
***
Semua pelayan saling memandang sebab mereka bingung apakah pantas mereka mengatakan semua ini pada tuan muda yang masih remaja berumur belasan tahun. Sebab bagaimana pun juga mereka belum tahu secara mendalam latar belakang anak ini. Namun Nathan memiliki firasat yang baik tentang anak ini, tentang masa depannya dalam keluarga Mariski dan tentang kerendahan hatinya. Nathan yakin dia dapat menjadi malaikat penolong bagi semua orang yang bernaung di bawah Mariski Group sebab setelah pengadilan mengesahkan hak aduh maka namanya akan berubah menjadi Jimmy Mariski.
Maka dengan keyakinan yang penuh Nathan menceritakan sepak terjang ibu sambung Jimmy tersebut. Mulai dari awal kisah perjumpaan mereka di Mariski Mall hingga menikahi Marsya dua tahun yang lalu. Kemudian masuk ke rumah ini dengan senyum dan kerendahan hati yang luar biasa hingga beberapa bulan terakhir hampir setahun ini semakin berulah. Hingga puncaknya Tuan Besar James menemukan dugaan bahwa Marsya dengan sengaja hendak mencederai perusahaan Mariski Group dari dalam dengan memasukan semua kenalannya menjadi pegawai penting dalam Mariski Group. Sekarang James telah menyadari segala rencana dan keserakahannya. Namun ia tidak memiliki kemampuan untuk mengusir Marsya sebab biar bagaimana pun Marsya memiliki andil besar dalam hidup dan sumber utama kebangkitan psikologisnya.
" Jadi begitu. Apa yang harus aku lakukan? Aku masuk ke rumah tangga ini ketika rumah tangga ini sedang mengalami keretakan." Kata Jimmy dalam hati ketika ia sedang berbaring di dalam kamarnya setelah mendengar cerita Paman Nathan saat makan tadi.
" Aku sudah mengambil keputusan ini maka aku harus bangkit dan terus berjalan." Lanjut Jimmy kemudian sambil rebahan dan mencoba menutup mata. Ia terlalu lelah untuk memikirkan jalan untuk mundur dari kenyataan hidupnya ini.
***
"Kemana mereka pergi?" Tanya Marsya sambil menatap adiknya Maya yang sedang asyik dengan ponselnya di salah satu sofa di ruang santai.
" Aku tak tahu kak. Ketika kembali dari kantor aku dengar dari Tania, katanya Mas James dan Steven jalan-jalan dan shopping bersama anak itu." Kata Maya cuek.
"Ini tidak bisa di biarkan." Kata Marsya mendengus kesal.
" Ma, anak itu sudah di sini rumah ya? " Tanya Jelita kepada Ibunya Marsya.
"Mama juga ngga tahu nak, kita akan tahu ceritanya dari Paman Nathan." Kata Marsya seraya mengambil telepon rumah yang berada di setiap sudut rumah untuk menghubungkannya di dapur.
__ADS_1
" Ratih, tolong panggil John menghadap aku di ruang santai lantai satu sekarang." Kata Marsya singkat kemudian menutup telepon rumah.
Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa samping Maya dan Jelita yang sudah bergabung bersama Maya.
" Mas James sudah semakin berbeda. Ia sudah mengecewakan aku dan seisi rumah ini." Kata Marsya yang belum puas dengan keputusan James mengadopsi anak hingga memperlakukan anak itu seolah-olah anak kandungnya. Sampai-sampai dia harus meninggalkan segala tanggungjawabnya sebagai suamiku hanya untuk mengantar anak itu berbelanja. Padahal anak itu baru satu hari di rumah ini." Kata Marsya sambil mendengus kesal. Jelita yang melihat ibunya tak bagus suasana hatinya segera bangkit dan pergi ke kamarnya.
Sedangkan Maya sibuk dengan ponselnya.
Tak lama kemudian Nathan datang dengan ekspresi bersalah sebab ia tahu sebentar lagi ia akan dimarahi nyonya besar rumah ini.
" Kemari kamu!" Kata Marsya sambil memandang tajam ke arah John.
"Maafkan saya nyonya, Ini pesan dari Tuan besar sendiri."Kata Nathan sambil menunduk kalau-kalau emosi nyonya besarnya meledak.
Dalam hati Nathan tertawa menang, sebab Marsya berencana merayu James agar menolak mengangkat Jimmy menjadi anak. Marsya yang sangat lihai merayu pasti akan dengan mudah memenangkan hati James. Maka Nathan berusaha menyembunyikan kedatangan Jimmy hari ini agar aman dan jauh dari propaganda Marsya. Akhirnya dia tak menjawab apapun dan membiarkan Marsya sibuk dengan celotehannya, sedangkan Maya sibuk dengan ponselnya, Namun dalam hati dan mewaspadai kehadiran Jimmy sebagai tuan muda baru di rumah ini. Ini juga tentang spekulasi masa depan Maya, Marsya juga Jelita di masion mewah ini.
Tak lama berselang ketika ketiganya sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba deru mobil memasuki halaman masion. Marsya yang sejak tadi marah-marah, langsung terdiam dan mulai memasang kuda-kuda untuk melabrak James. Alasannya jelas. Sebagai istri dan calon ibu dari anak angkat itu, ia merasa tak dihargai.
Tak lama berselang, James, Steven serta seorang bocah remaja yang tidak lain adalah Jimmy memasuki ruang rekreasi itu. Marsya yang melihat kedatangan james langsung menghajar dengan kata-kata yang menohok.
"Oh, jadi ini anak yang membuat kamu tak menghargai aku lagi sebagai istri?" Tanya Marsya menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
James, Steven dan Jimmy yang baru masuk di susul seorang pelayan yang membawa barang-barang hasil belanjaan mereka, kemudian berdiri mematung saling memandang disusul kedipan mata antara James dan Steven.
" Selama ini aku selalu mendampingi mas dalam setiap kesulitan hidup yang mas alami jadi ini balasannya? Seharusnya mas beritahu aku dong! Sebagai istri dan calon ibu dari anak ini." Kata Marsya lagi sambil berjalan mendekati James dan rombongannya.
James, Steven, Jimmy dan pelayan itu hanya diam membisu. Menghadapi ketenangan James yang tak biasanya Marsya mulai was- was sebab jika Marsya marah biasanya James meminta maaf dan pelan-pelan akan mengabulkan setiap keinginan Marsya.
" Jawab mas!!" Teriak Marsya sambil memandang lekat-lekat ke arah James.
Mereka semua terdiam. Maya yang sedari tadi sibuk dengan ponsel pun menghentikan aktifitasnya dan mencari celah agar dapat meninggalkan ruangan rekreasi ini. Namun yang ia tunggu sedari tadi adalah melihat anak remaja yang akan diangkat jadi anak oleh James. Perasaannya mengatakan kalau anak ini istimewa sehingga James dengan segala kewibawaannya dapat menyibukkan diri berbelanja untuk anak itu.
James kemudian mengeluarkan ultimatum memecahkan keheningan.
" Pelayan antar barang-barang itu ke kamar tuan muda, Steven antar tuan muda ke kamarnya." Kata James tugas tanpa menoleh.
"Siap tuan!" Jawab pelayan dan Steven bersamaan. Mereka bertiga pergi meninggalkan ruangan itu sedangkan Marsya membentuk bibirnya jutek mendengar James menyebut anak remaja itu dengan sebutan tuan muda.
Sepeninggalan Steven, Jimmy dan pelayan itu, Nathan serta Maya akhirnya pamit untuk pergi juga.
" Nathan kamu boleh pergi untuk membantu tuan muda membereskan kamarnya serta segala keperluannya." Kata James memerintah.
" Siap tuan besar." Sahut John sopan dan meninggalkan ruangan dengan senyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Sedangkan kamu Maya panggil jelita datang ke sini, ada yang ingin aku katakan dengan kalian bertiga. Penting!!" Lanjut James sambil memandang Marsya dan Maya bergantian.