Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Bukan Karena Suatu Rencana


__ADS_3

Flash Back Off


" Maaf sayang, paman tak mampu menjaga ayahmu!" Ujar Steven di sela-sela isak yang tertahan dalam pelukkan anak laki-laki tunggal James Mariski tersebut.


Setelah usai bersua kisah dalam pelukan. Steven mengajak Jimmy, Nathan dan Jelita masuk ke dalam ruangan tempat James di rawat. Ruangan yang sama tempat dahulu Jimmy pernah dirawat. Sebelum masuk Jimmy mengucapkan terima kasih kepada dr. Brian yang masih berdiri mematung di hadapan mereka.


" Paman dokter," Jimmy tak mampu melanjutkan kata-katanya dan akhirnya berakhir dalam pelukan dr. Brian.


" Tidak apa-apa nak. Paman dan teman-teman dokter yang lain akan berusaha semaksimal mungkin. Bahkan jika perlu kita akan terbangkan ayahmu ke Singapura jika memang keadaan ayahmu semakin memburuk. Okey?" Sahut dokter Brian direktur rumah sakit ini, sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut Jimmy yang berantakan.


" Paman pergi dulu karena ada beberapa pasien yang masih mengantri untuk dioperasi dan harus paman periksa." Lanjut Brian dan kemudian pergi dari Paviliun VVIP tersebut.


Akhirnya Steven, Jimmy, Jelita, dan Nathan masuk ke dalam ruangan tempat James di rawat. Di dalam sudah ada Marsya, Maya dan juga seorang pria paruh baya berkemeja putih yang nampak sobek dan penuh dengan bercak darah. Masya dan Maya nampak sedang duduk terdiam memandang rombongan yang datang. Maya masih mengenakan pakaian kantor sedangkan Marsya yang setelah mendengar kabar kecelakaan dari Steven langsung melaju dari butik ke rumah sakit ini. Mereka masih mengenakan pakaian kerja mereka.


Jelita masuk dan menghambur ke arah ibunya sambil memandang tubuh James yang terbaring tanpa gerak.


Sedangkan Jimmy yang melihat tubuh ayah angkatnya dipenuhi peralatan medis akhirnya berlari dan menghambur memeluk kaki ayahnya lalu menangis sejadi-jadinya. Ia tak menyangka ayahnya yang nampak gagah dan tampan akhirnya terbaring tak berdaya di tempat tidur ini serta dipenuhi dengan peralatan medis. Wajah James ditutupi perban sebab kata Steven wajahnya terkena serpihan kaca mobil yang hancur akibat tubrukan yang sangat keras. Ayah James lebih parah keadaannya sebab mobil yang menabrak itu menghujam mobil mereka sebelah kanan. Otomatis Jameslah yang paling parah. Ketika sedang menangis sejadi-jadinya akhirnya Jimmy langsung terdiam ketika merasakan tangan seseorang membelai rambutnya disusul dengan sepatah kalimat yang terdengar begitu lirih dan sangat hati-hati.


" Maafkan paman nak," Kata orang tersebut.


Jimmy yang mendengar suara orang tersebut seketika itu juga membalikan badannya, sebab dari pendengarannya menangkap suara yang begitu asing.


Orang itu juga terlihat bergitu sedih dan khawatir. Di beberapa bagian tubuhnya juga terdapat bercak-bercak darah serta perban putih yang masih baru.

__ADS_1


Ketika melihat wajah asal suara tersebut. Ia terdiam dan dari raut wajahnya nampak kebingungan. Ia serta merta mengalihkan pandangannya ke arah Steven dengan wajah heran dan tentunya menuntut penjelasan dari asisten kepercayaan ayahnya tersebut.


" Nak ini Tuan Martin Handoko. Dialah pengendara mobil yang menabrak Tuan James. Ia juga tetangga di rumah kita nak. Rumahnya tepat di samping kita." Jelas Steven dengan singkat.


"Maafkan paman nak." Sahut Pria paruh baya yang bernama Martyn Handoko tersebut.


"Paman tak tahu tiba-tiba saja rem paman bolong dan saat itu sedang diperempatan lampu merah." Lanjut Handoko lagi.


"Sudahlah paman. Tak apa-apa. Ini memang sudah menjadi takdir. Aku hanya berharap ayah baik-baik saja." Sahut Jimmy kembali memandang tubuh ayahnya yang terbaring penuh dengan peralatan medis. Hanya bunyi detak jantung pada alat medis yang menandakan kalau James masih memiliki tanda kehidupan.


Mereka semua yang di dalam kamar terdiam beberapa saat sebelum Marsya dan Maya pamit kembali ke masion namun Jelita tak ingin kembali. Katanya biarlah malam ini ia tidur di rumah sakit saja.


Sepeninggalan Marsya dan Maya Martyn Handoko juga pamit ke kamar sebelah.


"Nak, saat kecelakaan itu paman bersama istri dan anak paman. Mereka sekarang sedang di rawat di kamar sebelah nak. Jadi paman ke sebelah dahulu. Jika ada waktu nak boleh berkunjung sebelah!" Jelas Martyn Handoko dengan nama yang berat dan penuh lelah.


" Baiklah paman. Aku masih menemani ayah. Jika ada waktu aku akan berkunjung." Balas Jimmy dengan senyum.


Sepeninggalan Handoko, Jelita terlihat sibuk. Memikirkan sesuatu. Tiba-tiba saja,


" Jangan-jangan,,,," ia bangkit berdiri dan langsung berjalan cepat ke arah pintu.


" Hei mau kemana?" Tanya Jimmy penuh selidik ketika melihat Jelita keluar dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Aku teringat sesuatu. Aku cek dulu. Jika benar kau juga harus mengunjunginya." Sahut Jelita sambil keluar dari dalam kamar tempat James dirawat tersebut.


" Hmmm.. Aneh... Sikap orang-orang di rumah kali ini semakin aneh. Terkadang yang aku lihat mereka sangat membenci ayah namun hari ini, semuanya ada di sini dan semua mereka nampak panik. Dan mereka yang selama ini membenci dan hanya mengambil keuntungan dari ayah ada semua di dalam kamar ini. Apa maksud semuanya ini?" Jimmy terdiam dan kepalanya penuh dengan spekulasi-spekulasi terkait kecelakaan ayahnya ini.


Namun bagaimana pun dan sekeras apa pun ia berpikir tetaplah ia hanyalah seorang remaja SMP yang belum sampai sejauh itu nalarnya mencerna. Ia harus lebih sabar dan sebaiknya ia lebih bagus mendengar kesimpulan dari paman Steven sebab paman Steven lebih berpengalaman di bidang itu.


"Paman.... Paman???" Jimmy mencoba meminta pendapat Steven hanya ia tidak menemukan orang yang ia cari. Steven tidak ada di sampinganya.


" Hah?? Baru saja aku melihat paman di sampingku." Gumam Jimmy dalam hati. Tapi sekarang orang kepercayaaan ayahnya tersebut tidak ada di sampingnya.


Ketika Jimmy mencoba mengedarkan padangannya ke seluruh ruangan itu. Ia menemukan Steven tergeletak di sofa dengan posisi duduk dan tidak sadarkan diri.


" Paman??????" Jimmy bangkit dari tempat duduknya dan berlari ke arah sofa tempat Steven tak sadarkan diri.


" Paman apa yang terjadi? Paman Kenapa? Paman... Paman...." Sekuat apa pun ia mengguncang tubuh Steven tetap saja diam sebab memang ia sudah tak sadarkan diri.


Jimmy berlari ke luar dan mencari dokter atau siapa pun yang ia temui di lorong Paviliun itu. Akhirnya ia bertemu dengan seorang perawat muda yang kebetulan malam itu berdinas jaga di ruang paviliun.


Ia masuk bersama beberapa rekan perawatnya lalu memeriksa keadaan Steven tak lama berselang mereka menghubungi dokter dan akhirnya Steven di pindahkan di ruangan lain yang masih di dalam komplek Paviliun.


Dan akhirnya disinilah Jimmy berada. Ia duduk sendiri. Menatap Ayahnya yang terbujur kaku dengan tubuh penuh selang-selang medis. Lalu di kamar lainnya Steven terbaring tak sadarkan diri. Jelita belum juga kembali, Paman Nathan sudah kembali ke masion bersama Marsya dan Maya tadi.


Ia duduk dengan segala kepenatan yang belum saatnya ia alami di usianya yang masih remaja belasan tahun.

__ADS_1


Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Di usianya yang masih belia, keputusan apa yang harus ia ambil sedang orang yang ia sangat andalkan semuanya terbaring koma di atas pembaringan rumah sakit. Dilema. Itulah yang ia rasakan saat ini.


__ADS_2