Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Tragedi


__ADS_3

" Tuan besar kecelakaan nona!!!" jawab Nathan cepat sambil menahan air mata yang nampak tergenang di bola matanya.


"Apa?? Ayah kecelakaan??" Teriak Jimmy dengan ekspresi syok.


Jimmy jatuh terduduk di atas permadani kamarnya yang begitu lembut.


" Apa??" Jelita yang selalu cuek dan tak pernah begitu repot dengan ayahnya nampak terkejut.


" Lalu bagaimana keadaan ayah? Apakah ayah baik-baik saja? Cepat jawab paman!!!" Teriak Jimmy sambil mengguncang tubuh paman John


" Maaf tuan muda, nona," sambil melihat Jimmy dan Jelita secara bergantian,


" tuan besar koma dan belum siuman sampai saat ini." Kata Nathan sambil menundukkan kepalanya. Sejujurnya kepala rumah tangga tersebut juga cukup syok. Ia hanya berpikir bagaimana nasib semua orang dalam rumah ini apa bila terjadi sesuatu yang serius pada tuan besar James.


Walau hubungan Jelita dan ayah sambungnya itu tak terlalu dekat namun kabar ini cukup membuat ia terpukul. Namun Jimmy adalah orang yang paling terpukul dengan kabar tiba-tiba ini. Ayah James adalah satu-satunya tempat ia bersandar. Ia masih kuat dan bertahan di tempat ini sampai sejauh ini karena ingin membahagiakan ayahnya. Membalas semua kebaikan ayah angkatnya tersebut. Kabar ini membuat ia down dan hampir saja ia berteriak histeris dan menangis jika tidak cepat menguasai keadaan.


Jelita kembali mundur dan terduduk di atas tempat tidur Jimmy dengan air mata tergenang di dalam kelopak matanya. Ia menutup mulutnya menahan tangis. Terkejut dan terpukul mungkin itu kalimat yang cukup tepat untuk mewakili suasana ketiga orang di dalam kamar tersebut.


Jimmy akhirnya bangkit dengan cepat menggait tangan kepala rumah tangga Mariski tersebut dan segera keluar dari kamarnya di susul Jelita dari belakang mereka.


Sambil menuruni tangga lantai dua, Jimmy berujar;


" di mana ayah dirawat?" Tanya Jimmy sambil terus menggait tangan Nathan tanpa menoleh ke arah dia.


" Di rumah sakit milik Tuan Besar James. Tepatnya di rumah sakit yang dulu tuan muda pernah dirawat." Balas Nathan dengan terburu-buru.


"Ayo paman!! Ambil salah satu kunci mobil di garasi dan kita segera ke rumah sakit tempat ayah dirawat." Lanjut Jimmy dan diamini oleh Nathan dengan sebuah anggukan kecil. Setelah itu ia berpisah dengan Jimmy di ruang tengah rumah dan berlari kecil menuju garasi.

__ADS_1


Sedang Nathan pergi ke garasi mengambil mobil Jimmy setengah berlari pergi ke depan masion sambil menunggu John. Ketika ia tengah menanti paman Nathan Jimmy mendengar derap langkah dari belakangnya. Ia menoleh dan menemukan Jelita sudah mengenakan jaket dan datang bergabung bersama Jimmy.


" Mengapa kamu menatap aku dengan wajah keheranan seperti itu?" Tanya Jelita melihat Jimmy memandangnya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Aku kira kamu senang jika ayah kenapa-kenapa?" Tanya Jimmy dengan kalimat penuh sinis.


" Aku tidak seperti lo pikirin." Sahut Jelita dengan singkat.


" Hmmm... Baiklah kalau begitu!" Jawab Jimmy tak kalah pendeknya lalu kemudian berlalu diikuti Jelita ketika Nathan sudah mengeluarkan mobil di depan rumah dan membuka pintu mobil untuk keduanya.


Selang tiga puluh menit mereka terjebak macat ibu kota, akhirnya tiba juga di depan rumah sakit miliki Mariski Group tersebut.


Ketiganya keluar dari mobil dan berjalan dengan terburu-buru masuk ke dalam rumah sakit besar tersebut. Setelah mereka bertanya pada beberapa perawat yang lewat akhirnya mereka tiba juga di Paviliun tempat James dirawat. Ketika tiba tempat di mana James dirawat, di depan kamar itu terdapat dua orang laki-laki yang sedang berdiri berdiskusi dengan wajah yang sangat serius dan nampak beberapa kali memijak kepala mereka. Salah satunya terdapat perban besar di kepalanya.


" Paman!!! " Teriak Jimmy ketika mengenali salah seorang pria yang berdiri di depan kamar James di rawat tersebut.


" Ahhh Jimmy." Tak banyak yang dapat Steven katakan selain menghampiri Jimmy yang datang menghampiri dia dan langsung memeluk remaja tersebut sambil membisikkan kata-kata penguatan.


Steven merangkaikan kata seadanya karena tak mampu lagi mengungkapkan kata yang pas untuk mewakili perasaan bersalahnya saat ini.


###


......Flash Back ......


...Beberapa Jam yang lalu...


" Steven biarkan aku yang bawa mobil!" Seru James ketika sore itu kedua petinggi Mariski Corp itu keluar dari lobi kantor Mariski.

__ADS_1


" Tuan, bukankah tuan lelah? Tuan istirahat saja dan aku saja saja yang bawa mobilnya." Balas Steven sambil memandang heran James yang sore itu nampak aneh.


Ini pertama kali James meminta membawa mobil ketika keduanya pulang kantor. James biasanya tak mengendarai mobil sendiri ketika pulang kantor dengan alasan lelah. Namun sore ini nampak sangat beda. Dan ini pertama kalinya.


" Sudahlah Stev. Bukan aku saja yang lelah. Engkau juga tentu lelah bukan?" Balas Bos Steven tersebut dengan senyum cerah.


Steven masih ingin memelas sebab ia tak ingin bosnya kenapa-kenapa jika mengendarai mobil dengan fisik yang lelah.


Sebelum Steven melanjutkan kata-kata permohonannya, James mengangkat sebelah tangannya dan mengisyaratkan Steven agar masuk ke dalam mobil.


Steven yang tak berdaya menghadapi kehendak bosnya tersebut akhirnya masuk ke dalam mobil dan diikuti James yang kemudian mengambil tempat di belakang kemudi.


Keduanya kemudian keluar dari halaman depan kantor Mariski Corp yang nampak kokoh menjulang tersebut dan bergabung dengan padatnya kendaraan membelah sibuknya jalan ibu kota.


Keduanya terdiam dalam perjalanan sedang Sedangkan Steven sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk. Ia bingung dengan sikap tuannya hari ini.


" Yah sudahlah kalau memang itu keinginan bos, yah mau bagaimana lagi?" Gumam Steven dalam hati sambil menghembuskan nafas dengan keras.


" Aku tahu kau pasti heran Stev." Kata James memecah keheningan seolah-olah ia tahu isi hati dari asistennya tersebut.


"Namun aku ingin membawa kamu ke suatu tempat yang akan menjadikan pertemuan ini sebagai sejarah besar bagi aku keluarga dan bagi jalannya perusahaan ini." Lanjut James dengan senyum yang mengembang.


" Maksud tuan?" Sahut Steven cepat dengan penuh tanda tanya.


" Sudahlah Stev. Sebentar kamu akan tahu juga." Balas James sambil melirik cepat ke arah Steven lalu kembali fokus ke jalanan ibu kota yang padat.


Ketika tiba mobil mereka tiba di sebuat perempatan, mereka berhenti sebab lampu jalan masih menunjukan lampu merah, James menghela nafas panjang, sedangkan Steven masih diam dengan kepala penuh dengan tanda tanya. Mereka berdua masih terdiam. Mungkin karena keduanya kehilangan topik pembicaraan atau pun lelah dengan segala urusan dan meeting perusahaan hari ini.

__ADS_1


Lampu Hijau dan James melaju mobilnya lagi. ketika hendak berbelok ke kanan, sebuah mobil kijang innova hitam yang seharusnya masih mengantri karena lampu merah dari arah kanan menerobos masuk ke arah mobil James. James yang terkejut mencoba menghindar dari mobil tersebut dengan membanting stirnya ke kiri. Namun malang, mobil itu terlalu dekat untuk dihindari sebab ia melaju terlalu cepat ke arah mobil James dan Steven.


###


__ADS_2