Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Berdebat dengan Pikiran


__ADS_3

***


Tepat pukul 1:10 dini hari


Mobil Buggati Chiron milik James memasuki halaman yang di bentuk seperti taman indah di masion milik James. Biasanya Steven langsung balik ke apartemennya dengan menggunakan mobil James dan esoknya datang menjemput James untuk pergi ke kantor bersama-sama. Namun malam ini agak berbeda.


" Stev, kamu tidur saja di salah satu kamar tamu." Kata James dengan ekspresi malas dan ngantuk.


" Baik pak, saya juga sudah terlalu lelah untuk kembali ke apartemen." Kata Steven dengan sama lelahnya.


Steven segera menyerahkan kunci mobil itu kepada satpam yang bertugas jaga malam itu untuk diparkir di depan garasi yang berisikan puluhan mobil mahal. Karena masion ini sangat besar maka ada beberapa Satpam atau penjaga masion yang stabil dan standby sepanjang malam untuk menjaga rumah dan keamanan sekitar rumah.


Di masion James, Steven punya kamar khusus sebab ia sering menginap atau menyelesaikan pekerjaan kantor bersama dengan James. Maka dari itu James menyediakan kamar khusus untuk Steven. Toh, ia telah menganggap Steven seperti adik kandungnya sendiri.


Ketika memasuki ruangan tengah Steven langsung berpamitan dengan James dan masuk ke kamar tamu yang berderet di lantai satu ini.


Ketika James memasuki ruangan nonton atau ruangan santai sebelum ke lantai dua ke kamar keluarga ia bertemu dengan Maya yang masih duduk terkantuk-kantuk di sofa ruang santai atau ruang nonton tersebut.


"Maya? Buat apa kamu jam begini masih di ruang nonton ini?" Tanya James berhenti sejenak sebab tumben Maya begadang apa lagi di ruang nonton.


Ruang nonton biasanya digunakan sebagai tempat santai atau tempat bersenda gurau keluarga.


Namun sudah lama ruangan ini menjadi sepi sejak kematian tragis seluruh keluarga James. Keluarga barunya sekarang lebih sibuk dengan urusan masing-masing dalam kamar. Apa lagi Istrinya Marsya, adik Marsya , Maya serta anak tirinya Jelita, mereka lebih suka menyibukkan diri dengan HP, laptop, shopping di luar rumah atau berkumpul bersama teman-teman.


Sampai kadang-kadang James berpikir, memang kalau orang-orang miskin yang tiba-tiba kaya suka terlena dengan harta; sampai-sampai lupa akan kebersamaan dan suasana kekeluargaan dalam rumah.


Maka dari itu James agak keheranan bila malam ini Maya begitu betah di ruangan ini. Biasanya dia di dalam kamar atau di taman lantai tiga untuk bersantai atau sibuk dengan pekerjaan kantor.


"kenapa belum tidur Maya?" tanya James seraya menghempaskan tubuhnya di sofa dekat Maya.


Maya yang sedari tadi duduk terkantuk-kantuk kemudian tersadar dan bangun sambil mengucek-ucek matanya, dan merapikan rambutnya. Ketika melihat James sedang duduk bersandar di sofa berdekatan dengan dia, Maya terkejut dan dengan terbata-bata berkata;


"Ma.. Mass...James ba..baru pulang?"

__ADS_1


"Tumben kamu masih di sini jam begini?" Tanya James seraya menoleh malas ke arah Maya yang masih terkejut dan gugup.


"Aku.... Aku sedang menunggu Mas James pulang." Kata Maya sekenanya. Sebab ia bingung memilih alasan yang tepat saat ini.


"Manunggu aku? Maksud kamu?" Tanya James penuh selidik dan dengan tatapan penuh tajam ke arah Maya layaknya bos Mariski Group.


"Maksudku.... Maksudku," maya kebingungan memilih alasan yang tepat sebab ia baru saja bangun tidur dan masih kebingungan.


"Maksudku menunggu Kak James di sini. Karena tumben Mas James baru kembali jam selarut ini. Biasanya kan jam 6 atau paling lambat jam 7 sudah balik ke masion." Kata Maya sambil tersenyum puas sebab menemukan alasan yang tepat untuk tindakannya malam ini.


"Hmmm... Saya pikir apaan." Kata James sambil kembali memejamkan matanya kembali. Namun tiba-tiba ia bangun dan berkata;


"Eh, tapi tetap aku bingung, tidak biasanya kamu menunggu seperti ini, apalagi menunggu aku. Pasti ada yang kau sembunyikan. Kakakmu di mana?" Kata James lagi sambil menatap tajam ke arah Maya.


Maya yang sempat terbebas dari pertanyaan James kemudian kembali memutar otak untuk mencari cara untuk menjawab kebingungan James.


"Mungkin di dalam kamar atau bisa jadi di taman atas mas." Sahut Maya seadanya.


"Oh ya, ada urusan apa mas, sampai jam selarut ini baru kembali. Saya yakin bukan karena urusan kantor, karena setahu saya kantor lagi baik-baik saja." Kata Maya sambil mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh ya kak, hmmmm... pantasan saja mas balik terlambat ke rumah." Kata Maya lagi.


"Ya sudahlah, aku mau istirahat." Kata James sambil bangkit berdiri dan pergi ke kamarnya di lantai dua.


Sedangkan Maya segera kembali ke kamarnya sambil meraih handphonenya dan memencet cepat dengan wajah panik.


"Hallo kak? kakak di mana sih? Kak james sdh balik loh." Kata Maya sambil menoleh kiri kanan siapa tahu ada yang mendengar pembicaraannya.


Namun bukan sahutan Marsya yang didengar Maya tetapi dentuman musik yang keras dan teriakan orang-orang seperti sedang mabuk.


"Hallo.... Hallo..." Maya mencoba bersuara lebih keras namun justru direject.


"huhhhhhh." Maya membuang nafas dengan keras sambil menaiki anak tangga menuju lantai dua kembali beristirahat dalam kamarnya.

__ADS_1


****


"Siapa sebenarnya kamu nak?" Pikiran James masih sibuk dengan kejadian sore hingga malam tadi.


"Mengapa aku seolah-olah merasa begitu dekat dengan anak itu?" James terus menerobos keingintahuannya dengan mencoba benang merah dari semua teka-teki ini.


"Hahhhhh,,," James meremas dan mengacak-acak rambutnya sambil meraih bantal peluk dan mencoba memejamkan matanya.


Namun semakin memejamkan bayang-bayang wajah anak itu semakin menghiasi wajahnya.


"Hmmm.. Dari pada malam ini aku tak bisa tidur. Lebih baik aku telepon Marsya. Dia biasanya paling mengerti dengan keadaan hatiku. Mungkin dia masih di taman atas. Biar aku telepon untuk ke kamar dan menceritakan kegundahan hatiku." Kata James sambil mencari handphonenya dan segera menelpon Marsya.


Kring.......kringgg....


Beberapa saat kemudian telepon diangkat dan betapa terkejutnya James sebab yang terdengar diseberang bukan suara Marsya namun suara musik yang berdentum keras disertai suara orang-orang yang berteriak seperti di tengah sebuah pesta.


"Hallo... Hallo... Marsya kamu di sana?" Tanya James yang langsung bangkit dari tempat tidurnya.


Ketika hendak memanggil nama Marsya sekali lagi tiba-tiba saja telepon dimatikan.


tutttt.. tuuttt.


"Shittt.." James mendengus kesal sambil mengutak-atik HPnya. Dilihat dari ekspresinya nampak mulai memerah pertanda ia mulai marah.


Beberapa saat kemudian.


"Hallo Steven!" Teriak James cepat ketika orang yang ditelepon mengangkat teleponnya.


"Iya pak, ada apa pak, belum istirahat?" Tanya Steven dari seberang telepon dengan suara serak pertanda ia sudah sempat tidur beberapa menit.


"Segera cari orang-orang mu perintahkan mereka mencari keberadaan Marsya. Tidak usah diinterogasi. Cukup diamati lokasinya, dan besok pagi aku tunggu laporannya." Kata James memberikan perintah kepada Steven dan langsung mematikan ponselnya.


"Sudah kuduga, dia mulai menunjukan taringnya." Kata James dalam hati sambil meremas tangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2