Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Awal Menapak Jejak


__ADS_3

Hari ini adalah saat yang mendebarkan bagi Jimmy sebab sebentar lagi ia akan dijemput oleh sopir keluarga James Mariski untuk pindah dan mulai menapak hidup di Masion Mariski Family. Antara rasa gembira dan gugup bercampur aduk di dalam kepalanya sebab ia belum tahu apakah ia akan diterima baik di rumah Mariski ataukah ditolak orang-orang dalam lingkungan itu. Ayah James sudah pasti akan menerima baik dia di dalam rumahnya, namun apakah sikap menerima itu juga dilakukan oleh anggota keluarga yang lain. Yah, mulai sekarang ia harus terbiasa untuk memanggil James dengan sebutan ayah. Demikian kata tuan Steven ketika ia datang ke rumah Jimmy beberapa waktu yang lalu untuk membahas kepindahan Jimmy ke masion Mariski. Yang Jimmy takutkan sekarang bukan sekolah barunya nanti, yang ditempati oleh orang-orang berada atau anak-anak konglomerat sehingga ia tak mampu bersaing, namun yang ia cemaskan sekarang adalah apakah istri ayah James akan menerima dia layaknya anak sama seperti yang James lakukan terhadapnya.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" Pertanyaan itu sontak membuyarkan lamunan Jimmy yang sedari tadi duduk sendirian di depan teras rumah Bibi Santy dan sedang mengandaikan kehidupan barunya di dalam pikirannya.


" Ah , bibi." Kata Jimmy terkejut sambil menoleh ke arah Bibi Santy. Suara itu sangat lekat dalam pendengarannya selama bertahun-tahun ini.


"Sedari tadi bibi perhatikan kamu nampak murung loh," kata Bibi Santy lagi sambil merapikan rambut Jimmy.


"Tidak bibi. Aku hanya berpikir, jika aku sudah tinggal bersama Tuan James, ehh maksud saya Ayah James, aku pasti akan merindukan bibi dan Sita." Kata Jimmy dengan wajah murung sambil meremas tangan Bibi Santy pertanda ia sedang berusaha membuang rasa gugupnya.


"Itu bukan alasan yang tepat anakku, sebab dengan segala fasilitas yang akan engkau dapatkan nanti dari keluarga barumu, engkau akan betah di sana." Kata Bibi Santy sambil berpindah ke depan Jimmy dan mengambil tempat berhadapan dengan anak laki-laki kesayangannya itu.


"Sebenarnya Bibi dan adikmu Sita yang akan sangat merindukan engkau. Tapi kami tidak boleh egois sebab prioritas Bibi sekarang adalah masa depan kamu sayang." Kata Bibi seraya menghapus air matanya yang mulai tergenang di sudut matanya.


Akhirnya kedua insan itu terdiam beberapa menit untuk mengakhiri kebersamaan mereka selama ini. Tak banyak yang dapat dikatakan Bibi Santy untuk menjadi wejangan bagi Jimmy di rumah baru dan keluarga barunya nanti.


Beberapa hari ini sudah sangat cukup bagi mereka untuk saling bercerita dan saling menguatkan satu sama lain yang akhirnya pada satu keputusan bahwa mereka menerima niat baik Tuan James Mariski untuk mengadopsi Jimmy menjadi anak kandungnya.


Hingga mobil putih yang mengantar mereka dari rumah sakit tempo hari datang menjemput Jimmy beserta barang-barangnya, Bibi Santy dan Sita tak mampu berkata apa-apa yang ada adalah isak tangis yang tak dapat terbendung serta pelukan hangat dari mereka. Banyak orang yang menghantar Jimmy antara lain adalah Mang Dadang dan tetangga-tetangga sekitar rumah. Ada sebagian yang memuji Jimmy karena diangkat menjadi anak oleh keluarga kaya, namun ada pula yang tanpa ekspresi pertanda kurang suka dengan keberuntungan Jimmy.

__ADS_1


Akhirnya perpisahan itu pun berakhir dan Jimmy berangkat ke masion megah milik James untuk mengawali jejak kehidupannya.


***


Jimmy memandang takjub masion milik calon ayah angkatnya yang sebentar lagi akan menjadi rumahnya juga. Masion besar ini terdiri dari tiga lantai. Di lantai tiga terdapat taman, seperti taman di atas gedung. Kolam renangnya besar hampir mengelilingi masion itu. Dan yah, Dilantai tiga juga terdapat kolam renang mini. Taman depan masion itu terdapat air mancur yang keluar dari mulut patung seorang manusia. Pemandangan masion ini membuat Jimmy berdiri dengan pandangan takjub dan keheranan.


" Mari masuk, Tuan James telah menunggu anda di dalam rumah." Kata pelayan laki-laki yang sedari tadi memandang Jimmy sambil tersenyum.


" Sabar tuan, saya ambil dahulu koper saya di dalam mobil." Kata Jimmy sopan sambil berjalan ke arah bagasi mobil.


" Sudah dik. Kopermu tidak usah digunakan lagi. Mari masuk kau sudah ditunggu." Kata pelayan yang ternyata adalah seorang kepala seluruh pelayan dari satpam hingga tukang masak, seraya menarik tangan Jimmy ke dalam rumah sambil tersenyum.


"Ah sungguh mulia anak ini. Ia tipe anak yang cepat bergaul dan mudah membaur. Nak semoga engkau dapat mengobati kegalauan Tuan James yang akhir-akhir ini." Kata pelayan itu dalam hati sambil menoleh melihat Jimmy dengan senyum penuh harapan.


" Panggil saja; Paman Nathan" Kata Nathan kepala pelayan di masion nya James tersebut dengan senyum ceria.


Sedangkan Jimmy melihat aneh ke arah Nathan karena sedari tadi ia senyum-senyum sendiri entah apa yang dipikirkannya.


"Ohhh, Iya Paman Nathan. Nama saya Jimmy paman." Kata Jimmy sopan seraya menapak kakinya mengikuti Nathan memasuki rumah dan ruangan-ruangan serta lorong-lorong masion yang lebar dan panjang.

__ADS_1


"Ini rumah atau kantor gubernur? Besar dan lama sekali sampainya." Gerutu Jimmy dalam hati.


Akhirnya mereka sampai juga di sebuah ruangan. Kelihatannya ruang nonton sebab ada TV besar yang sedang menyala dan ada dua orang yang duduk santai sedang menatap layar TV. Kedua orang itu adalah James dan Steven.


Ketika melihat Nathan membawa masuk Jimmy keduanya serentak menengok dan tersenyum ceria sebab memang dua orang bersaudara yang tidak sedarah itu sedang menanti kedatangan Jimmy.


"Hallo anak ayah yang tampan!" Teriak James dengan suara yang keras dan datang memeluk dan mengusap rambut anak angkatnya itu.


"Dan mulai sekarang panggil paman dengan Paman Steve." Kata Steven juga seraya memeluk dan merapikan rambut Jimmy.


"Terimakasih Ayah, Paman." Kata Jimmy agak malu-malu sebab dia masih tak percaya dengan segala yang dia dapatkan saat ini.


Saat mereka sedang bercengkrama dengan santai dan mengajak Jimmy bergabung dalam acara nonton santai mereka, James menangkap gelagat aneh dari Jimmy. Kelihatan dia kurang percaya diri dengan pakaiannya yang agak ketinggalan zaman serta dekil dan bercak-bercak noda di mana-mana. Maka James dengan segera mengajak Jimmy melihat kamarnya.


" Kamu pasti penasaran dengan kamar barumu. Ayo, Ayah dan paman ingin menunjukkan sesuatu untuk kamu." Ajak James kemudian mengangguk ke arah Steven lalu mereka menggandeng tangan Jimmy naik ke atas lantai dua tempat deretan kamar keluarga berada.


"Kamar ini dulunya ayah ingin siapkan kamar ini untuk Jorge, Almarhum. anak laki-laki ayah. Namun Tuhan membuat Ayah bertemu dengan kamu. Kasih sayang yang ayah curahkan ke Jorge akan ayah curahkan juga ke dirimu nak." Kata James lagi sambil berjalan seraya berjalan mendekati kamar Jimmy yang baru. Ketika James membuka kamar barunya Jimmy tersebut betapa terkejutnya Jimmy ketika melihat kamar barunya. Mulutnya terbuka lebar, entah apa yang hendak ia katakan.


***

__ADS_1


__ADS_2