Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Mereka berjalan ke luar rumah sakit itu bersama Dokter Brian. Sesampainya di lobi rumah sakit mereka telah dijemput oleh salah seorang sopir keluarga James.


"Ini dengan Ibu Santy dan adik Jimmy?" Tanya sopir tersebut sopan. Yah, siang itu Bibi Santy dan Jimmy sendiri sebab Sita masih disekolah. Beberapa hari terakhir ia terpaksa bersama Mang Dadang di rumah. Malam harinya barulah ia ke rumah sakit menjaga kakak kesayangannya Jimmy.


"Benar pak." Kata Bibi Santy tersenyum.


"Kalau begitu mari ibu saya bantu bawakan tasnya. Saya ditugaskan Pak James secara pribadi untuk mengantar ibu dan adik kembali ke rumah." Kata sopir tersebut sambil mengambil tas berisikan pakaian-pakaian Jimmy.


" Baiklah kalau begitu saya mohon pamit Ibu Santy dan nak Jimmy. Semoga cepat pulih dan banyaklah beristirahat." Kata dr. Brian sambil mengelus kepala Jimmy.


"Terimakasih banyak dok. Sudah banyak membantu kami." Kata Bibi Santy.


"Mari bu." Ajak sopir tersebut sambil berjalan ke arah mobil diikuti Bibi Santy dan Jimmy.


Mereka kembali ke rumah dengan perasaan penuh gembira. Bibi Santy dan Jimmy agak gugup bercampur gembira sebab ini kali pertama mereka naik di mobil mewah Toyota Alphard. Sudah barang tentu ini menjadi pengalaman tak akan terlupakan, sebab jangankan mobil atau pun motor gerobak di rumah Jimmy ataupun Bibi Santy saja tidak ada.


" Jika mengingat kembali kejadian tragis yang menimpa aku ini seperti membawa berkah." Kata Jimmy dalam hati sambil tersenyum sendiri.


Setelah menunjukkan jalan masuk ke dalam komplek kumuh mereka, sang sopir pun menepikan mobil pada gang yang tak bisa dilewati lagi dengan mobil dan akhirnya sopir tersebut menepikan mobil.


Ketika mereka keluar dari mobil, tetangga-tetangga bahkan hampir semua orang di situ mulai mengerumuni mereka. Bahkan sampai sang sopir tersebut mulai kewalahan untuk membuka pintu mobil. Sebab anak-anak dekil semakin banyak mengerumuni mobil. Iya, ini kali pertama mobil semewah itu bisa parkir di depan rumah mereka.


"Wah, Nak Jimmy sudah sehat ya. Katanya yang nabrak itu orang kaya ya? Tanya emak-emak di situ sambil mengelus-elus rambut Jimmy." Kata salah seorang emak tetangga Jimmy dan Bibi Santy.


"Semakin tampan ya Jimmy." Kata emak-emak yang lain.


Jimmy dan Bibi Santy hanya dapat tersenyum mentah sebab mereka pun masih kebingungan dengan apa yang mereka alami, ehh sudah diserbu dengan celoteh-celoteh emak-emak komplek.


Sedangkan sang sopir hanya dapat menggelengkan kepala melihat antusias emak-emak dan anak-anak di sana.


"Dasar emak-emak komplek kumuh! Hobinya gosip saja melihat ada orang lain yang dapat rezeki." Kata sopir tersebut dalam hati sambil menggeleng-geleng kan kepala.


Setelah terlepas dari kerumunan emak-emak komplek mereka kemudian berjalan ke rumah Bibi Santy. Sampai di sana mereka telah dijemput senyum ceria Mang Dadang dan Sita.


Sita segera berlari keluar teras rumahnya dan memeluk Jimmy dengan ganasnya.

__ADS_1


" Hei-hei, pelan-pelan sayang. Kakakmu belum pulih benar," kata Bibi Santy memperingati Sita sambil melotot ke arah anak perempuannya tersebut.


" Maaf-maaf kak." Kata Sita sambil mencubit kedua pipi kakak laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandung.


"Iya...iya ibu. Kan namanya juga kelewatan gembira. Soalnya aku sudah rindu kita berkumpul kembali di rumah." Sahut Sita pada ibunya sambil memberikan senyum terbaik pada ibunya. Disambut senyum manis Bibi Santy melihat kakak adik yang sangat akur.


Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan disambut pelukan hangat Mang Dadang.


" Jimmy ada kejutan buat kamu," kata Mang Dadang seraya melihat Sita disambut senyuman ceria dan anggukan dari Sita.


" Apa sih?" Tanya Bibi Santy dan Jimmy bersamaan.


"Ayo masuk," kata Mang Dadang seraya menarik pelan tangan Jimmy.


Sebelum mereka masuk sang sopir yang sedari tadi hanya terdiam melihat keluarga sederhana ini meluapkan kegembiraan mereka kemudian memohon pamit.


" Jika ada sesuatu yang dibutuhkan lagi maka saya akan kembali ke sini sebab saya ditugaskan oleh Pak James dan Steven untuk menangani segala kebutuhan keluarga Ibu Santy." Kata si sopir dengan senyuman penuh arti.


"Segala kebutuhan??" Gumam Bibi Santy dalam hati dengan dahi mengkerut.


Ketika mereka masuk ke dalam rumah betapa terkejutnya Jimmy dan Bibi Santy sebab di dalam ruang tengah itu seperti ada gunungan hadiah atau seperti tumpukan kado, plus sebuah sepeda motor metic baru.


"Mang Dadang, Sita, sebenarnya semua ini dari siapa?" Tanya Bibi Santy polos sedangkan Jimmy sudah dapat menduga semua ini dari siapa.


"Ini dari Pak James, katanya ini hadiah darinya. Nanti Pak James akan mencari satu waktu yang tepat untuk bertemu dengan Kak Jimmy." Kata Sita dengan antusias sambil sikutnya mencolek pinggang Jimmy.


" Lalu mengapa kamu menerimanya nak? Dia sudah terlalu banyak memberi untuk kita." Kata Bibi Santy dengan wajah memelas. Ia takut pemberian ini memiliki maksud terselubung.


"Mereka memaksa Bi. Sebab mereka pun ditugaskan oleh Pak James sendiri. Mereka takut gagal dalam menjalankan tugas." Kata Mang Dadang serba salah.


" Yah sudah." Sahut Bibi Santy dengan lemas. Ia takut berhutang budi dengan orang lain. Sebab barang-barang ini termasuk sepeda motor ini harganya tentu puluhan juta rupiah.


Suasana yang seharusnya gembira berubah menjadi membingungkan. Jimmy masih melongo terheran-heran dengan banyaknya hadiah, Sita senyum-senyum sambil mengelus-elus motor baru itu, Bibi Santy murung melihat banyaknya hadiah, sedangkan Mang Dadang kebingungan dengan ekspresi masing-masing orang penghuni rumah ini.


***

__ADS_1


Kantor Mariski Group


Ruang Direktur Utama


" Jika dugaan ku benar, ia pasti menyimpan sesuatu atau seseorang di rumah itu." Kata James sambil menghela nafas panjang.


" Dugaan ku lebih pada 'orang' Pak." Sahut Steven pendek.


"Kenapa kamu begitu yakin Stev?" Tanya James melirik ke arah Steven dengan tatapan ingin tahu.


"Kalau barang dia bisa saja simpan di Butiknya atau Cafe-cafenya. Mengapa harus di suatu rumah khusus? Aku yakin dia masih menyimpan sesuatu rahasia selama dua tahun Bapak dan dia menikah." Kata Steven mengurut logika yang sedari tadi berputar dalam kepalanya.


"Hmmmm... Bisa jadi Stev." Kata James manggut-manggut.


Sedari pagi tadi keduanya membahas persoalan Marsya istri james hingga menjelang siang. Pagi tadi Steven memberitakan hal mengejutkan bahwa Marsya sering lalu-lalang atau sering singgah di satu rumah di kawasan elit MAWAR. karena rumah itu pagarnya amat tinggi maka anak buah Steven belum bisa memastikan apa saja dan siapa saja isi dari rumah besar berharga miliaran rupiah itu. Dan lebih mengejutkan lagi anak buah Steven menemukan mobil Avanza Hitam itu adalah salah satu penghuni rumah itu.


"Persoalan ini semakin rumit." Kata James mengacak-acak rambutnya.


"Sebenarnya apa sih yang ia sembunyikan? Kurang apa kasih sayangku kepada dia maupun Jelita? Jelita seperti aku anggap anak kandungku loh!!!" Kata James mengeluh dan membuang nafas keras pertanda ia sedang meredam rasa amarahnya.


"Steve, tugaskan beberapa orang anak buah untuk terus memantau dia kemana pun dia pergi." Kata James tegas.


"Jika memang dia menyembunyikan sesuatu atau sedang merencanakan sesuatu, segera laporkan kepada saya."Lanjut James dengan suara lebih pelan.


" Dia salah jika berani main-main dengan Mariski, dia akan tahu akibatnya." Kata James lagi.


"Siap Pak!" Sahut Steven dan selepas itu langsung menghubungi anak buahnya. Perusahaan sebesar Mariski Group memang sudah barang tentu memiliki Bodyguard yang 24 jam siap melindungi James dan keluarganya.


"Lalu bagaimana kabar anak itu?" Kata James lalu menoleh ke arah Steven.


"Anak-anak kita sedang mengecek di Panti Asuhan Sejahtera, jika sudah final akan saya laporkan secara terperinci kepada tuan." Kata Steven dengan wajah berseri-seri. Sebab ia hampir pada satu kesimpulan tentang Jimmy.


" Baiklah Steve. Entah apapun itu hasil dari laporan mu, aku akan tetap memiliki rencana khusus dengan anak itu." Kata James sambil memutar kursinya ke arah jendela sambil memandang pemandangan kota metropolitan dari ketinggian gedung Mariski Group.


***

__ADS_1


__ADS_2