Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Nathan


__ADS_3

" Refleksi tentang kematian adalah kehidupan itu sendiri. Entahlah apa itu artinya namun itu kotbah dari pastor siang tadi di acara pemakaman".


Jimmy menutup Notenya yang sudah sepeti tempat curhat setiap malam sebelum tidur. Hari ini sangat melelahkan dan sungguh perjalanan waktu setengah hari yang mengorek habis kepedihan di dalam hatinya. Terutama ketika peti jenasahnya diturunkan ke dalam liang lahat, seolah-olah hidup ini berhenti sejenak. Ia tak akan melihat ayah asuhnya yang sudah seperti ayah kandungnya tersebut untuk selama-lamanya. Ia sungguh merasakan perbedaan yang sangat mencolok ketika ia masih di rumah kumuh dan di rumah ini. Bukan soal harta, kekayaan tapi soal emosi. Soal rasa dan kedekatan emosi antara ayah dan anak yang tak habis dilukiskan dengan kata-kata. James seperti ayah kandungnya yang riil. Entah apa penyebabnya namun psikis dan nurani Jimmy berteriak demikian. sepertinya Mereka di takdirkan untuk bersama sebagai sebuah keluarga kecil sejak pertemuan kecelakaan tersebut. Namun sekarang?? biarkan waktu yang menjawab. Lalu Jimmy merebahkan kepalanya pada tempat tidur empuknya dan terlelap.


( Kamar pekerja rumah tangga Mariski Masion)


" Aku masih penasaran dengan ucapan dokter kemarin sore." Gumam Nathan dalam hati. Sudah pukul 23:41 dan ia tak mampu memejamkan matanya sedikit pun. Pikirannya kemana-mana. ia memikirkan masa depan rumah tangga ini akan seperti apa ke depannya. Ia memikirkan masa depan perusahaan Mariski Corp. Ia bukan salah satu pegawai Mariski Corp. Namun Mariski sudah seperti keluarganya sendiri. Sekian tahun ia telah meIayani keluarga ini sekian tahun dan maka sungguh disayangkan jika perusahaan ini ambruk. Dan jika hal itu terjadi maka dapat dibayangkan berapa banyak anak perusahaan yang turut down lalu juga dapat dibayangkan berapa banyak karyawan yang akan kehilangan pekerjaan mereka. Ini akan menjadi sebuah perjalanan waktu yang mendebarkan.


" Hahhh... Pusing-pusing," Nathan mengacak-acak rambut ombaknya seraya menaupkan dua telapak tangannya lalu diletakkan di atas kepalanya.


" Jika kata-kata dr. Brian tersebut bukan sebuah kesalahan meramu kalimat maka ia menyembunyikan suatu kebenaran yang sangat penting tentang kematian Tuan James." Lanjut John sambil matanya menerawang jauh menatap plafon kamar kamarnya.


" Aku hanya seorang pekerja rumah tangga. Namun aku dan beberapa orang bisa menjadi kartu As dalam menjalani kemelut perusahaan ini bila kami diaktifkan." Gumam John lagi.


" Sebenarnya misteri apa sih dibalik kematian Tuan Besar James?" Matanya tak bisa diajak untuk beristirahat walau sepanjang hari ini ia sibuk mengurus tamu-tamu yang datang turut berkabung bersama keluarga besar Mariski.


( kita kembali ke situasi setelah penguburan siang tadi. 12:33 AM)


Sesungguhnya siang ini cuaca siang ini cukup panas. Namun syukurnya area pekuburan umum dilindungi dengan rindangnya pepohonan cemara maupun kamboja. Selesai ritual penguburan bos besar Mariski Corp tersebut, semua tetamu baik dari kalangan bisnis maupun pejabat politik dan petinggi-petinggi pendidik yang bernaung di bawah payung Mariski Corp. kembali ke mobil masing-masing dan berlalu dari pekuburan umum tersebut. Tak terkecuali dengan sebuah mobil Toyota Voxy berwarna putih yang diparkir cukup jauh dari area perkuburan.

__ADS_1


Seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian serba hitam hingga kaca mata hitam, berjalan bersama rombongan pria paruh baya juga yang mana mereka adalah para petinggi-petinggi Mariski Corp entah itu direktur divisi atau pun direktur anak-anak perusahaan. Sambil berjalan mereka nampak berbincang-bincang dengan serius. Entah itu tentang masa depan perusahaan besar ini atau pun juga peluang-peluang mereka menempati posisi yang lebih tinggi setelah kepergian bos besar mereka atau bisa jadi mereka membahas tentang ahli waris Mariski Corp yang masih remaja yang belum bisa berbuat apa-apa dalam hal mengurus dan mengatur perusahaan. Atau apalah itu namun dari yang terlihat, nampak rombongan itu sangat serius bahkan sesekali berhenti berbincang sambil menampakkan wajah yang serius lalu berjalan lagi hingga semuanya pamit kembali ke mobil masing-masing. Pria paruh baya itu pun kembali ke mobilnya yang diparkir cukup jauh


dari mobil-mobil yang lain. Ia masuk ke dalam mobil tersebut dan langsung menghempaskan tubuhnya di kursi mobil seraya menghembuskan nafasnya dengan keras.


" Ini bakal rumit Lex." Pria paruh baya tersebut langsung membuka suara ketika menghempaskan tubuhnya pada kursi mobil.


" Maksud tuan?" Ujar pria muda berumur 28 tahunan yang dipanggil dengan nama Lex. Nama aslinya adalah Alex. Dia asisten pribadi dari pria paruh baya yang baru masuk ke mobil tersebut sekaligus menjadi sopir pribadinya.


" Yah sampai saat ini perusahaan masih sangat menyembunyikan identitas ketiga orang penasihat perusahaan." Balas pria paruh baya tersebut menjelaskan.


" Bahkan teman-teman direksi dari anak-anak perusahaan juga masih bertanya-tanya." lanjut pria paruh baya itu.


" Ahhh... Marsya tak mampu berbuat apa-apa. Semua ini salahnya!!! Ia bergerak terlalu mencolok. Jika tidak situasi seperti sekarang akan mempermudah kita untuk mengambil alih perusahaan ini tanpa harus bersusah payah." Kata pria paruh baya itu.


" Hmmm. Begini saja, Lex kau hubungi anak-anak yang berada di dalam kantor pusat Mariski. Katakan kepada mereka supaya mengawasi setiap sudut kantor termasuk setiap tamu yang keluar masuk perusahaan jika ada yang mencurigakan suruh mereka untuk menghubungi Steven. Steven akan mengatur segalanya."


" Baik Tuan!" Alex kemudian mengambil ponselnya dan beberapa saat kemudian menghubungi beberapa orang yang telah di susup ke dalam Kantor Pusat Mariski Corp. Sedangkan pria paruh baya tersebut melepaskan kaca mata hitamnya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil, memejamkan matanya yang nampak lelah.


" Aku harus mengubah taktik dan menyusun strategi yang baru. Masa lalu dan dendam terhadap perusahaan ini tak akan kubiarkan padam begitu saja." Gumam pria tersebut dalam hati.

__ADS_1


" Sudah tuan!" Ujar Alex seraya menyimpan kembali ponselnya dalam saku celana.


" Baiklah ayo kita berangkat!" Mobil Toyota Voxy tersebut kemudian meninggalkan komplek pekuburan umum tersebut.


( Kembali ke kamar Nathan)


" Dari pada aku terus bertanya lebih baik aku menghubungi dr. Brian lalu menghubungi Steven yang hingga saat ini tak menunjukan batang hidungnya!" Gumam John dalam hati.


Ia mengambil ponselnya dan mencari nama kontak dr. Brian keduanya kemudian terlibat perbincangan serius.


" Ohhh... soal itu, bisa kita bertemu Than? Lebih bagus kita bicara empat mata sambil memilih tempat yang cocok agar terhindar dari mata-mata yang ingin mencari tahu." Balas dr. Brian dari seberang telepon.


" Baiklah dok. Nanti kita atur waktunya dan lebih cepat lebih baik. Aku mengkhawatirkan keselamatan tuan muda saya." Kata Nathan lagi.


" Baiklah Nathan. Baca saja WA dari saya."


tut tut tut. Panggilan dimatikan oleh dr. Brian.


####

__ADS_1


__ADS_2