
***
Pagi ini James bangun lebih awal dari biasanya. Jam setengah 6 pagi ia sudah bangun mandi sarapan sendiri di meja makan keluarga dan duduk manis di atas taman lantai 3. Ia sengaja duduk di atas lantai 3 agar mata dapat memandang ke seluruh area masion nya. Terutama ia hendak melihat pagar depan masion sebab sampai saat ini ia belum melihat batang hidung Marsya.
Ketika menanyakan keberadaan Marsya pada Maya pagi tadi, Maya hanya menjawab tidak tahu. Sedangkan kepada Jelita anak tirinya Jelita, ia mendapatkan jawaban yang sama. Bahkan Jelita menjawab sejak makan malam kemarin ia tidak melihat wajah ibunya.
"Sial, bagaimana perasaan mereka, masakan merasa biasa-biasa saja ketika melihat salah seorang anggota keluarga tidak ada tanpa kabar." James mendengus kesal sambil memandang nanar pada pagar besar masion pribadinya tersebut. Ia berharap dapat bertemu Marsya pagi ini dan meminta penjelasan akan kejadian dalam teleponnya semalam.
Hari ini sengaja James tidak pergi ke kantor. Ia telah menugaskan segala urusan kantor pada Steven. Ada beberapa hal yang harus dikerjakan oleh Steven hari ini. Menjenguk Jimmy sekaligus mencari tahu asal usul keluarga kandung Jimmy, termasuk mencari keberadaan Marsya tadi malam.
"Sial selama ini memang aku sudah curiga namun aku sengaja mengikuti segala kemauannya untuk melihat sejauh mana dia merencanakan semuanya. Aku ikut saja alur ceritamu." Kata James dalam hati sambil tersenyum kecil.
"Kurasa pendengaran ku tadi malam tidak meleset dan jika dugaan ku tidak salah, dia sedang berada di suatu tempat bersama orang lain. Sebab setahu aku dia tidak memiliki tempat bisnis dengan aroma dentum musik yang memekakkan telinga seperti tadi malam. Entah dia di mana." Lanjut James dalam hati sambil mengurut-urut kepalanya.
Ketika sibuk memikirkan semuanya itu, tiba-tiba ponselnya berdering kencang. James melirik layar ponselnya melihat nama Steven tertera di sana.
"Hmm.. Ada informasi apa lagi ini?" Tanya James dalam hati sambil mengambil ponselnya dan terdengar suara dari seberang sana.
"Hallo Pak, ada info baru mengenai anak itu!" Kata Steven dengan suara keras dan terdengar begitu girang.
"Hmm... Maksudmu Jimmy?" Tanya James lebih lanjut.
"Iya pak ini tentang Jimmy!" Sahut Steven lagi. Ada berita baru yang saya temukan dari beberapa anak buah yang saya sebarkan.
Ketika James sudah kepingin tahu hasil pencarian Steven tentang latar belakang keluarga kandung Jimmy, tiba ia mendengar deru mobil di halaman masionnya.
"Stev sebentar kita akan bertemu di rumah sakit. Aku ada urusan penting." Teriak James tiba-tiba dan langsung mematikan teleponnya.
"Pak.... pak.... Tapi ini tentang".
Tuutt.. Tuutt.. Telepon sudah dimatikan.
__ADS_1
James kemudian berlari ke arah pagar lantai 3 dan melihat ke bawah sapa tahu, mobil itu milik Marsya.
Ketika James tiba disana. Ia justru melihat sebuah mobil Avansa warna hitam keluar dari pagar masion.
"Hmmm... Setahu aku, di garasi mobilku tidak ada satupun mobil avansa berwarna hitam." Kata James dalam hati sambil berpikir keras.
"Mobil siapa tadi. Jika itu tamuku, kenapa tidak ada yang memanggil aku?" Kata James dalam hati sambil menggaruk dagunya yang tidak gatal.
"Hmmm.. Biar saya cari tahu di bawah," lanjut James sambil berjalan turun ke lantai satu menggunakan lift pribadi yang hanya dapat digunakan oleh orang-orang tertentu sebab lift ini akan melewati kamar pribadi keluarga.
Sampai di lantai satu, James langsung menghampiri pintu depan masion. Ia terus mencari-cari di sekitar depan masion hingga di halaman depan namun tidak menemukan sama sekali orang baru atau wajah orang yang hendak bertamu.
"Lalu siapa yang datang tadi? Tidak mungkin karyawan kantor sebab segala urusan kantor telah aku serahkan semua urusan kantor untuk sementara kepada Steven." Kata James dalam hati seraya berdiri mematung di taman depan Masion.
"Pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah seorang satpam di masion James, seraya menghentakkan James dari lamunan panjangnya.
"Hei Jhon," sahut James terkejut sambil menengok satpam yang dipanggil dengan nama Jhon tadi.
Salah satunya satpam yang diambilnya dijalanan. Namanya Jhon orang dari timur. Walau berkulit hitam namun orangnya setia, rajin, energik, sebab usianya 27, dan ia yang paling patuh pada James dan keluarganya, sebab ia menjadi begini karena kebaikan hati James dan keluarganya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Jhon lagi seraya menundukkan kepalanya.
"Oh ya Jhon, syukur ada kamu. Sesungguhnya saya sedari tadi kebingungan mau bertanya sama siapa. Soalnya masih jam 6 semua pekerja belum mulai bekerja. Paling-paling kamu yang masih stay di depan sini." Kata James mencoba membuka persoalan.
"Memangnya bapak mau bertanya apa? Kalau saya tahu mungkin saya bisa membantu bapak." Sahut Jhon lagi.
"Begini Jhon kamu lihat mobil Avansa hitam tadi?" Tanya James penuh selidik.
" Ohh, mobil yang tadi. Katanya mobil dari butiknya nyonya. Ingin menjemput Nyonya besar ke butik." Kata Jhon dengan senyum lebar.
Salah satu bisnis Marsya yang lagi naik daun adalah butik. Ketika 2 tahun yang lalu mereka menikah. James memberikan modal yang cukup besar untuk membangun bisnis sesuai keinginan Marsya.
__ADS_1
Tapi setahu James, Marsya hanya punya mobil Honda putih yang belum diganti sejak dihadiahkan James 2 tahun yang lalu.
Lalu apakah mobil hitam tadi? Apakah mobil baru ya?
"Hmmm... Jadi begitu ya?" Kata James sambil menatap Jhon dengan tajam.
Dia tahu benar, Jhon tidak mungkin dapat disuap hanya untuk menyembunyikan pengunjung pagi tadi. Dia terlalu setia untuk dapat dicurigai.
"Lalu apa kamu melihat, selain dia siapa lagi?" Lanjut James kembali menginterogasi Jhon.
" Kacanya hitam pekat dan ditutup bulat pak, saya tidak dapat menduga apakah dia sendiri atau dengan siapa lagi." Jawab Jhon sambil garuk kepala, ia takut dimarahi.
"Hmm... Baiklah Jhon. Istirahat sudah. Apa Melki sudah masuk?" Tanya James lagi.
" Sebentar lagi Pak. 10 menit lagi kami ganti shift." Jawab Jhon sopan.
James kemudian berlalu masuk ke dalam masion dengan segala kecurigaan yang berkecamuk dalam otaknya. Ia berharap semoga ini saat yang tepat untuk dapat mengambil sikap terhadap semua yang dilakukan Marsya kepadanya selama ini.
###
4 Hari Kemudian
" Selamat siang ibu Santy." Dokter yang menangani Jimmy memasuki ruangan Jimmy dirawat.
" Siang juga dokter." Kata Bibi Santy sambil bangkit berdiri menyudahi percakapannya dengan Jimmy yang sudah nampak tersenyum lebar sebab ia sudah sehat dan segar.
"Hari ini anak Jimmy boleh kembali." Kata Dokter itu yang tidak lain adalah Dokter Brian Direktur rumah sakit Mariski ini.
" Segala urusan mengenai biaya juga transportasi ke rumah Ibu sudah diatur oleh Bapak James Mariski. Pesan beliau; dia tidak menjenguk lagi sebab ada satu dua urusan keluarga yang harus ia selesaikan. Dan ini resep obat untuk anak Jimmy." Lanjut Dok. Brian lagi sambil tersenyum lebar.
"Terimakasih kasih banyak dokter." Kata Bibi Santy dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
###