
" Hai juga,," Balas Jimmy dengan sedikit keheranan dan menggeser kursinya agar dapat memberikan tempat kepada orang itu.
" Kamu pasti bingung kan," lanjut orang itu sambil meletakkan segelas minuman dingin dan makanan ringan di meja.
" Iii....iya sih." Balas Jimmy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Kalau boleh tahu, kamu siapa ya?" Lanjut Jimmy sedikit gugup sambil celingak celinguk ke sini kiri dan kanan.
" Kamu anak kelas 7 ? Atau anak pindahan dari sekolah lain?" Tanya orang itu cuek sambil menikmati makanan dan minuman ringannya.
" Aku kelas 7." Jawab Jimmy singkat.
" Namaku Celine, Nama kamu siapa?" Orang itu menyodorkan tangan sambil menoleh ke arah Jimmy dan menyunggingkan senyum termanisnya.
"What??? Cantiknya!!!!!" Seru Jimmy dalam hati. Yah sedari tadi ia tidak sempat menoleh ke arah Jimmy dan wajahnya masih tertutup rambut indahnya yang dilepaskan tergerai.
" Namaku Jimmy!" Balas Jimmy juga sambil menyunggingkan senyum termanisnya.
Jimmy tak ingin terlihat takjub dengan kecantikan siswi remaja satu ini.
" Aku kelas 8. Dan ohhh ya aku pernah lihat kamu di rumah bapak James tetangga gua. Emangnya kamu siapanya pak James?" Lanjut Celina dengan santai.
" Aku... hmm.. Aku.. Anak angkatnya." Singkat padat dan jelas. Jimmy berusaha memberikan jawaban yang paling masuk akal. Dan sesuai dengan realitanya. Namun benar dugaan Jimmy jawabannya yang terkesan polos tersebut dengan gelak tawa dari Celine.
" Hahahaha.. Emang sampe segitunya ya? Emang Pak James nemu kamu di mana sih? Kok nekat mengadopsi anak sebloon kamu? Hahaha." Celine tergelak dengan keras setelah mendengar jawaban tidak masuk akal dari Jimmy.
" Emang salah ya jawaban aku tadi? " Gumam Jimmy dalam hati.
" Memang iya kok. Aku sebelumnya anak pemukiman kumuh. Aku ngga sekolah dan tinggal di bantaran sungai. Namun karena sebuah insiden Pak James mengadopsi aku menjadi anak laki-lakinya." Lanjut Jimmy serius.
Melihat keseriusan di wajah Jimmy, Celine akhirnya manggut-manggut.
" Pantasan saja sedari tadi aku perhatiin, Jelita memandang kamu dengan tatapan mengintimidasi." Sahut Celine.
" Aku melihatnya," sambung Jimmy cepat.
" Aku yakin matanya menampakan kebencian. Memangnya kalian ngga akur di rumah?" Tanya Celine lagi.
__ADS_1
" Jangankan saling menyapa, ketemu secara pribadi aja kami belum pernah. Palingan berpapasan di ruang makan atau di mana gitu." Jawab Jimmy lagi.
"Heran ya. Namun aku ngga terkejut. Sebagai teman kelas aku tau baik kok sifat dan tingkahnya." Kata Celine sambil bangkit berdiri.
"Ayo sudah bel. Kita akan ketemu lagi." Lanjut Celine sambil mengembangkan senyum terbaiknya ke arah Jimmy.
Dan berlalu. Tanpa menyadari ada sepasang mata bahkan lebih yang sedang menatap tajam.
###
Di suatu tempat dalam kantor Mariski Group.
" Bagaimana keadaannya?"
" Semuanya aman terkendali bos"
" Maksudku berkas-berkasnya?"
" Sudah hampir jadi dan sebentar lagi akan disahkan."
"Hmmm... Bagus.. Bagus... Ini merupakan satu cerita yang tak pernah dibayangkan oleh orang-orang." Lanjut orang yang dipanggil dengan nama bos tersebut.
" Ahhh.... Sudahlah jangan rusak kebahagiaan aku hari ini." Potongnya dengan cepat.
"Aku harap semua ini berjalan dengan lancar." Ucap pria itu sambil menatap pria paruh baya yang dipanggilnya bos dengan tatapan cemas.
###
" Steve, panggil Maya kemari. Katakan saja aku ingin meeting pribadi dengan dia." Kata James setelah pagi itu ia sedikit disibukan dengan urusan kantor yang kurang beres.
" Baik tuan," sahut Steven sambil berlalu pergi dari dalam ruangan pribadi Presdir Mariski Group tersebut.
Tak lama berselang masuk seorang wanita anggun cantik dan sangat berwibawa sambil menenteng tas serta beberapa map dibantu asistennya. Yah Direktur Divisi di Mariski Group memang diwajibkan memiliki asisten pribadi sebab tugas mereka sangat kompleks dan banyak layaknya Direktur anak perusahaan Mariski Group.
"Maaf Pak, aku agak terlambat sebab ada beberapa urusan dan data yang harus aku periksa sebelum dilaporkan kepada Bapak." Cerita Maya panjang lebar dengan sedikit gugup.
" Sebenarnya aku sudah sedikit kehilangan kesabaran." Jawab James pendek. Ia menatap tajam ke arah Maya.
__ADS_1
" Namun engkau masih bisa diselamatkan bukan karena alasan tidak masuk akalmu. Namun karena engkau adik Marsya." Lanjut James lagi.
" Satu hal lagi. Aku tak ingin ditipu sebab sejak aku menjadi presdir di perusahaan yang dibangun keluargaku dari nol ini, satu-satunya orang yang membuat perusahaan ini tak goyah adalah tidak adanya penipu dalam perusahaan ini." Kata James dengan suara tegas dan wibawa. Bahkan Maya telah mendapatkan wejangan dari bosnya ini di saat ia belum sempat duduk di kursi.
Maya, Steven, dan asisten pribadi Maya hanya berdiri mematung mendapat asupan ceramah dari bos mereka di pagi-pagi begini.
Namun memang benar bosnya patut meradang sebab ia sudah menunggu Maya hampir setengah jam untuk meeting di ruang pribadinya.
Jika Maya bukan adik iparnya mungkin Maya sudah ditendang dari kantor ini atau diturunkan jabatannya menjadi pegawai biasa.
" Aku sudah mencium gelagat mencurigakan dari pergerakan mu akhir-akhir ini namun aku masih mengumpulkan bukti." Kata James lagi. Kali ini dengan nada yang lebih lirih sambil mencondongkan tubuh ke depan.
" Akhir-akhir ini memang aku sedikit hati-hati menjalankan perusahaan ini sebab dengan hadirnya pewaris Mariski Group aku ingin semuanya berjalan dengan lancar sampai tiba saatnya ia mewarisi semua aset Mariski." Lanjut James lagi sambil tersenyum kecil dan mengedipkan sebelah matanya di sahabatnya sekaligus Asisten nya Steven.
Maya mengangkat mukanya dan memandang bosnya yang tersenyum sumringah.
" Mariski Group sudah mendapatkan pewaris? Bukankah?? Ahh...tidak ... Selamat Pak.." Sahut Maya dengan gugup dan dengan kata-kata yang terbata-bata.
" Aku mendapati ekspresi ketakutan dalam wajahmu." Sambung James cepat dengan wajah serius.
" Tapi sudahlah. Duduk dan berikan laporan mu." Kata James sambil menghempaskan tubuhnya pada kursi kebesaran Presdirnya.
Maya duduk di depan James dengan tatapan penuh tanya. Otak nya penuh dengan banyak pertanyaan belum lagi ia harus bermain kata dan data untuk laporannya kali ini dan berita baru yang cukup mengejutkan. Mariski Group telah mendapatkan pewaris. Ini berita baru yang cukup mengejutkan.
###
Sekolah Jimmy dan Jelita. Dalam sebuah ruangan kelas.
" Wah ini tidak bisa dibiarkan dong. Udah lama aku ngejar tu cewek. Sialan malah dekat dengan adik kelas." Kata seorang anak siswa kepada teman-teman nya.
" Iya tuh. Sialan!! Anak baru adik kelas lagi udah berani dekat-dekat dengan kembangnya sekolah ini." Sahut siswa satunya yang berambut gondrong.
" Yah ialah, mana mungkin Celine suka sama kamu amit-amit dah. Mending ke Barbershop sana. Benarin tu rambut!!" Celetuk salah satu siswa disambut gelak tawa teman-temannya.
" Kita harus lapor bos ni." Kata siswa yang pertama tadi.
" Iya tuh. Ini tidak bisa dibiarkan." Sahut mereka bersama-sama. Dan berlalu dari ruangan kelas mereka.
__ADS_1
###