
" Heii... Masih muda kok pikirannya jauh seperti para politikus yang kedapatan korupsi gitu." Seru seseorang sambil menepuk bahu Jimmy dari samping. Jimmy yang memang sedari tadi tak fokus dengan keadaan sekitar, seketika terkejut mendapatkan tepukan ringan di bahunya.
" Ahh Celine.Ternyata Kamu.. Bikin kaget saja."
" Ya iyalah kamu kaget. Toh sedari tadi pikiranmu kemanaaaaa, gitu." kata Celine.
" Melamun terus, kayak tidak semangat. Heii umurmu baru belasan tahun jangan memaksakan diri untuk terlalu cepat menjadi dewasa." Ujar Celine seraya duduk di bangku kosong pada meja di sudut ruangan kantin tersebut. Ia duduk seraya membawa minuman dinginnya dan beberapa makanan ringan lalu ditawari juga makanan tersebut ke Jimmy.
" Ahhh tidak kok." Kata Jimmy mengalih perhatian Celine.
" Kamu sudah sehat kan? Kelihatannya sudah dari wajahmu dan jika aku lihat dari senyum manismu kelihatannya sudah pulih 100% tuh." Balas Jimmy sambil memandang Celine lekat-lekat sambil mengukir senyum manis khas anak remaja tersebut. Pertanyaan itu juga merupakan sebuah strategi agar ia terhindar dari pertanyaan Celine yang memang pada dasarnya gadis remaja yang suka mencari tahu.
" Hmm... Dasar pria suka mengalihkan pembicaraan. Ayolah Jim, wajahmu menunjukan kalau kamu sedang tidak baik-baik saja." Balas Celine sambil memandang Jimmy dengan tatapan tajam.
" Ahhh... Ti.. tidak Cel. Serius, aku nggak apa-apa kok!" Kata Jimmy dengan sedikit terbata-bata sambil mengalihkan tatapannya ke tempat lain.
Tiba-tiba, Jimmy yang tak sedang fokus ke arah Celine terkejut karena tangannya yang sedari tadi berada di atas meja mendapat sentuhan dari jemari halus seseorang. Jimmy menoleh seketika ke arah tangannya dan langsung menyadari kalau jemari tersebut adalah jemari halus Celine. Matanya kemudian berpindah ke arah Celine dan seketika itu pula ia mendapati Celine sedang tersenyum manis ke arahnya.
__ADS_1
" Jim, aku masih sahabat kamu kan?" Tanya Celine dengan tangan masih menggenggam tangan Jimmy dan terus menggenggam tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menyadari adegan romantis tersebut.
Jimmy seketika terkejut dari lamunannya dan kemudian menarik tangannya dari genggaman Celine lalu wajahnya celingak celinguk kiri dan kanan dan kemudian menyadari kalau mereka berdua telah menjadi pusat perhatian beberapa siswa dan siswi.
" Cel... Jangan begitu dong. Bisa-bisa genggaman tangan tadi disalahartikan oleh taman-teman di sini!" Kata Jimmy dengan suara rendah dan dengan nada yang cukup panik.
Ketakutan Jimmy sangat beralasan, karena ia sudah diperingati oleh beberapa siswa senior yang tak suka kedekatannya dengan Celine semakin intim layaknya sepasang kekasih. Yah, maklum saja Celine adalah bunga sekolah ini, ia cantik, manis pintar dan sangat humble, serta selalu ceria dengan siapa saja yang ia temui. Dan satu lagi yang tak kalah penting adalah ia sangat cerdas secara intelektual. Ia sampai saat ini selalu meraih prestasi dan menjadi juara umum di sekolah swasta favorit ini. Layak wanita impian, ia selalu menjadi pusat perhatian setiap murid di sekolah ini ketika sedang berada di mana saja dalam ruang lingkup sekolah ini. Namanya juga remaja, jadi perasaan saling suka yang mulai tumbuh di antara para siswa siswi adalah suatu hal yang lumrah terjadi di sebuah sekolah menengah pertama. Kaum milenial menyebutnya dengan sebutan Cinta Monyet atau apalah itu.
" Ahhh... Biarin.. Toh kenyataannya kita hanya berteman.Tetanggaan lagi. Sahabatan lagi. Seperti janji kita beberapa hari lalu di rumahku." Jawab Celine polos dengan wajah tidak berdosa sambil tetap memasang senyum manis khasnya ke arah Jimmy membuat Jimmy semakin gugup memandang senyum manis gadis remaja ini.
" Kamu belum menjawab pertanyaan aku loh!" Kata Celine cemberut ketika menyadari Jimmy lebih banyak menatapnya sekilas lalu kembali sibuk dengan pikirannya dan lamunannya.
" Hmmm.. Pertanyaan yang mana ya??" Jimmy memang sudah tahu pertanyaan Celine namun ia berusaha agak membuat wanita ini semakin cemberut dan bete dengan perlakuannya yang sibuk sendiri dengan pikiran dalam kepalanya.
" Ahhh.. sudahlah... Kelihatannya kamu sudah tidak mempercayai aku sebagai sahabat tempat curhatmu lagi." Usai mengatakan itu Celine berusaha membereskan barang-barangnya dan hendak bangkit dan bergegas pergi dari tempat duduk itu.
Namun sebelum tubuh Celine terlepas dari dudukannya di kursi tempat ia duduk, lengannya sudah ditahan oleh tangan Jimmy dan membuat remaja wanita itu terpaksa mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali duduk di kursi kantin tersebut. Ia kemudian menoleh ke arah pemilik tangan yang menahan lengannya tersebut. Dan mendapati Jimmy sedang menatapnya dengan senyum mengembang dan tatapan jahil menahan tawa.
__ADS_1
" Ihhh.. kamu jahat," seru Celine sambil menghentakkan tangan Jimmy agar melepaskan tangannya dari lengan wanita itu.
" Hehehehe... Ciee.. Ada yang lagi marah ni," balas Jimmy.
" Maaf-maaf. Kamu sahabatku. Dan satu-satunya sahabatku selama aku berapa di sekolah ini maupun selama aku berada di Mariski Masion dan di dalam ruang lingkup keluarga konglomerat." Jimmy berhenti sejenak kemudian melanjutkan kata-katanya.
" Selain tentang ayah James. Ada banyak hal yang kemudian menjanggal pikiranku selama beberapa hari ini, lalu akhirnya berpuncak tadi pagi sebelum aku berangkat ke sekolah." Jimmy kemudian bercerita tentang segala sesuatu yang terjadi pada dirinya termasuk kejadian tak terduga yang terjadi pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah.
Celine yang semulanya marah dan cemberut sekarang berubah menjadi serius mendengar curhatan sahabatnya ini. Dan Jimmy adalah sahabat satu-satunya demikian pikir Celine dalam hatinya. Selama ini ia memiliki banyak teman karena memang sifat dasarnya yang suka mencari banyak teman dan bersahabat dengan siapa pun namun hanyalah sekedar sahabat yang semestinya. Namun kali ini ia menjadikan Jimmy sebagai sahabat sejatinya, tempat ia curhat dan sebaliknya menjadi tempat curhat dari Jimmy. Sejak insiden kecelakaan itu sesungguhnya keduanya telah menjadi sahabat sejati yang tak dapat dipisahkan.
Itu janji mereka sih, ketika Jimmy berkunjung ke rumah Celine seusai ia dan ibunya sembuh dan dapat kembali ke rumah sesudah dirawat karena kecelakaan bersama James dan Steven.
Celine terus mendengar cerita sekaligus curhatan panjang lebar dari Jimmy dengan serius sambil sesekali menyela. Hingga akhirnya, bel tanda waktu istirahat selesai dan saatnya untuk melanjutkan pelajaran sekolah.
Sebelum para siswa berhamburan untuk kembali ke kelas masing-masing termasuk Celine dan Jimmy tiba-tiba mereka dikejutkan dengan pengumuman dari speaker sekolah yang ditempatkan di ruangan-ruangan penting tempat para siswa siswi berkumpul termasuk kantin sekolah.
###
__ADS_1