
"Hahhh.. Hari yang sangat melelahkan." Kata jimmy dalam hati sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk.
"Hari pertama sekolah seperti hari pertama masuk ke rumah ini dan menjadi bagian dari keluarga Mariski, beberapa bulan yang lalu. Penuh drama dan penolakan. Ini baru hari pertama sekolah dan aku tak tahu apa lagi yang akan terjadi ke depannya. Sekolah, rumah, perusahan ayah dan berbagai drama lain yang sudah mewarnai kehidupanku beberapa bulan terakhir. Aku ingat betul ketika hari itu ayah meminta pertangungjawaban Bunda, Jelita dan adik bunda jelita tentang penggunaan uang setiap bulan yang membengkak di kartu kredit dan harus ditebus oleh ayah. Semua terungkap kalau semuanya adalah pemainan dari Bunda Marsya yang sengaja berbelanja royal untuk kepentingan tertentu yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan Bibi Maya hampir saja diusir dan dipecat ayah karena berani menipu dengan alibi membelikan mobil kepada kekasihnya padahal bibi sendiri belum memiliki kekasih. Syukurlah saat itu ayah masih memberikan pengampunan karena bunda Marsya menangis dan memohon agar ayah memberikan kesempatan kedua kepada mereka. Ayah tak tega itulah kelemahan ayah dan akhirnya ia memberikan kepada ketiganya hukuman yang setimpal. Tak terasa sudah sekian lama kejadian itu dan aku mulai terbiasa dengan kehidupan konglomerat yang penuh dengan drama baik itu tentang persoalam perusahaan bahkan hingga persoalan pewaris perusahaan." Lanjut jimmy dalam hatinya sambil menerawang langit-langit kamarnya.
Ketika pikirannya sedang berkecamuk dengan itu semua, tiba-tiba bunyi ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.
Tok tok tok
" Masuk, pintu tidak dikunci!!" Sahut Jimmy yang enggan bangun dari pembaringan. Ia tahu tak ada yang mengetuk kamarnya saat malam-malam begini selain ayahnya tentu saja Paman Nathan kepala pelayan masion ini.
Clekk...
Pintu kamar terbuka dan Jimmy yang masih berbaring malas di pembaringannya sontak bangkit sebab tak biasanya orang ini menyempatkan diri untuk datang ke kamarnya. Di rumah ini saja hampir beberapa bulan ini ia dapat menghitung dengan jari berapa kali mereka bersua dan ngobrol layaknya keluarga. Jimmy menatap keheranan sosok orang yang masuk dalam kamarnya tersebut.
" Jelita? Mari masuk." Kata Jimmy dengan ramah sambil mengajak Jelita masuk ke dalam kamarnya, walau masih dengan ekspresi sedikit canggung.
Ini kali pertama Jelita masuk ke dalam kamarnya, setelah sekian lama menjadi bagian dari keluarga Mariski. Sebagai saudara saudari walaupun tiri ini tentu sangat tidak lazim. Namun demikianlah kenyataannya.
Kamar Jimmy memang terbilang luas dan mewah selain tempat tidur yang mewah dan besar juga terdapat tempat belajar semacam meja kerja di perkantoran, ada komputer yang sedang menyala disertai musik yang mengalun lembut. Bias-bias lampu yang terkesan remang-remang berwarna-warni namun di situlah letak kemewahannya.
Sebenarnya Jimmy tak terlalu sibuk dengan kamarnya. Namun selama beberapa bulan ini Steven asisten pribadi James selalu datang membawa orang-orang yang dibayar untuk mendesain kamar ini sesuai keinginan James dan tentu saja Jimmy sendiri agar membuat Jimmy semakin betah di rumah ini.
Jelita memasuki kamar Jimmy dan melihat sekeliling kamar itu dan satu kata yang muncul di balik bibir mungil itu. Jimmy menyalakan lampu kamar agar terlihat terang. Sontak Jimmy melihat Jelita yang menatap keheranan pada kamarnya.
"Wow...." Kata Jelita dalam hati.
" Kamar ini seperti sebuat hotel bintang lima. Mewah dan elegan. Aku yakin jika teman-teman kelasku melihat kamar ini akan takjub dan betah sebab kamar ini didesain sesuai dengan gaya remaja zaman sekarang trendi dan tentu saja mewah." Lanjut Jelita dalam hatinya.
Melihat Jelita yang nampak bengong dan melamun menatap sekeliling kamarnya, sedangkan Jimmy menatapnya dengan tatapan penuh keheranan.
__ADS_1
" Anak ini mengapa masuk dan hanya bengong melihat kamarku?" Tanya Jimmy dalam hati.
" Hei... Jel.." Panggil Jimmy membuyarkan lamunan Jelita.
Ia sengaja mempersingkat namanya agar terkesan akrab sebab selama beberapa bulan ini hubungan mereka tak begitu akur sejak kejadian malam interogasi itu.
" Ehhh .. Iya..." Sahut Jelita salah tingkah.
" Hai kamu kenapa?" Tanya Jimmy seraya melambaikan tangannya ke arah Jelita yang masih nampak bengong dan salah tingkah.
" Mari silahkan duduk." Lanjut Jimmy seraya duduk di kursi meja belajarnya sambil mempersilahkan Jelita duduk di kursi yang satunya.
Namun bukannya duduk, Jelita malah berjalan santai sambil melipat tangan dan mengelilingi kamarnya itu.
" Wow... Mewah, luas dan trendi. Yah.. gue memakluminya karena ayah sangat memanjai kamu ketimbang gue. Ayah lebih sering ke kamar lo berbicara berdua dengan lo ketimbang gue. Membayar orang mendesain kamar lo dan lihat semua ini. Kamar gue bahkan lebih kecil dari ini mungkin hanya setengah bagian kali." Kata Jelita melampiaskan kekaguman sekaligus kekesalannya.
" Kesimpulannya. Hanya kamu yang dianggap anak oleh ayah, sedangkan aku?? Entahlah." Lanjut Jelita lagi sambil menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya Jimmy.
" Percuma saja aku membalas curhatan Jelita ini sebab yang ada akan menciptakan perdebatan tak habis-habisnya." Kata Jimmy dalam hati.
" Aku tak harus menjawab keluh kesahmu. Sebab sampai detik ini aku bahkan masih belum percaya dengan semuanya ini." Kata Jimmy seadanya sambil bersandar di kursi empuknya.
" Yah udah. Tak penting juga membahas itu sebab aku datang bukan untuk urusan itu." Jawab Jelita. Sambi menatap tajam ke arah Jimmy.
" Lalu perlu apa kamu malam-malam begini ke kamar aku?" Tanya Jimmy penuh selidik.
"Hmmm.. Hari ini, hari pertama kamu sekolah dan aku lihat kamu akrab dengan Celine tetangga kita. Memangnya sejak kapan kapan lo kenal dengan Celine?" Lanjut Jelita lagi.
" Barusan tadi di kantin. Itu pun dia yang datang nyamperin gua." Sahut Jimmy santai sambil mengutak-atik komputer yang sudah ia pelajari beberapa bulan ini di bawah bimbingan Steven. Ia mematikan musik agar dapat mengobrol dengan Jelita.
__ADS_1
" Aku hanya mengingatkan. Celine adalah primadona atau yahh... dapat dikatakan kembang sekolah kita. Dia didekati oleh banyak siswa yang berasal dari kalangan konglomerat atau pun anak-anak petinggi negeri ini. Gua yakin mereka ngga akan lepasin lo kalo-kalo lo berani untuk mendekati dia." Kata Jelita santai sambil melipat kakinya.
" Aku ngga ngerti apa maksud perkataan kamu tadi." Jawab Jimmy lagi sambil menatap tajam Jelita.
" Suatu hari nanti kamu akan tahu sendiri. Dan satu lagi. Aku ngga mau lu mengakui ke teman-teman di sekolah kalau sebenarnya kita berdua ini bersaudara." Sahut Jelita dengan suara yang sedikit keras.
" Ohh jadi ini maksud dari kedatanganmu malam-malam begini di kamar aku?" Tanya Jimmy.
" Yah cuma itu. Sebab aku ngga mau punya saudara sebloon dan kampungan kayak kamu. Bisa jatuh martabat gua dia mata geng gua." Lanjut Jelita sambil tersenyum sinis.
" Baiklah. Aku memang sejak awal ingin merahasiakan hubungan persaudaraan kita. Sebab aku hanyalah anak pungut dan akan tetap begitu di mata orang-orang selain dalam rumah ini. Bahkan ada beberapa orang dalam rumah ini yang masih belum menerima aku walau di depan ayah mereka seolah-olah menerima." Kata Jimmy sambil tersenyum mentah. Ia sengaja melontarkan kalimat sinis tersebut agar Jelita segera keluar dari kamarnya.
Sebenarnya Jimmy ingat ngobrol lebih akrab agar keduanya lebih dekat dan saling mengenal sifat satu sama lain. Sebab mau tidak mau mereka ada saudara saudari.
" Baguslah kalau lu menyadarinya." Kata Jelita lagi sambil memandang Jimmy sekilah dan berjalan ke luar kamar Jimmy.
Namun sebelum sampai di pintu kamar tiba-tiba seseorang berlari tergesa-gesa masuk ke dalam kamar Jimmy dan berteriak dengan nafas yang tak beraturan.
" Tuan muda..... Ahhhh Nona Jelita... Gawatt... Gawattt...." Teriak orang itu.
" Paman Nathan.... " Jimmy sontak bangkit berdiri dari kursi belajarnya da berlari memegang kedua bahu kepala pelayan rumah mereka tersebut.
" Heiii... Ada apa paman?? Ada apa?? Tenang...." Kata Jimmy mencoba menenangkan Nathan.
Sambil menelan ludah membasahi tenggorokannya yang kering karena berlari dari lantai satu sampai di atas kamar Jimmy ini, Nathan mengatur nafas dan berkata;
" Tuan besar... "
" Hahh??? Ayah?? Kenapa dengan ayah??" Tanya Jelita yang juga penasaran dengan kejadian mengejutkan tersebut.
__ADS_1
####