
MASION MARISKI
" Ini pasti perbuatan kakak kan??" Tanya Maya memecahkan keheningan ketika keduanya masuk dalam ruangan tamu masion besar itu.
" Hah??? Apa maksud kamu?" Tanya Marsya keheranan membalas tatapan tajam adiknya tersebut.
"Yah kecelakaan ini!!! Kakak jangan pura-pura deh, aku tahu kakak sangat membenci mas James, tetapi bukan dengan cara licik seperti begini kak. Cara seperti ini akan membuat kita semakin terpojok oleh asisten cerewet itu. cobalah kaka menggunakan cara yang lebih pintar. Jika sudah begini apa lagi yang harus kita lakukan?" Lanjut Maya dengan nada memelas.
" Kita ke kamar kamu sekarang!" Ajak Marsya sambil menarik tangan adiknya.
" Ehh ada apa kak?"
"Ahhh ayo!! Kita bahas persoalan ini di dalam kamar kamu." Bisik Marsya sambil terus menarik tangan Maya.
" Apa-apaan sih kak! Kan tidak harus menarik tangan dengan kasar seperti ini!" Balas Maya sambil menghentakan tangan yang digenggam Marsya.
" Ohhh .. Maaf...maaf dik. Kita harus cepat-cepat, kan sebentar lagi kita harus kembali ke rumah sakit, sebelum asisten cerewet itu mencurigai kita." Kata Marsya lagi dengan cepat.
"Ayolah dikkk!!"
Akhirnya Maya dengan langkah malas berjalan membuntuti Marsya yang sudah jalan mendahuluinya. Mereka berdua belum sempat mengganti pakaian kerja mereka karena memang persoalan ini adalah persoalan serius dan harus dibicarakan dengan segera termasuk harus dibicarakan dengan paman mereka Julio.
Setelah di dalam kamar Maya, Marsya kemudian memulai pembicaraan dengan sebuah pernyataan yang membuat Maya menjadi bingung.
" Bukan kakak yang merencanakan semuanya ini. Ini murni sebuah kecelakaan." Kata Marsya sambil menatap Maya lekat-lekat.
" Hmmm ...Masuk akal juga." Pikir Maya sambil menopang dagunya. Ia sedang duduk santai di atas tempat tidurnya sedangkan Marsya berjalan mengelilingi kamar tersebut sambil tangannya terlipat di dada menandakan ia sedang berpikir keras. Ia sedang berpikir keras sebab dengan kejadian tak terduga seperti ini mereka harus merubah rencana yang sudah mereka persiapkan sebelumnya di cafe.
" Masuk akal. Sebab jika itu sebuah kecelakaan yang disetting tentu saja pelaku tak harus datang repot-repot menjenguk atau bertanggungjawab terhadap korban dengan datang ke rumah sakit dan menangung segala biaya pengobatan. Yah paling-paling ia akan lari setelah melakukan aksinya. Dan yang lebih masuk akal lagi adalah pelaku membawa semua anggota keluarganya dalam insiden tersebut. Hanya ada satu kesimpulan yang cocok adalah ini murni sebuah kecelakaan." Kata Maya membuat kesimpulan seraya menarik nafas panjang.
__ADS_1
" Jika ini adalah sebuah kecelakaan murni, maka kita yang akan paling dirugikan. Kita belum tahu siapa pewaris yang di maksudkan oleh James tadi pagi ke kamu. Bahkan akhir-akhir ini ia mengambil keputusan sendiri mengelola keuangan perusahaan sendiri dan yah aku hanya seperti istri boneka di dalam rumah ini." Kata Marsya lagi seraya memijat dahinya yang nampak terkerut karena berpikir dan dibalut rasa kecewa dan marah akan perubahan sikap James.
"Maksud kakak?" Tanya Maya keheranan.
" Bukankah kakak merasa diuntungkan jika Tuan James lagi dalam kondisi koma seperti sekarang ini?" Lanjut Maya.
" Engkau pikir semudah itu?" Tatap Marsya dengan tajam.
" Keluarga Mariski dibangun dengan aturan warisan yang cukup ketat dan sangat berbelit-belit." Lanjut Marsya.
"Ma.. Maksud kakak?" Maya kemudian membenarkan tubuhnya untuk lebih mendengar dengan serius.
" Pewaris dan pemberi keputusan dalam ruang lingkup perusahaan Mariski ini hanya diberikan wewenangnya kepada James dan anaknya yang bermarga Mariski. Tidak bisa diputuskan atau diambil alih olehku walaupun aku adalah istri sah dari James." Jelas Marsya dengan tumpang tindih.
" Maksudnya gimana sih kak? Aku jadi ngga ngerti deh! Lalu jika demikian maka bila seorang presidir meninggal tanpa keturunan pewaris Mariski lalu perusaan ini akan diberikan atau dijalankan oleh siapa jika bukan istrinya?" Balas Maya lagi.
"Aduh mbak juga jadi bingung mau jelasinnya gimana! Masa kamu tidak mengerti sih?" Tanya Marsya lagi dengan mata melotot ke arah Maya.
" Iya aku sedikit menangkap maksud kakak tadi. Hanya yang tidak aku mengerti, bukankah Jelita juga adalah anak Mas James? Jadi kakak tinggal menggunakan nama Jelita untuk dapat mengambil alih perusahaan Mariski untuk sementara waktu?" Lanjut Maya dengan senyum penuh kemenangan.
" Ihhhhh Maya kamu ini bloon banget sih. Masa ngga ngerti juga. Jika aku menggunakan nama Jelita maka aku tak perlu berdiskusi dengan kamu. Bagaimana jika perusahaan lebih memilih menggunakan nama bocah pungut itu? Dia juga anak James Mariski, lalu untungnya, dia anak laki-laki Maya. Pewaris perusahaan harus laki-laki. Akan diberikan kepada perempuan jika tak ada keturunan laki-laki." Kata Marsya menjawab senyum sumringah Maya yang sekarang sudah tak nampak lagi.
" Hahhhh. Aku baru ingat. Hampir saja melupakan bocah itu." Dengus Maya sambil kembali menunduk menatap lantai kamarnya.
" Sejauh ini memang Mas James belum melekatkan nama Mariski pada anak pungut itu. Jadi kita masih bisa leluasa untuk bergerak. Namun yang sedang aku pikirkan sekarang adalah seorang pewaris yang dikatakan James tadi pagi ke kamu." Balas Marsya sambil menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur Maya.
" Ahh...... Sudahlah kak. Lebih baik sekarang kita mandi siapkan diri untuk kembali ke rumah sakit. Jangan sampai kita dicurigai Steven aku beberapa hari ini sudah pening menghadapi asisten cerewet itu kak!!" seru Maya sambil bangkit dari tempat tidur.
" Baiklah kita ketemu 45 menit lagi di depan masion." Balas Marsya sambil berlalu dari kamar adiknya tersebut.
__ADS_1
###
" Heii...Jimmy!!!!!" Teriak seseorang sambil membuka pintu kamar tempat James di rawat.
Seketika Jimmy ke sumber suara tersebut dan menemukan saudari tirinya di sana.
" Jelita ada apa??" Sahut Jimmy malas.
" Kamu akan terkejut melihat ini!!" Sahut Jelita sambil berjalan ke arah Jimmy dan menarik lengan remaja itu.
"Tumben ia akur dengan aku?" Gumam Jimmy dalam hati sambil mengerutkan dahinya.
" Ayolah tidak usah banyak berpikir. Kamu akan terkejut melihat dia. Ayo!!!!" Kata Jelita lagi dengan serius sambil terus menarik lengan Jimmy.
" Ahhhh Jel... Kamu kan lihat aku sedang menjaga ayah." Sahut Jimmy malas sambil sesekali melihat ke wajah ayahnya yang belum sadarkan diri.
" Kan ada Paman Steven!!!" Balas Jelita sambil matanya mencari sosok yang di sebutkannya tadi.
" Hah!?? Di mana paman Steven??" Tanya Jelita setelah matanya tidak menemukan sosok yang ia cari.
" Paman Jatuh pingsan." Jawab Jimmy sambil menceritakan kembali kejadian beberapa waktu yang lalu.
Setelah mendengar cerita Jimmy, Jelita hanya dapat menghela nafas panjang. Ia tak menyangka akan terjadi seperti ini. Ibunya dan bibinya Maya juga belum kembali sedari tadi.
" Yah sudahlah. Tapi aku minta waktu kamu lima menit doang kok!" Pinta Jelita dengan nada memelas. kamarnya tak jauh dari kamar ayah.
" Baiklah. Lima menit oke??" Tanya Jimmy dan dibalas dengan anggukkan mantap dari Jelita.
keduanya keluar dari kamar tempat James di rawat dan bergegas ke sebuah kamar yang tak jauh dari kamar itu. Namun masih dalam ruang lingkup Paviliun tersebut. Ketika Jelita membuka kamar rawat inap paviliun tersebut betapa tekejutnya Jimmy ketika menemukan dan mengetahui siapa yang terbaring di dalam kamar tersebut.
__ADS_1
###