
Julia memijat keningnya. Ia sedang duduk di meja kerjanya setelah kembali dari Cafe Central. Seusai meeting dengan Clien yang bernama Mike pagi tadi, membuat sampai saat ini, Julia tak mampu berpikir jenih.
Berulangkali ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan mencari aktifitas lain atau mengerjakan tugas lain di kantor. Namun tetap saja tak mampu menepis kekalutannya. Ia mencoba memandang layar laptopnya mengutak-atik handphonenya namun tetap saja pandangannya hampa. Matanya kemudian tertumpu pada selembar map biru di hadapannya. Pemilik map inilah yang membuat ia kalut sepanjang hari. Dan nama yang tertera dalam dalam map inilah yang menguak luka lama dalam hatinya.
" Aku sudah tenang di sini, di kota kecil ini. Mengapa ia kembali mengusik kedamaian hati yang sudah tercipta belasan tahun ini?" Keluh Julia dalam hati.
Julia meraih map biru di hadapannya menimang-nimang untuk kembali membuka lembarannya. Mencoba mencari benang merah antara pemilik nama ini dengan luka lamanya yang kembali menguap.
Ketika ia hendak membuka sampul map tersebut, tiba-tiba terdengar bel telepon kantor.
" Iya??" Tanya Julia setelah menempatkan gagang telepon kantor pada telinganya.
" Maaf bu. Ada hal yang perlu aku laporkan." Jawab seorang wanita muda dari seberang sana.
Biasanya hanya Dinda sekretaris pribadi Julia yang dapat menghubunginya secara pribadi.
" Ada laporan apa Dinda?"
" Ada notifikasi yang masuk bu. Kita mendapat transfer 15 Miliar dari rekening atas nama Michael Haryadi." Lapor Dinda lagi.
"Hmmm... Jadi dia serius? Aku kira dia hanya datang menggertak menunjukkan identitasnya, menguak masa laluku lalu pergi." Kata julia dalam hati setara mengerutkan keningnya.
" Aku berpikir jika pembelian rumah hanyalah alibi." Gumam Julia dalam hati.
" Baiklah Din."
Julia menutup telepon kantor tersebut dan kembali larut dalam lamunannya sebelum alarm di handphonenya kembali menghentakkan Julia dari lamunannya.
Ia menatap layar HP-nya dan ia terkejut bahwa sudah saatnya ia menjeput Serly dari sekolahnya. ia memang protektif dengan anak sematawayangnya tersebut. Namun itu cukup beralasan sebab harta satu-satunya yang paling berharga buat Julia saat ini adalah Serly.
__ADS_1
Apa lagi sebentar lagi ia akan merayakan hari ulang tahunnya yang tiga belas tahun. Ia tak ingin kehilangan momen sedikit pun dari anak remajanya tersebut.
Julia kemudian beranjak dari meja kerjanya, menuju parkiran kantor menemui Mang Udin dan beberapa menit kemudian Toyota Innova telah melesat membelah jalanan kota Trenggalek yang nampak sibuk di pukul 13:00 lebih seperti sekarang ini.
####
Dari jauh, mata Julia tertumpu pada kedua sosok remaja yang berdiri berdekatan. Salah satunya adalah Serly anaknya. Namun remaja laki-laki di sebelahnya tak pernah ia lihat sebelumnya.
Julia memang sudah cukup terlambat menjemput Serly sebab sebelum menjemput anak remajanya tersebut, Julia menyempatkan dirinya untuk memeriksa hotel yang akan ia sediakan buat acara ulang tahun anaknya besok. Ia berencana membuat acara yang cukup mewah untuk ulang tahun putri sematawayangnya tersebut.
Hingga ketika ia tiba bersama dengan Mang Udin, Serly telah menampakkan wajah cemberutnya. Julia tahu bahwa sudah barang tentu Serly akan marah dan uring-uringan karena membiarkan ia menunggu hampir setengah jam di halte depan gerbang sekolah.
Buat Julia bukan itu yang menjadi soal, bukan wajah cemberut Serly, namun seorang siswa yang sedang mengajak Serly bicara nampak mencoba mencari perhatian Serly namun terus dicuekin oleh Serly. Tampak beberapa kali Serly menepis tangannya remaja tersebut yang hendak menarik tangannya.
Julia dapat melihat aksi keduanya dengan jelas sebab di halte tersebut tinggal mereka berdua. Sudah lebih dari setengah jam tentu saja hampir semua siswa sudah meninggalkan gerbang sekolah dan halte.
###
Wajah Serly nampak kusut, lusuh, penat sebab terik matahari siang ini nampak cukup panas ditambah lapar yang mendera. Ia berdiri di halte depan sekolahnya bersama Jimmy sahabat sebangkunya di kelas yang sedari tadi tak berhenti mengoceh. Serly yakin bahwa ocehan yang bernada kelakar sedari tadi dari Jimmy adalah sebuah upaya untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab dengan Serly sebagai sahabat barunya. Namun sialnya celoteh dan ocehan Jimmy tak membangkitkan minat Serly untuk menyambut ocehannya. Yang ada Serly semakin risih dan berusaha mengambil jarak dengan Jimmy yang terus mendekatinya. Isi halte depan sekolah semakin sepi sebab hampir semua anak sudah menemukan tumpangan untuk kembali ke rumah masing-masing.
" Heii... Sudah hampir setengah jam-an loh. Bagaimana kalau kamu aku antar balik ke rumah. Yahhh hitung-hitung supaya kita dapat berkenalan lebih akrab." Usul Jimmy setelah celotehnya sedari tadi tak dihiraukan oleh Serly.
" Aku tak biasa pulang sendiri. Jika ibu berhalangan biasanya sopir keluarga yang menjemput. Jadi kau tak usah kuatir." Balas Serly dingin sambil terus menatap jalanan yang masih ramai dengan kendaraan.
" Ayolah......" Jimmy mencoba menarik tangan Serly.
"Kan tidak elok jika aku sebagai laki-laki dan sahabat meninggalkan kamu sendirian di tempat ini."
" Ahh tak apa-apa kok!" Balas Serly masih dengan nada yang dingin sambil menepis tangan Jimmy.
__ADS_1
" Atau begini saja. Aku akan memberhentikan dua ojek satu untuk kamu dan satu untuk aku. Soal biaya biar aku yang tanggung. Kita kan saha....."
" Stoppppp...." Teriak Serly sedikit keras dengan tiba-tiba.
" Hei, anak baru yang bloon, dekil, pikir dulu baru ngomong. Apa kamu pikir aku miskin, ha? Tak punya uang sampai-sampai harus naik ojek untuk pulang ke rumah?" Teriak Serly menahan amarahnya sambil menatap tajam ke arah Jimmy.
Mendapat balasan yang sedemikian itu, Jimmy hanya mengangkat kedua bahunya lalu berlalu meninggalkan Serly yang masih menampakan wajah memerah tanda marah.
Selang beberapa waktu Serly menemukan mobil yang ia tunggu bergerak mendekat ke arahnya.
###
Julia hanya mengelus dada melihat kelakuan putri sematawayangnya yang masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan keras. Ia tahu Serly pasti bete, marah, karena untuk kali pertamanya Julia terlambat menjemput. Dari SD hingga sekarang ini adalah kali pertama Julia terlambat menjemput. Namun ada satu insiden yang harus Julia tanya setelah kemarahan Serly meredah. Sebab saat ini Serly tak mengucapkan sepatah kata pun. Belum sempat Julia menanyakan insiden di halte yang sepintas dilihat oleh Julia tadi tiba-tiba Serly berteriak dengan keras.
" Ihhhhh awas kau murid baru."
" Ada apa sayang?"
" Siapa murid baru itu yang kamu maksud?" Julia mencoba menenangkan Serly yang nampak masih mengekspresikan wajah marah.
" Itu yang di halte tadi Ma..." Jawab Serly ketus.
" Ohh jadi di halte tadi adalah murid baru di kelas kamu? Siapa namanya?" Tanya Julia sehalus mungkin dan berusaha mengorek kejadian tadi.
" Namanya Jimmy Mariski ma..." Jawab Serly masih dengan dengan nada ketus.
Deg deg
Mendengar nama itu Julia tersentak dan kaget seketika mukanya pucat.
__ADS_1
###