Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Ditabrak


__ADS_3

Kita tinggalkan James dan Steven dan pergi ke Jimmy yang sedang mengais-ngais sampah untuk mendapat sesuatu yang bernilai di untuk dapat di jual.


" Hari ini sudah cukup." Kata Jimmy dalam hati.


"Lebih baik aku pulang lebih cepat, membereskan hasil-hasil aku memulung sore ini, dan membantu bibi Santy membersihkan rumah," lanjut ia dalam hati.


Ia kemudian berjalan keluar dari daerah sambil berpamitan dengan teman-teman sebaya atau yang lebih tua, sebab semua yang berada di tempat pembuangan akhir itu adalah orang miskin yang berjuang hidup dengan mengais sampah. Bagi mereka sehingga apa pun itu tetap akan mereka kerjakan asal itu halal dan bukan dari hasil curian.


" Jimmy kok cepat sekali pulangnya? Barengan dong sebentar jam 5," kata teman sebayanya yang sudah beberapa tahun ini menjadi teman seperjuangan di gundukan atau bukit sampah ini.


"Perasaanku tak enak, aku ingin kembali ke rumah dan beristirahat, teman. Kan sekarang jam 4. Tinggal sejam lagi, kamu dapat menyusul aku." Sahut Jimmy menimpali.


"Kamu kan enak punya rumah dan punya Bibi Santy yang menyayangimu. Sedangkan aku buru-buru kembali hanya untuk menatap kolong jembatan bro." Ujar temannya itu yang diketahui bernama Sukro.


"Beginilah kita teman. Ada yang susah namun ada yang lebih susah lagi. Kita semua di sini mencari nafkah namun siapakah yang tahu kita akan jadi apa di masa depan?" Jimmy melanjutkan terkekeh sambil mempersiapkan barang-barangnya untuk segera pergi.


"Baiklah bro. Nanti kapan-kapan gue ingin main-main ke rumah Bibi Santy lagi. Aku lanjut mencari dulu bro. Kamu hati-hati di jalan ya," Kata Sukro dan berbalik muka kembali mengais tumpukan sampah di depannya.


Namun beberapa detik kemudian Sukro berbalik dan berkata;


" Oh ya bro, jangan lupa sampaikan salam aku buat Sita ya bro," sambil tertawa lebar.


"Hahahaha, genit lu. Kutunggu kedatangan mu sobat," lanjut Jimmy sambil melambaikan tangan dan berlalu dari pemukiman sampah itu.


Jarak pembuangan akhir dan kompleks kumuh tempah tinggalnya sangat jauh. butuh sejam untuk berjalan kaki apalagi sambil menenteng beban berat hasil memulung.


Jimmy berjalan menyusuri sepanjang jalan ibu kota itu dengan sesekali perasaan malu dan canggung. Sebab di waktu yang masih sore ini melihat para pemulung, orang-orang sekitar sering memandang rendah dan menyindir.


Maka Jimmy berjalan cukup cepat tanpa menoleh kiri kanan. Ia hanya menegak air liurnya ketika orang di sekelilingnya sibuk dengan kemewahan. Shopping, makan-makan, dan lain-lain.

__ADS_1


Ketika sedang sibuk dengan segala macam perkara di dalam kepalanya, ketika ia mengangkat muka matanya tertumpu pada sebuah perempatan lampu merah. Kisah memalukan beberapa bulan lalu memang masih membekas dalam kepalanya. Ia memang sudah biasa dipermalukan namun hari itu, kedua wanita dalam mobil itu, senyum sinis dan sombong mereka tak akan pernah dilupakannya.


Itu kali pertama Jimmy merasa terpukul. Seperti harga dirinya terinjak-injak.


***


*B**eberapa bulan lalu di lampu merah*.


Saat itu setelah menerima dan membaca kertas pemberian dua wanita dalam mobil Honda Jazz itu, Jimmy yang belum mendapatkan sepeser pun memutuskan untuk kembali ke rumah bibi. Ia sengaja tak singgah di rumahnya sebab yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah menumpahkan segala kekesalannya dan menyampaikan argumentasi retoris tentang watak-watak orang kaya yang tak memperdulikan orang miskin. Bukannya peduli malah mempermainkan orang miskin.


"Hufft," Jimmy menghela nafas panjang dan membuangnya secara kasar. Ia selalu begitu ketika memikirkan nasib hidupnya.


Sesampainya di rumah bibi Santy, Jimmy menceritakan semua kejadian sialnya hari ini.


"Sudahlah sayang, kita orang susah memang sering diperlakukan seperti itu. Jangan kamu simpan di hati." Kata Bibi Santy sambil mempersiapkan makan siang untuk Jimmy dan Sita yang sebentar lagi akan pulang dari sekolah.


"Anaknya menurut penglihatan saya seusia Sita bibi. Namun Ibunya yang mengemudi mobilnya masih muda dan cantik. Aku tidak akan melupakan wajah dan perlakuan mereka terhadap aku bibi." Kata Jimmy sambil memandang jauh kearah TV yang sedang menyala di ruang makan bibi Santy.


"Apalagi engkau masih berusia belasan tahun. Jangan susahkan dirimu dengan segala macam perkara ini." Lanjut Bibi Santy.


" Yang harus kamu lakukan sekarang adalah berdoa dan terus bekerja keras membantu bibimu ini dapat menyekolahkan kamu." Ujar bibi.


***


Ketika Jimmy sedang dalam kepalanya, ia kehilangan konsentrasinya dan berniat menyeberang jalan untuk dapat masuk ke dalam kompleks tempat ia tinggal.


Tiba-tiba dari arah kanan jalan sebuah mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Jimmy yang sedang melamun, serta beban keranjang besar yang ia panggul menghalangi pandangannya. Ketika ia sadar mobil itu sudah berada semeter lebih dari tempat ia berpijak.


"Ahhhrrkkkk.." Belum sempat ia melompat dan berlari mobil itu telah menubruk ia, disusul suara derit ban mobil dan aspal jalan.

__ADS_1


Jimmy terlempar beberapa meter dari badan jalan. Mobil itu berhenti dan banyak orang yang berapa tak jauh dari tempat kejadian itu mulai mengerumuni tempat kejadian.


Mobil Sport yang menabrak Jimmy berhenti tak jauh dari lokasi kecelakaan.


***


Kembali ke Steven dan James.


Setelah beberapa hampir setengah jam menyusuri kota metropolitan ini, akhirnya James membuka suara;


" Steven, kita kembali ke tempat biasa. Aku ingin memenangkan pikiran di taman itu sambil melihat anak-anak gelandangan dari kompleks kumuh di sana kembali ke tempat mereka." Kata James memecahkan keheningan mereka yang sedari tadi sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Baik tuan." Sahut Steven pendek.


Kawasan taman itu bukan merupakan tempat favorit di kota metropolitan ini, namun James sungguh menaruh hati pada tempat itu. Tempatnya sederhana jauh dari kata kemewahan. Di taman itu luasnya tidak terlalu lebar dan hanya beberapa pedagang kaki lima serta kios-kios kecil saja yang berjualan berdekatan dengan taman itu.


Namun momen terfavorit James adalah bukan keindahan taman tersebut, tetapi anak-anak yatim piatu yang kembali dari aktivitas mereka. Ada yang memulung, berjualan keliling, dan mengamen. Saat itulah, Ia bernostalgia dengan Jorge, anaknya yang telah meninggal.


" Steven, kapan kamu akan menikah?" Tanya James tiba-tiba ketika beberapa belokan lagi tiba di parkiran taman favorit James itu.


" Hahaha Tuan saya akan mencari kekasih dan menikah apabila tuan sudah bahagia dengan kehidupan tuan," kata Steven sambil tertawa renyah.


" Bagaimana jika aku tak bahagia sampai hari tuaku?" sambung James menantang kesetiaan Steven.


"Maka saya akan membujang seumur hidup saya tuan." di sambung tertawa renyah keduanya.


Ketika sedang tertawa dan kehilangan fokus, tiba-tiba James berteriak kencang;


" Steven! Awas ada anak yang lewat!" James berteriak seperti kesurupan sambil memegang tangan Steven.

__ADS_1


Namun terlambat untuk menginjak rem, anak itu sudah terlempar dari badan jalan.


***


__ADS_2