Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Panik


__ADS_3

Butik M.


" What? Emang ngga salah kamu mendengarnya?" Teriak Marsya sambil bangkit dari tempat duduknya.


" Benar kak!! Aku baru saja balik dari kantor. Sekarang aku sudaha di Cafe biasa. Kakak kemari aja biar kita bicara aja di sini." Sahut Maya dari seberang telepon.


" Kurang ajar James. Dia mulai bermain sendiri di belakang aku! Huhhh.. ini tidak bisa dibiarkan. Sekarang saatnya aku mulai bergerak."


" Kak... Kak... Kak..." Terdengar teriak dari Maya dari seberang telepon.


" Iya.. Iya Maya!! Pelan sedikit kenapa sih!" Jawab Marsya terkejut.


" Gimana kak? Kok diam saja?" Tanya Maya lagi.


" Jadi nggak?" Lanjut Maya.


" Jadi.. jadi... Tunggu ya. Kakak akan ke situ sekarang." Jawab maya seraya mengambil tasnya dan keluar dari butik besarnya tersebut.


" Cepat kak! Aku takut ketahuan asisten Mas James yang cerewet dan sok-sok kan itu." Balas Maya lagi terburu-buru.


" Iya.. Iya.. Bawel amat sih. Nih kakak sudah di mobil." Sahut Marsya sambil mematikan HP nya.


Tak lama kemudian sebuah mobil Honda masuk ke dalam parkiran Cafe ibu kota yang baru saja diresmikan itu. Cafenya tidak terlalu ramai dan sangat cocok untuk diskusi-diskusi rahasia bagi sebagian orang.


" Lama amat sih kak," sambut Maya melihat kakaknya mengambil tempat di samping dia dalam Cafe yang sepi tersebut.


" Macet May. Pertanyaan mu seperti baru kemarin tinggal di Jakarta." Balas Marsya dengan cuek.


" Lalu bagaimana kabar yang kau sampaikan tadi? Emang benar Mas James sudah menetapkan pewaris?" Tanya Marsya dengan sedikit menaikan suaranya.


" Suaranya agak pelan kak!" Balas Maya dengan nada suara yang sedikit merendah.


" Aku takut, mata-mata si asisten cerewet itu ada di sekitar sini. Kakak kan tau sendiri bagaimana cara kerja Steven. Matanya seperti ada di mana-mana," lanjut Maya.

__ADS_1


" Yah sudah!! Bagaimana ceritanya? Emang benar berita itu?" Tanya Marsya lagi dengan ekspresi ingin tahu.


" Emang benar kak. Berita ini ia sampaikan sendiri di hadapan aku!" Jawab Maya sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Marsya.


Ia kemudian menceritakan secara garis besar pertemuan nya bersama James dan Steven pagi tadi, plus kecurigaan James akan hasil laporannya yang tidak detail. Bahkan James dan Steven sudah mencium gelagat dari orang dalam yang berusaha merongrong perusahaan lewat anak perusahaan.


" Ini semakin rumit!" Kata Marsya mendengar laporan adiknya. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri sambil memainkan sedotan pada minuman yang di pesan dari cafe tersebut.


" Lalu apa yang harus aku lakukan kak?" Tanya Maya pada kakaknya. Ekspresi nya menunjukan kekhawatiran yang amat sangat. Itu cukup beralasan sebab ia sudah terlalu jauh masuk dalam rencana gila kakaknya.


" Kita jalankan saja rencana cadangan!" Jawab Marsya dengan padangan jauh ke depan. Ia sibuk menghitung keberhasilan dari rencana gilanya yang sudah ia ramu beberapa tahun belakangan ini.


###


Kembali ke sekolah Jimmy.


" Hei anak pungut!!!" Teriak segerombolan siswa putih biru di gerbang sekolah.


Jimmy mulai berpikir untuk mencari cara keluar dari kumpulan siswa-siswa ini sebab ia tak ingin menodai hari pertama sekolahnya dengan membuat keributan. Ia tak ingin mengecewakan ayahnya yang sudah mempercayakan ia untuk sekolah di sekolah favorit ini. Namun terlambat rombongan enam orang siswa tersebut sudah berjarak satu meter dari hadapannya.


" Kamu yang namanya Jimmy anak pungut keluarga Mariski ya?" Kata seorang siswa yang paling tampan dan bertubuh besar dari semua mereka.


" Maaf aku tidak ada urusan dengan kalian!" Sahut Jimmy yang berusaha berlalu dari mereka. Namun sebelum ia berbalik dan berjalan ke arah gerbang keluar.


" Woi.... woii... Santai kawan.. Kita orang baik-baik kok!" Balas seorang lagi yang berambut brekele sambil menghalangi jalan.


Jimmy berusaha melepaskan diri dari kerumunan siswa berandalan tersebut, namun mereka sudah membentuk dinding agar Jimmy tidak melarikan diri dan melapornya ke Satpam sekolah.


Sebenarnya Jimmy bukan penakut seperti yang dibayangkan oleh enam siswa tersebut. Namun ia hanya berusaha melepaskan diri agar terhindar dari keributan. Apa lagi sekolah favorit ini penuh dengan peraturan-peraturan yang dapat membuat seorang siswa berada dalam masalah besar jika terlibat dalam aksi perkelahian seperti ini.


" Santai Bro. Kami terkhusus aku, hanya ingin memperingatkan. Kau sebagai siswa baru jangan berlagak paling keren, paling tampan di sekolah ini sehingga mendekati Celine seenaknya." Kata Anak yang tampan itu sambil tersenyum sinis.


" Supaya lu tau, Celine itu siswi paling cerdas dan paling cantik di sekolah ini. Bahkan sejauh ini tidak ada yang pernah mendekati dia kecuali bosku. Hehehe." Sahut Siswa brekele tadi sambil menepuk siswa yang tampan tadi.

__ADS_1


" Ingat dan camkan baik-baik. Jangan sekali-kali kamu dekati Celine lagi. Kalau kamu tidak ingin kenyamanan kamu di sekolah ini terganggu." Lanjut siswa tampan itu sambil mengajak teman-teman nya pergi.


" Dan satu lagi. Namaku Bruno." Setelah memperkenalkan namanya, Brian rombongan gengnya berlalu pergi.


Sepeninggalan mereka Jimmy menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras.


" Hahhh.. Dasar anak orang kaya. Masih sekolah sudah berlagak tunangan. Emang Celine itu tunangan kamu." Gerutu Jimmy dalam hati.


" Yah sudahlah. Mau bagaimana pun aku memang anak pungut. Walau ayah angkat aku kaya, aku tetap anak pungut yang di asuh karena belas kasihan." Sambung Jimmy dalam hati.


" Lebih baik aku pulang dan berusaha melupakan kejadian siang ini. Mungkin Paman Steven sudah menunggu aku di parkiran," lanjut Jimmy dan berlalu dari tempat itu.


Ia tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang sedang menatapnya dari jauh. Mereka tersenyum puas karena berhasil menakuti anak pungut itu di hari pertama sekolah.


Misi mereka jelas. Menjalankan rencana apa pun agar Jimmy tidak betah di sekolah ini.


Dasar remaja puber.


hehehehe.


###


" Tuan, aku rasa rencana kita tadi berhasil. Maya terpancing dan grogi dalam pemaparan laporannya. Dari sisi psikologis, Maya memang memang sedikit terpancing walau ia memang cepat menguasai keadaan. Setelah hasil laporannya yang sedikit mencurigakan aku baru menyadari ia sedang diperalat." Steven membuka percakapan di dalam mobil sore menjelang malam itu.


James dan Steven baru saja kembali dari kantor setelah menjalani beberapa meeting yang cukup melelahkan.


" Aku harap rencana mu berjalan lancar Steve. Sebab aku tak ingin keluarga ku berantakan hanya karena ide yang terburu-buru."


Sahut James dengan nada suara yang lirih menandakan Bos Mariski Group tersebut sedang kelelahan.


" Aku tahu Tuan. Tuan pasti memikirkan keselamatan Jimmy. Tuan Jangan khawatir. aku sudah memikirkan semuanya. Termasuk keselamatan tuan muda. Termasuk kebenaran dari masa lalu Jimmy." Lanjut Steven sambil tersenyum manis di belakang kemudi.


####

__ADS_1


__ADS_2