
***
" What?? Dia mengangkat anak?? Laki-laki atau perempuan??" Tanya Marsya dengan nada tinggi.
"Laki-laki kak. Katanya anak itu pernah ditabraknya seminggu yang lalu. Saya pernah dengar ceritanya waktu itu dari Kak James sendiri yang cerita." Kata Maya dengan nada serius.
"Lalu dia anggap Jelita itu apa? Apa salahnya Jelita? Karena perempuan? Atau anak Tiri?" Tanya Marsya sambil bangkit dari tempat duduknya.
Mendengar berita tentang James yang hendak mengangkat anak laki-laki menjadi anak, Maya yang sedang sibuk mengurus keuangan kantor segera menghubungi Marsya yang sedang berada di butiknya.
Maya merasa berita ini harus segera dilaporkannya pada Marsya dan Maya mengira kakaknya sudah tahu dengan keputusan James mengadopsi anak laki-laki.
"Anak itu usianya berapa sih?" Tanya Marsya yang sudah mulai mondar-mandir mengelilingi ruangannya karena tak puas dengan keputusan sepihak dari suaminya.
"Katanya sih, Usia empat belasan tahun begitu kak. Aku pun belum tahu sebab info ini aku dengar dari sekretarisnya Kak James. Memangnya kak Marsya sudah diberitahu?" Tanya Maya lagi.
"Mana aku tahu Maya? Kakak sendiri baru tahu dari kamu!" Jawab Marsya dengan nada tinggi.
"Cukup dik, kakak mau hubungi kakak iparmu dulu. Dia anggap apa aku ini? Bukan lagi sebagai istrinya yang sah? Selama ini ia selalu menanyakan dahulu kepada saya, kok tumben ya kali ini tidak menghubungi aku?" Lanjut Marsya lagi, sedangkan Maya hanya tenang saja mendengar ocehan kakaknya.
"Bagusnya kakak hubungi saja kak James biar lebih jelas kan." Jawab Maya.
"Oke Maya. Baik-baik di situ." Sahut Marsya sambil mematikan teleponnya.
"Huhhh.. Sepertinya aku harus mulai terang-terangan menghadapi Mas James sebab akhir-akhir ini aku merasa dibuntuti oleh anak buahnya Steven. Aku harus cari cara agar terang-terangan namun dengan sedikit tipu muslihat." Kata Marsya dalam hatinya sambil mencari nomor kontak suaminya.
***
Ruang Direktur Utama Mariski Group
" Bagaimana Steve?" Tanya James melihat dia mondar-mandir seperti setrikaan memikirkan sesuatu.
__ADS_1
" Apa yang pikirkan? Persoalan perusahaan atau persoalan apa?" Lanjut James sambil mengamati perubahan wajah Steven yang sedang mencemaskan sesuatu.
Mendengar pertanyaan James, Steven pun mengambil tempat berhadapan dengan James di meja kerja Presdir Mariski Group itu.
" Begini Tuan." Kata Steven mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk memulai memaparkan ketakutannya itu.
"Aku punya firasat buruk apa bila mendengar keputusan tuan untuk mengadopsi Jimmy menjadi anak, Marsya kemudian bertindak nekat." Kata Steven lagi.
"Maksud kamu?" Tanya James lagi, sambil merapatkan tubuhnya mendekati Steven. Sebab dia belum meraih-raih apa maksud kata nekat dalam nada ketakutan Steven.
"Aku takut dia bertindak nekat dengan mencelakai tuan, bila mendengar tuan berniat mewarisi sebagian besar perusahaan ini kepada anak adopsi ini." Kata Steven sambil memandang lekat-lekat pada James.
"Hahahaha!!" James tertawa meledak setelah mendengar ketakutan Steven yang berlebihan.
" Sudahlah Steve. Ketakutanmu terlalu berlebihan lah. Mana mungkin dia berani melakukan itu." Kata James dengan masih dibarengi tertawa-tertawa kecil.
"Aku yakin dia masih mencintaiku. Walaupun itu sekecil biji jagung. Pasti ada rasa sayangnya dong Steven." Lanjut James mencoba menyakinkan Steven bahwa ketakutannya itu tak beralasan sama sekali.
"Hahahha, sayang, cinta," Steven tiba-tiba tertawa mendengar James merasa Marsya masih punya rasa cinta terhadap dia.
Keduanya sedang dalam perdebatan panjang tentang Marsya, tiba-tiba ponsel James berdering kencang.
"Hmm... Ada telepon dari siapa siang-siang begini?" Tanya James dalam hati.
Ketika mengambil ponselnya tertera nama Marsya.
"Hallo..." Jawab James malas, sambil menyalakan tombol loudspeaker agar didengar juga oleh Steven.
"Hallo Mas, aku dengar mas hendak mengadopsi anak laki-laki? Tolong jelaskan aku mas. Memangnya Mas anggap siapa aku ini? Aku inikan istri mas!" Marsya langsung menjawab dengan rentetan pertanyaan, dan langsung pada pokok persoalan.
James mengedipkan matanya pada Steve, dan disambut Steve dengan senyuman sinis.
__ADS_1
"Apa maksud kamu sayang?" Tanya James pura-pura tidak mengerti dan masih dengan nada malas.
"Ahhhh, jangan pura-pura bodoh mas. Biasanya Mas selalu berdiskusi atau minta pendapat aku bila ingin mengambil suatu tindakan baik itu tentang rumah tangga kita atau bahkan sampai pada urusan perusahaan. Aku juga punya hak dong, apa lagi ini tentang anak. Dia akan jadi anak aku juga kan?" Lanjut Marsya masih dengan nada tinggi.
James dan Steven senyum-senyum sambil diam saja. Memang ini rencana mereka untuk memancing keluar sifat asli Marsya. Namun dia licik dan akan menggunakan segala cara agar tidak nampak akal bulusnya.
Mereka telah menelusuri seluk-beluk Marsya bersama kroni-kroninya. Mereka telah menemukan tempat bertemu dan melakukan semua kerjasama mereka. Namun James dan Steven belum menemukan bukti yang kuat serta siapa saja yang terlibat di dalamnya. Jika benar mereka juga bagian di dalam Mariski Group maka ini maka perusahaan ini ada dalam bahaya besar. Sialnya James belum bisa menghadapi Marsya dengan alasan Marsya memiliki andil besar dalam membangkitkan kembali James dalam jurang depresi. Inilah yang ditakuti Steven. Jangan-jangan dengan membaca kelemahan James mereka (Marsya dan komplotannya) menggunakan itu untuk menggulingkan secara perlahan-lahan perusahaan ini.
"Aku ingin bertemu!" Kata Marsya kemudian.
"Baiklah. Aku tunggu di kantor." Sahut James singkat sambil mematikan ponselnya.
James dan Steven saling memandang dan mencoba mengambil kesimpulan dari pembicaraan mereka.
"Kita tunggu saja Steve. Apa yang mau dia katakan nanti. Mau tidak mau, dia harus menerimanya." Kata James santai sambil bersandar santai di kursi meja kerjanya.
" Aku yakin jika dia menolak keputusan tuan ini berarti dia takut dengan hak alih waris perusahaan ini." Kata Steven tegas.
"Aku belum bisa sampai pada kesimpulan itu Steve." Kata James sambil melirik Steven.
Steven yang mendengar penuturan tuannya itu hanya dapat menghela nafas panjang dan tak mampu berkata-kata lagi sebab segala keputusan berada di tangan James. Dia hanya mampu memberikan usul dan saran selebihnya kembali kepada Tuannya itu.
"Oh ya, bagaimana kabar Jimmy? Apakah kau sudah persiapkan segalanya termasuk mendaftar dia sekolah? Sebentar lagi kan tahun ajaran baru, setidaknya dia tidak terlalu terlambat untuk kembali lagi bersekolah." Kata James lagi.
"Semuanya beres tuan," sahut Steven cepat.
"Dia akan bersekolah bersama dengan Jelita di sekolah yang sama." Kata Steven.
"Oh ya? Bagus sebab aku ingin dia mendapatkan pendidikan di sekolah yang bertaraf internasional." Kata James sambil tersenyum lebar. Ia sedang membayangkan apa bila anak itu adalah Jorge. Tentu ia akan sangat bahagia.
"Aku harap anak ini tidak mengecewakan kita Tuan." Kata Steven menyambung ucapan dan harapan James.
__ADS_1
Lalu keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
***