
Kedua polisi tadi menghantar bibi Santy dan Sita ke ruangan rawat nginap VVIP yang mewah khusus kalangan pejabat berduit dan khusus bagi keluarga pemilik rumah sakit ini. Mereka berjalan berdua berjalan di antara taman-taman yang menghiasi paviliun VVIP tersebut.
keduanya masih terbingung apa hubungan Jimmy dengan semuanya ini.
" Bu, apa hubungan Kak Jimmy dengan semuanya ini?" Tanya Sita sambil menatap keheranan lingkungan di sekelilingnya sambil menggamit tangan ibunya Bibi Santy.
" Mana mama tahu nak, ibu juga masih keheranan dengan semuanya ini. Ibu masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi dengan Jimmy sehingga dia harus berada di rumah sakit ini." Sahut Bibi Santy sambil menatap Sita.
Keduanya terus saling menatap dan berbisik satu sama lain menatap keheranan akan apa yang mereka lihat. Mereka terus berjalan mengelilingi taman Paviliun VVIP itu sambil dituntun kedua polisi tadi. Ketika memasuki lobi paviliun tertulis nama di atas gedung elit itu JORGE Paviliun . Yah itu adalah nama almarhum anak James yang sudah meninggal. Namun hingga saat ini jenasahnya belum ditemukan. Mereka berempat memasuki lobi paviliun VVIP tersebut dan telah disambut oleh kedua orang berjas yang sudah nampak kusut karena belum mandi dan mengganti pakaiannya sejak pagi tadi. Mereka berdua tidak lain dan tidak bukan adalah James dan Steven. Sang Presdir Direktur Mariski Group.
" Mari silahkan masuk Ibu Santy," kata salah satu pak polisi yang menghantar Bibi Santy dan Sita.
" Baik pak, terima kasih." Jawab Bibi Santy.
Mereka berempat mengambil tempat di dalam lobi paviliun tersebut. Disambut James dan Steven. Mereka saling berjabatan tangan dan mengambil tempat masing-masing di sofa lobi Paviliun tersebut.
"Perkenalkan Bu, nama saya James dan ini saudara saya Steven." Kata James sambil menunjukan tangannya ke arah Steven.
James memang selalu begitu. Di kantor, atau dalam situasi meeting ia akan memperkenalkan Steven sebagai asistennya. Namun dalam situasi lain ia akan memperkenalkan Steven sebagai saudaranya.
"Kamilah yang meminta ibu kemari dengan meminta bantuan kepada kepolisaan." Lanjut James menjelaskan.
" Apakah benar, ini dengan ibu Santy?" Tanya James sambil tersenyum seadanya. Sebab tampang lelah sangat nampak dari kerutan wajah mereka, James dan Steven.
" Benar pak." Sahut Bibi Santy cepat dengan suara bergetar karena masih takut dan panik akan keadaan Jimmy.
"Baiklah Bu. Maaf mengganggu aktifitas dan istrhat ibu malam ini. Kami terpaksa meminta bantuan kedua bapak polisi ini untuk mencari tahu latar belakang dan rumah keluarga dari anak yang kami tabrak tadi sore." Kata James sambil melirik Steven yang sedang duduk dengan ekspresi tegang dan serius menatap James dan Bibi Santy bergantian.
"Ha???? Ditabrak???" Teriak Bibi Santy histeris.
"Bagaimana keadaan anak saya?" Kata Bibi mengeraskan suaranya sambil menggoncang tubuh James.
" Tenang- Tenang ibu." Kata salah satu Pak Polisi sambil menenangkan Bibi Santy.
" Bagaimana tenang dia anak laki-laki tunggal saya pak." Sambil menoleh ke arah pak polisi tersebut dan marah.
"Bapak pasti punya keluarga. Bagaimana perasaan bapak jika anak tunggal bapak, anak sematawayang bapak mengalami kecelakaan seperti ini hah??" Tanya Bibi Santy dengan ekspresi marah menatap nanar kedua polisi tersebut juga James dan Steven secara bergantian.
Penyakit lama Bibi Santy mulai memuncak. Bibi Santy akan bicara banyak jika suatu persoalan tidak masuk dalam nalar pikirannya.
__ADS_1
Mendengar Bibi Santy mulai marah dengan nada tinggi. Keempat laki-laki itu pelan-pelan mulai menunduk dan terdiam seribu bahasa.
" Dia anakku laki-laki satu-satunya. Pewarisku satu-satunya, dan penjaga aku dan adiknya Sita ini." Sambil memandang Anak perempuannya Sita yang berada di samping dia.
" Tenang Ibu Santy, kami sudah mengurus anak ibu dengan baik. Dan ia baik-baik saja. Sekarang sedang istirahat di dalam sana." Kata Steven mencoba menenangkan keadaan.
"Boleh tahu siapa nama lengkap anak ibu ini?" Tanya James pelan dan dengan senyum yang tersimpul pelan.
"Namanya Jimmy Laihatu." Kata Bibi Santy mulai nampak tenang.
"Hmmm, jadi suami ibu orang timur ya? Sebab Marga Laihatu biasanya dari timur sana." Kata Salah satu polisi sambil memajukan badannya agak mendekat sebab menemukan ada yang menarik dari pertanyaan ini.
" Bukan pak. Jimmy anak angkat aku." Kata Bibi Santy singkat dan nampak di sudut matanya mulai nampak ada bulir- bulir air mata.
"Jadi dia bukan anak kandung ibu?" Tanya James menyambar cepat jawaban Bibi Santy sebelum Bibi Santy menjawab pertanyaan polisi tersebut.
"Ia Pak. Kedua orang tuanya telah meninggal dan dia sebatang kara sekarang. Sebagai orang yang rumahnya tepat di samping mereka saya kemudian mengurus Jimmy dan menjadikannya sebagai anak angkatku." Kata Bibi Santy sambil mulai terisak.
Jimmy dan Steven saling berpandangan dengan ekspresi tanda tanya.
***
"Lama juga ya pemeriksaannya." Kata James sambil mengacak-acak rambutnya yang mulai tak rapi.
" Entahlah pak," kata Steven sambil bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke arah pintu di mana Jimmy di rawat.
"Semoga anak itu baik- baik saja." Kata James sambil menghela nafas panjang dan duduk di lobi itu sambil menundukkan kepalanya.
"Hufft," Steven menghela nafas panjang dan bersandar di dinding dekat pintu UGD rumah sakit itu.
Rumah sakit ini juga dibangun James dan Steven ketika James mengalami musibah kehilangan semua anggota keluarganya. James merasa bahwa ia harus menyelamatkan banyak orang. Selama ini ia sibuk memperkaya diri dengan membangun sebanyak-banyaknya hotel dan swalayan-swalayan Mariski Group. Namun ia lupa untuk berbagi dan menyelamatkan nyawa banyak orang. Akhirnya James harus kehilangan semua anggota keluarga kesayangannya.
Ketika James dan Steven sibuk dengan pikiran mereka masing-masing tiba-tiba pintu ruang UGD terbuka dan keluar seorang dokter muda keluar.
"Selamat Sore Pak James dan Pak Steven," panggil dokter itu dengan hormat, sebab ia berhadapan dengan pemilik rumah sakit ini.
"Iya bagaimana dok? Bagaimana keadaan anak itu?" Tanya Steven cepat sebab ia berada tepat di samping pintu itu.
James yang berada di kursi lobi pun segera berjalan cepat ke arah dokter itu.
__ADS_1
"Boleh kita ke dalam pak?" Tanya dokter muda itu sopan.
"Ayo dok, aku sudah tidak sabar untuk memastikan keadaan anak itu." Sahut James cepat sambil mempersilakan dokter itu untuk masuk ke dalam ruangan Jimmy dirawat.
"Baik pak, mari pak." Kata Dokter muda itu sambil mempersilakan kedua orang petinggi Mariski Group.
Ketika memasuki ruangan tempat jimmy dirawat, James dan Steven cukup shock sebab melihat anak itu masih belum membuka matanya, masih dipasang oksigen, dan penuh perban di mana-mana. Di dalam ruangan itu sudah ada beberapa orang termasuk salah satu dokter laki-laki paruh baya yang adalah wakil direktur rumah sakit ini. Dokter itu bernama Dokter Frangky.
"Bagaimana keadaan anak ini dok?"
Tanya James ketika mereka berdiri tepat di samping tempat tidur Jimmy.
"Keadaannya tidak terlalu parah pak. Anak ini hanya terlalu banyak kehilangan darah dan beberapa luka ringan di beberapa bagian tubuhnya. Syukurnya masih ada stok darah yang sama dengan golongan darah anak ini di sini. Dan kabar baiknya wajah dan kepalanya tidak mengalami benturan keras, sehingga keadaan ingatan dan lain-lainnya aman- aman saja." Kata Dok. Franky dengan sopan dan senyum yang cerah.
" Lalu?" Tanya Steven serius menatap Dok. Frangky.
" Dia hanya butuh istirahat dan dirawat untuk beberapa hari lagi di rumah sakit ini." Kata Dok. Frangky dengan percaya diri.
" Baiklah Dok. Siapkan tempat yang nyaman yang paling baik di Paviliun VVIP. Di Jorge Paviliun." Kata James dengan penuh wibawa.
" Baik pak." Kata Dokter itu dengan sopan sambi menundukan kepala pelan.
Ketika mereka sedang mengurus kepindahan Jimmy dari ruang UGD tersebut ke Paviliun VVIP, Steven menggaet tangan James dan berkata penuh selidik ke arah James.
"Pak, dari pengamatan saya, wajah anak itu ketika bersih dan terawat, hampir mirip pak loh," kata Steven sambil tersenyum tipis.
" Hahaha," James tertawa pelan sambil menepuk pelan tangan Steven.
" Ada jutaan orang di dunia ini, tentu ada orang yang wajahnya hampir mirip Stev. Oh ya, Stev segera hubungi kepolisian ceritakan semuanya ini dan segera cari tahu keluarga anak ini." Kata James sambil tersenyum sebab ia puas anak itu baik-baik saja.
" Baik siap Pak." Kata Steven sambil memberikan hormat kecil kepada James.
Steven pergi setelah itu menghubungi kepolisian, sedangkan James masih sibuk dengan celoteh Steven tadi, sebab ia pun melihat hal yang sama.
Satu lagi yang mengganjal.
kelihatan dari perkiraan usia anak itu, hampir sama dengan usia Jorge.
***
__ADS_1