Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Kembali Beraktifitas


__ADS_3

Pagi ini setelah seminggu beristirahat selepas kecelakaan yang menimpa dirinya, Jimmy kembali beraktifitas. Pagi Ngamen, mulung dan pulang sorenya. Demikianlah ia setiap harinya kecuali hari Minggu ia ada di rumah membantu Bibi Santy membersihkan rumah juga membersihkan rumahnya.


Hari ini, dia kembali sore hari dengan perasaan yang sangat gembira sebab hasil hari ini cukup memuaskan. Ketika hendak memasuki gang sempit menuju rumahnya. Ia terkejut dengan pemandangan sebuah mobil mewah bermerk Ferrari berwarna silver sedang terparkir manis di ujung gang memasuki rumahnya.


"Siapa ya? Tumben mobil mewah bisa parkir di depan gang kumuh seperti ini." Kata Jimmy dalam hati.


Ia terus berjalan sambil menenteng bakul besar di punggungnya tempat menyimpan hasil memulung. Setelah mendekati rumahnya di depan teras sudah ada beberapa orang yang sedang duduk santai disertai ketawa kecil dari mereka.


Sekarang Jimmy tidak perlu berdagang keliling menjual kuenya Bibi Santy. Motor Metic pemberian James digunakan oleh Mang Dadang untuk berjualan keliling sekaligus mengantar jemput Sita dari sekolahnya.


"Ahh akhirnya juga datang juga orangnya." Kata Bibi Santy sambil menunjuk ke arah Jimmy yang muncul dari arah gang sempit tempat mobil diparkir.


Jimmy mempercepat langkahnya setelah mengetahui siapa yang datang bertamu di rumah Bibi Santy ketika Bibi Santy menyadari kedatangannya. Semua orang yang ada di teras rumah itu menengok ke arah dia sambil tersenyum lebar.


"Hmm ternyata Pak James dan Pak Stev." Kata Jimmy dalam hatinya.


"Biar aku taruh lebih dahulu keranjang ini," lanjut Jimmy sambil singgah di rumah tuanya. Sejak kecelakaan tempo hari ia dipaksa Bibi Santy untuk tinggal bersama ia dan Sita di rumahnya. Dan Jimmy tak punya alasan lagi untuk menolak permintaan Bibi Santy sebab Bibi Santy sudah terlalu baik dengan dia. Rumahnya kemudian menjadi gudang tempat ia menyimpan perkakas hasil ia memulung.


Setelah membereskan segala perkakas memulung nya ia kemudian pergi ke rumah Bibi Santy.


"Sayang ayo masuk, Pak James dan Pak Steven sudah menunggu kamu dari tadi," kata Bibi Santy dengan penuh semangat dan ceria.


"Hmmm tumben Bibi begitu semangat dengan kedatangan Pak James padahal dia kan berencana melabrak Pak James karena memberikan hadiah kepada mereka tanpa seizin mereka. Kok beda ya, sikap Bibi Santy hari ini?." Kata Jimmy dalam hati.

__ADS_1


Jimmy pun masuk ke teras rumah dan menyalami James dan Steven dengan sopan.


"Kamu memang pekerja keras dan tekun." Kata James dengan senyum tulus sambil menepuk pundak Jimmy.


Demikian juga Steven;


"hebat anak seusia kamu harus banyak belajar dari kamu," kata Steven sambil tersenyum ke arah James. Pertanda ia tidak salah mengambil keputusan ini.


Mereka semua kemudian duduk santai sambil bercengkrama santai tentang Jimmy. Akhirnya Bibi Santy mulai angkat bicara tentang maksud dan tujuan kedatangan James dan Steven ke komplek kumuh ini terkhusus ke rumah mereka.


"Jimmy, kamu pasti bertanya-tanya ada urusan apa Pak James dan pak Steven datang ke rumah kita. Mereka memiliki tujuan yang sangat penting sehingga rela meninggalkan urusan kantor mereka yang super sibuk hanya untuk datang menemui kita nak." Kata Bibi Santy membuka pembicaraan. Diikuti senyum lebar James dan Steven mengamini kata-kata Bibi Santy yang sangat berhati-hati dalam membuka pembicaraan.


" Mereka telah mengutarakan niat mereka pada bibi, namun bibi tidak mungkin mengambil keputusan ini sendiri tanpa menimbang bersama kau." Lanjut Bibi Santy dengan tenang walau agak berat.


" Memangnya persoalan apa bibi sampai-sampai harus dengan persetujuan aku?" Tanya Jimmy dengan tatapan penuh tanda tanya kepada Bibi Santy maupun kepada James dan steven secara bergantian.


Ketika James yakin bahwa Bibi Santy tidak mampu melanjutkan pembicaraan lagi maka James mencoba untuk mengambil alih pembicaraan itu.


"Jadi nak Jimmy, tadi kami telah berdiskusi panjang dengan bibimu. Setelah aku berpikir matang-matang bersama asisten sekaligus saudaraku ini," kata James sambil menunjuk ke arah Steven dan disambut dengan senyum lebar dari dia,


"serta mendengar dan menelusuri latar belakang kehidupanmu baik dari Bibimu maupun dari tetangga sekitar, maka kami memutuskan untuk membiayai sekolahmu dan segala keperluan pendidikanmu hingga di jenjang perguruan tinggi nanti. Usiamu sekarang lebih 2 tahun untuk anak seusiamu memasuki sekolah menengah pertama. Namun bapak kira belum terlambat buat kamu untuk dapat bersekolah kembali." Kata James dengan serius dan penuh


yakin agar Jimmy dapat menyetujui dan mempertimbangkan secara matang.

__ADS_1


" Apa???" Jimmy melompat dari kursinya sebab ia tak menduga maksud dan tujuan James dan Steven kemari adalah untuk membiayai ia sekolah ke jenjang SMP.


" Apakah bapak serius? Aku pasti sangat setuju pak sebab itu adalah impianku selama ini!" Kata Jimmy sambil berdiri dan memeluk erat James yang masih duduk di kursinya.


Bibi Santy yang sedari tadi larut dalam kesedihan akhirnya bisa tersenyum melihat kegembiraan anak laki-lakinya itu. Ia melirik ke arah Sita dan Mang Dadang yang juga tersenyum gembira sekaligus bahagia. Masa depan Jimmy pasti akan bahagia, sebab Jimmy dibiayai oleh salah satu orang paling kaya di kota metropolitan ini.


Setelah lama larut dalam kegembiraan akhirnya James kembali melanjutkan pembicaraan sekaligus permintaannya.


"Namun anak Jimmy, bapak memiliki satu permintaan lagi. Mungkin permintaan bapak inilah yang membuat bibimu bersedih." Kata James dengan penuh kehati-hatian. Sebab momen ini akan menjadi penentu masa depan anak ini, perusahaan, bahkan juga masa depan dirinya.


"Apa itu pak? Saya pasti akan menyanggupi permintaan bapak sebab bapak sudah berbuat baik kepada keluarga saya juga dengan saya pribadi." Kata Jimmy dengan antusias yang tinggi.


"Bapak ingin mengambil kamu menjadi anak angkat bapak dan tinggal di rumahku. Boleh kan?" Kata James dengan sangat hati-hati sambil menatap perubahan wajah Jimmy.


Wajah Jimmy yang semula dan antusias akhirnya terdiam dan tertunduk bisu.


"Hmmm... Jadi inilah alasan mengapa Bibi Santy tak sanggup mengatakan langsung kepada saya." Kata Jimmy dalam hati sambil tertunduk bisu dan berpikir sambil menopang dagu.


Karena mereka duduk dalam keheningan dan masih bingung mengambil keputusan seperti apa, akhirnya James dan Steven pun pamit dan membiarkan mereka berpikir satu dua hari agar dapat mengambil keputusan yang tepat.


"Bapak harap kamu dapat membicarakan ini baik-baik dengan bibimu dahulu, barulah mengambil keputusan." Kata James sebelum pamit pulang melepaskan Jimmy dan keluarganya dalam kebingungan yang sangat.


Di satu sisi ini permintaan James sangat baik untuk cita-cita dan masa depan Jimmy namun di sisi lain Bibi Santy akan sangat bersedih jika membiarkan Jimmy pergi meninggalkan ia dan Sita untuk tinggal bersama James di masionnya.

__ADS_1


Mereka semua terdiam dan mulai beraktifitas dengan otak yang berkecamuk.


***


__ADS_2