Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

" Ini tidak seperti biasanya," gumam Celine dalam hati.


" Tentu pengumuman ini bersifat urgent sehingga diumumkan lewat pengeras suara. Biasanya juga ditempelkan di papan pengumuman atau lewat website sekolah seperti biasanya." Lanjut Celine dalam hati.


(Suara Speaker)


" Selamat siang para siswa dan siswi SMP Nusantara yang terkasih. Siang hari ini saya sebagai kepala sekolah mewakili seluruh dewan guru serta staf sekolah SMP Nusantara ini dengan sedih dan berat hati terpaksa mengumumkan berita penting ini kepada siswa dan siswi sekalian. Berita ini adalah sebuah berita duka yang datang dari Ketua Yayasan Nusantara sekaligus pemilik sekolah swasta kita ini. Ketua Yayasan yang tercinta telah dipanggil Tuhan setengah jam yang lalu.


Jimmy dan Celine serta beberapa siswa siswi di dalam kantin yang sedari tadi mendengar berita dengan serius dan tenang kini mulai ribut dan bersuara sambil berbisik-bisik tak lama kemudian semakin ribut sebab tampak di suatu sudut sekolah tak jauh dari kantin yakni di lapangan basket sebagian siswa dan siswi mengerumuni seseorang yang berteriak histeris.


Celine yang sedari tadi diam mendengar berita juga mulai nampak bereaksi dengan menutup mulutnya sambil memandang Jimmy lekat-lekat. Jimmy yang menatap perubahan wajah dan bahasa tubuh Celine mulai bertanya-tanya dalam hatinya.


"Ada yang tidak beres," demikian gumam Jimmy dalam hati. Hal ini masuk akal sebab beberapa siswa dan siswi dalam kantin saat ini mulai beberapa kali mencuri pandang terhadapnya sambil saling berbisik satu sama yang lainnya. Maka dari itu kejanggalan terhadap situasi ini menjadi masuk akal bagi Jimmy. Dan ia mulai menerka-nerka sambil memasak telinga lekat-lekat.


(Lanjutan suara speaker)


" Sebagai kepala sekolah saya tahu bahwa ada dua orang siswa kita adalah anak dari Ketua Yayasan SMP Nusantara sekaligus pemilik sekolah tercinta kita ini Almahrum Bapak James Mariski. Maka dari lubuk hati yang paling dalam saya mewakili seluruh..."


Suara kepala sekolah yang terdengar di speaker tak lagi masuk ke telinga Jimmy. Suara kepala sekolah itu bahkan sekarang hanya terdengar seperti dengung lebah di telinga dan kepala Jimmy. Ia jatuh berlutut dengan tubuh bergetar hebat. Tak ada sepatah kata pun yang terukir dari bibir dan mulutnya. Wajahnya mulai panas dan memerah matanya mulai berkaca-kaca, gelap dan kunang-kunang entah apa yang harus ia katakan sekarang. Lidahnya kelu bahkan untuk berteriak sekalipun ia tak sanggup. Tak lama kemudian pandangannya mulai gelap kabur-kabur dan sesaat kemudian kesadarannya pergi dari kepalanya. Seingat dia di saat-saat situasi batasnya tersebut ia sempat melihat Celine dan beberapa temannya baik laki-laki maupun perempuan berlari menghampirinya dengan setengah berteriak menyebut namanya.

__ADS_1


Selanjutnya pandangannya gelap dan jiwanya sekarang pergi untuk sementara keluar dari kesadaran. Wajah pertama yang muncul dalam kegelapan alam bawah sadarnya adalah James. Wajah yang begitu ia cintai dan ia sayangi walau hanya beberapa waktu. Dan terus mendekat kepadanya yang sedang meringkuk letih dalam lautan alam bawah sadar. Ketika semakin dekat dan terus semakin dekat sementara tangan kekar tersebut hendak memeluk dan menyentuhnya, tiba-tiba saja dunia alam bawah sadarnya tersebut berubah kosong dan gelap. Dan tak lama kemudian muncul cahaya dari kejauhan semakin dekat semakin dekat dan terus mendekat. Selanjutnya kelopak mata Jimmy mulai bergerak perlahan dan terus di ikuti seluruh tubuhnya. Beberapa saat kemudian seluruh kelopak matanya terbuka dan ketika pandangan mata terbuka seluruhnya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang begitu akrab dengannya beberapa bulan terakhir. Selanjutnya tubuhnya beraksi ketika rambutnya dibelai oleh telapak tangan seseorang. Sontak kelopak mata dan kepalanya bergerak mencari pemilik tangan tersebut.


" Aku di mana?" Tanya Jimmy dengan suara serak.


" Paman dokter." Jimmy menyapa masih dengan suara serak setelah menyadari orang yang membelainya tersebut adalah direktur rumah sakit milik keluarga Mariski sekaligus dokter pribadi keluarga mereka.


" Dimana aku sekarang?" Tanya Jimmy lagi dengan wajah penuh tanda tanya.


" Tuan muda berada di dalam kamar tuan muda." Sahut suara yang juga sudah begitu akrab dengannya.


" Paman Nathan?"


" Tenanglah tuan muda. Tuan muda masih butuh istirahat. Tuan muda jangan terlalu memaksakan diri untuk bangun." Balas Nathan seraya mendekat ke tempat tidur Jimmy menahan sekaligus membantu Jimmy bangkit dari tempat tidurnya.


" Tidak paman. Aku ingin memastikan jika berita di sekolah itu tidak benar. Benarkan paman?"


" Ayo jawab aku paman?" Teriak Jimmy sambil mengguncang tubuh Nathan sang kepala rumah tangga di Masion Mariski tersebut.


Jimmy yang terus bertanya dan mengguncang lengan Nathan tak mendapatkan jawaban dari sedikit pun dari pria tersebut justru yang didapatkannya hanya wajah yang tertunduk lesu dari Nathan.

__ADS_1


" Paman dokter!!" Jimmy bangkit dari tempat tidurnya tak peduli keadaan kepalanya yang masih pusing dan sakit.


" Paman dokter yang merawat ayah. Paman sudah berjanji jika ayah kenapa-kenapa kita akan mengantar ayah ke Singapura. Tak peduli apa pun itu kita akan menyembuhkan ayah." Teriak Jimmy lagi dengan suara semakin serak dan beberapa kali tersedak sebab kini matanya mulai berkaca-kaca.


dr. Brian yang dimintai jawaban juga hanya terdiam lalu kemudian merangkul dan memeluk Jimmy disusul tangisan keras dari Jimmy dalam dekapan dokter Brian.


" Maafkan paman dokter, dik. Paman terlambat menyadari semua keadaan sebenarnya." Jimmy tak mampu lagi menahan isak nya. Ia kemudian menangis dengan histeris. Mendengar kata maaf dari mulut dr. Brian sudah sangat jelas. Kata "maaf" dari dokter pribadi keluarganya tersebut sudah melegitimasi kebenaran dari pengumuman di sekolahnya.


"Jadi ayah adalah pemilik sekolah mereka, juga menjadi ketua yayasan dari Yayasan Persekolahan Nusantara yang memiliki beberapa sekolah tersebar di kota metro ini maupun di luar kota di daerah pelosok. Itulah yang aku tahu." Gumam Jimmy dalam hati. Di sela isak tangisnya.


Setelah hampir seminggu lebih menjadi murid di sekolahnya itu Jimmy bahkan tak tahu sama sekali jika sekolah itu milik ayahnya. Yayasan Persekolahan Nusantara adalah milik ayahnya milik keluarga Mariski.


Jimmy terus menangis. Jadi benar kata kepala sekolah ada dua anak dari ayah James di sekolah mereka. Dia dan Jelita. Dan ia baru mengerti teriakan histeris dari seseorang yang menangis saat mendengar pengumuman tersebut adalah Jelita.


" Ahhhh.... Ada begitu banyak rahasia ayah serta perusahaan Mariski ini yang belum aku ketahui. Lalu ayah sudah pergi meninggalkan aku sendirian menghadapi perusahaan ayah di usia aku yang masih berumur jagung." Jerit Jimmy dalam hati sambil terus menumpahkan air mata di dada bidang dokter pribadi mereka tersebut.


Sedangkan Nathan terlihat sesekali menyeka air matanya. Namun pikirannya juga sedang menyelidiki sesuatu. Yah, kalimat dr. Brian begitu aneh! Ia terlambat menyadari sesuatu?? Tentu ada yang tidak beres.


###

__ADS_1


__ADS_2