu sama aku!!" sahut Naya tak mau kalah.
__ADS_1
"Aku selingkuh karena.... "
"Apa?! Karena aku sibuk bekerja dan tidak bisa membagi waktu kan? Lalu setelah aku mundur dari pekerjaanku apa kamu puas mas?! Itu hanya alasanmu saja, memang dari awalnya kamu tak pernah menghargai aku!" Naya memotong kalimat Radit dengan suara meninggi.
"Sudah, sudah kalian jangan ribut!" tegur bapak membuat Naya dan Radit langsung membungkam mulut mereka.
"Kamu udah salah jangan mau menang sendiri Dit," tegur Rania lembut menepuk paha adiknya pelan, ada ketegasan dalam suara itu.
"Jadi karena mbak Naya sudah tidak mau kembali sama mas Radit, saya harap bapak dan keluarga memahami keputusannya," ucap Reza tegas.
"Nggak bisa Za, aku nggak akan lepasin Naya sampai kapanpun," sahut Radit.
"Lalu bagaimana dengan kesalahan mas Radit yang terus terulang itu mas, aku nggak mau kakakku terluka terus dengan perilaku mas Radit, dia juga punya perasaan!" bela Reza tegas.
"Aku akan berubah Za." Janji Radit pelan.
'Bukannya kemarin mbak Naya sudah memberi kesempatan sama mas Radit untuk berubah, tapi kenapa sekarang diulang lagi? Baru juga dua bulan lho mas!" sindir Reza santai.
"Sudah Dit, kamu terima aja semua keputusan Naya, toh kamu kan yang bikin dia kayak gini." Suara tegas Rania menginterupsi obrolan mereka hari ini.
Dengan terpaksa Radit hanya bisa menghala nafas pasrah, mau melawan seperti apa tentu bukan hal mudah, apalagi semua mendukung keputusan Naya yang ingin berpisah dari dirinya.
"Naya.... sebelum kamu mengambil keputusan tolong kamu pikirin mateng-mateng ya Nak, baik buruknya buat kamu." pinta bapak lembut, menatap menantu perempuan satu-satunya yang cantik dan baik hati itu.
"Iya pak, Naya juga bukannya besok langsung mau ngajuin gugatannya kok," ucap Naya sopan.
"Aku nggak ijinin kamu gugat cerai Nay," desis Radit menatap tajam Naya.
"Terserah apa pendapatmu mas, aku akan tetap mengajukan gugatan cerai itu secepatnya, aku rasa itu yang terbaik buat kita." sahut Naya santai.
"Nay.... " panggil Radit memelas.
__ADS_1
"Sudah Dit jangan paksa-paksa Naya lagi, be gentleman, mau mengakui kesalahan dan menerima segala resikonya."
"Karena kita sudah berbicara panjang lebar, bapak dan keluarga pamit undur diri Za, apapun keputusan Naya kami sekeluarga menerima dengan lapang dada."
"Kalo gitu kami permisi ya Nay, Za." pamit Rania.
Reza berjalan mengiring Rania dan bapak keluar dari rumahnya, sementara Radit masih duduk dan menatap Naya lekat, ada rasa tidak ikhlas melepaskan Naya.
"Sampai kapanpun aku nggak akan lepasin kamu Nay," ucap Radit dengan suara rendah.
Naya tersenyum mengejek." Let's see mas, kali ini kamu terlalu berani bermain-main sama aku setelah aku maafin perbuatan kamu yang dulu, kamu nggak tahu kan apa yang bisa aku perbuatan?"
Radit terperangah mendengar ucapan Naya yang terdengar biasa saja itu tapi ada nada marah dan dendam di dalamnya.
"Di tempat ini, lo akan kembali untuk bersujud di bawah kaki gue dengan kondisi kere dan stroke!" lanjut Naya pelan yang hanya bisa didengar oleh Radit.
"Radit! Ayo pulang!" panggil Rania dari luar rumah karena Radit yang tidak segera menyusul keluar dari rumah Naya.
Naya mendahului langkah Radit dan menghampiri bapak untuk mencium punggung tangan keriput itu.
Lalu setelahnya memeluk Rania dan mencium kedua pipi kakak iparnya itu.
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dengan Radit yang diseret Rania untuk ikut masuk bersamanya.
Reza merangkul pundak Naya lembut." Are you oke mbak?"
"Of course dek, pasti mbak baik-baik sajalah," jawab Naya dengan senyum manisnya.
"Syukurlah, aku seneng dengernya mbak, please jangan terpuruk ya mbak karena laki-laki itu," pinta Reza tulus
Naya mengulas senyum manis dan terlihat tanpa beban di depan Reza, tetapi saat adiknya itu menghilang dari hadapannya raut muka Naya terlihat tegas dan penuh amarah.
__ADS_1
Agaknya Radit salah langkah saat ini dengan kembali menyakiti Naya, karena Naya yang sekarang bukanlah Naya yang hanya diam diinjak-injak harga dirinya seperti dulu.
Mungkin ada baiknya Radit benar-benar melepaskan Naya dan meminta maaf secara layak kepada wanita itu, daripada ia harus menanggung semua ucapan yang telah dilontarkan Naya kepadanya.