
" Pasti terjadi sesuatu sehingga Mang Dadang datang bersama polisi", Bibi Santy terus mengada-ada dalam pikirannya, dengan raut wajah yang semakin menampakan kecemasan.
" Selamat Malam Bibi, ini dari kepolisian ingin bertemu dengan bibi." Kata Mang Dadang dengan halus dan sopan namun dengan wajah serius dan sedikit panik.
" Oh ya bapak silahkan masuk. Mari," sahut Bibi Santy, sambil mempersilakan kedua polisi itu masuk ke dalam rumah, sebab mereka masih di depan teras rumah.
" Tidak usah repot- repot ibu. Kami datang ingin bertanya kepada Ibu apakah Ibu bernama Santy Pranoyo?" Tanya salah satu polisi.
" Benar pak," jawab Bibi Santy cepat.
" Begini Bu Santy, apakah selama ini Ibu Santy menjadi wali asuh bagi anak remaja bernama Jimmy Laihatu?" Tanya polisi itu lagi sambil memandang lekat-lekat Bibi Santy.
" Ya benar sekali pak." Jawab Bibi Santy.
" Oke, kalau begitu sekarang apalah boleh ibu ikut kami? Ada hal penting dan serius yang hendak kami tunjukan kepada ibu." Kata polisi yang satunya lagi.
" Maaf Bapak semua, tapi sebenarnya ada persolan apa pak dengan anak anak asuh saya itu? Apakah dia membuat masalah? Ataukah dia ikut tawuran? Atau mencuri? Sehingga harus berurusan dengan pihak yang berwajib?" Penyakit lama Bibi Santy kambuh lagi ia mengoceh tidak karuan.
Sita yang sedari tadi menguping dari dalam rumah, mendengar ocehan ibunya kemudian menghambur keluar dan menodong dengan pertanyaan yang sama dengan ibunya.
" Ma, ada apa dengan Kak Jimmy Ma? Kak Jimmy ada persoalan apa? Kenapa harus berurusan dengan polisi?" Kata Sita tidak kalah paniknya.
"Mama juga belum tahu sayang," kata Bibi Santy berusaha menenangkan Sita yang panik.
Sita yang menunjukkan sikap paniknya itu memang tak salah. Sebab Jimmy sudah seperti kakak kandungnya. Satu-satunya pelindung jika ibunya sudah tiada.
"Biar lebih jelas, Mari ibu dan adik ikut kami dan kami akan menjelaskan secara terperinci di sana. Bawa serta dengan beberapa potong pakaiannya." Kata polisi itu lagi.
__ADS_1
"Mengapa pak?" Tanya bibi Santi lagi dengan cepat.
Namun Sita memotong pertanyaan beruntun ibunya dengan cepat.
" Ah, Sudahlah mama. Jangan banyak tanya. Pertanyaan mama membuat aku semakin panik. Lebih baik sekarang kita ke rumahnya Kak Jimmy dan mempersiapkan pakaiannya." Kata Sita sambil menarik tangan ibunya ke rumah kakaknya Jimmy yang berada tepat di kanan rumah mereka.
" Baik sudah sayang." Kata Bibi Santy menenangkan Sita anaknya.
" Pak berdua, Mang Dadang tunggu sebentar. Kami persiapkan pakaian anakku dahulu." Kata Bibi Santy sambil memohon diri pada dari kedua polisi itu dan Mang Dadang.
"Baik sudah Ibu. Silahkan kami tunggu di sini saja." Kata Mang dadang dan kedua polisi itu secara bersamaan.
Bibi Santy dan Sita kemudian berjalan ke arah rumah Jimmy untuk mengambil beberapa potong pakaiannya. Mereka harus mengambilnya di rumah Jimmy sebab hampir semua pakaiannya berada di rumah kedua prang tuanya bukan di rumah Bibi Santy. Jimmy adalah orang yang sangat keras kepala. Ia tidak mau merepotkan Bibi Santy dan Sita adiknya untuk mencuci pakaiannya. Ia mencuci pakaiannya sendiri.
Setelah mempersiapkan segalanya, Bibi Santy dan Sita mengajak Mang Dadang dan kedua polisi itu untuk segera berangkat. Tetapi Mang Dadang pamit untuk menjaga rumah saja.
" Saya tunggu di sini saja bibi. Sambil menjaga rumahnya Bibi dan Jimmy. Saya tunggu saja kabar dari bibi dan Sita ketika kembali nanti." Kata Mang Dadang sambil menyunggingkan senyum tipis.
Mereka berempat kemudian berjalan menyusuri gang sempit komplek kumuh itu dan menghampiri mobil polisi yang diparkir di luar gang itu.
Semua penghuni komplek kumuh yang rumahnya berdempetan itu memandang iba terhadap Bibi Santy dan sita anak perempuannya. Keluarga sederhana ini harus berurusan dengan Kepolisian dan pastinya dengan rumah sakit oleh kerena kecelakaan sore tadi. Sebagian orang di kompleks kumuh ini memang sudah mengetahui kejadian tadi sore. Namun tidak ada satupun orang yang berani memberitakan kepada Bibi Santy.
***
Marsya terus mengutak-atik iPhone-nya. Sesekali ia menatap keluar Masion mewah milik James yang juga sudah menjadi bagian darinya dua tahun yang lalu itu. Sedangkan anaknya Jelita sibuk bercengkrama dengan teman-temannya di dekat kolam renang luas yang bentuknya hampir mengelilingi Masion yang didominasi warna putih itu. Sedang Marsya duduk santai di lopo Masion di lantai tiga yang design bentuk taman ditambah beberapa lopo. Sesekali Marsya memandang jauh melihat keindahan kompleks Cempaka, salah satu kompleks perumahan paling mewah di kota metropolitan ini. Sebab di kompleks ini terdapat puluhan rumah bahkan ratusan rumah para pejabat tinggi negara serta para presidir perusahaan-perusahaan besar di negara ini. Dan Marsya bersyukur ia dapat menikah dengan James yang menjadi salah satu konglomerat penting dan diperhitungkan di negara ini. Ketika sedang sibuk mengutak-atik HP sambil bergosip dalam group sosialitanya.
Tiba-tiba Maya adiknya datang datang bergabung bersama dia dan langsung berbaring malas di samping Marsya.
__ADS_1
"Maya, kamu sudah balik dari kantor ya?" Tanya Marsya sambil menoleh sedikit dan kembali menatap layar Hpnya.
" Sudah dari tadi kak. Inikan sudah jam 8 malam, aku sudah balik dari setengah 6 sore tadi. Masakan kaka tidak tahu sih?" Jawab Maya sedikit ketus sebab sedari tadi Marsya tak berpaling dari layar HPnya.
" Rumah inikah besar Maya, wajar dong kalau kaka tidak tahu. Bahkan kita dalam rumah saja bisa dua hari baru ketemu sekali." Jawab Marsya santai.
"Ahh, kaka saja yang sering di luar dan tidak makan bersama. Aku dan Mas James di rumah ini selalu bertemu karena kami makan bersama di meja makan." Sahut Maya mendengus kesal.
Keduanya kembali terdiam dan sibuk dengan urusan masing-masing di layar HP. Tiba-tiba Maya teringat sesuatu.
"Kaka, Mas James di mana ya?" Tanya Maya membuka pembicaraan sambil menatap heran pada kakaknya. Panggilan mas pada James memang sudah menjadi kebiasaan Maya kalau lagi di rumah. Berbeda jika sudah di kantor ia memanggil kaka iparnya itu dengan sebutan pak.
Ia sangat menyayangi kaka iparnya tersebut sebab sejak oleh James ke masion nya ini dua tahun yang lalu, ia mempekerjakan Maya di Mariski group. Sebelum dipekerjakan oleh James, Maya hanyalah seorang sarjana ekonomi yang masih nganggur.
" Kakak ngga tau ya? Kan tumben kalau sampai jam begini Mas James belum kembali ke rumah. Coba kakak telepon ke Tania sekretarisnya Mas James." Kata Maya dengan ekspresi memohon pada kakaknya.
" Maya...." Marsya mematikan HPnya dan menoleh ke arah Maya dengan tatapan tajam pertanda Marsya sudah mulai kesal karena merasa dipojokkan oleh Maya sebagai istri yang tidak perhatian atau bertanggungjawab pada suami.
" Mas James mu itu sudah dewasa, sudah tua lagi. Sudah berkepala empat usianya. Masakan kakak harus menguntit terus ke mana ia pergi. Jika ia pergi mencari kebahagiaan di luar sana, ya silahkan saja , selama ia masih memenuhi kebutuhan kita bertiga dan hak warisan beberapa rumah dan seluruh perusahaan dia ke kita atas nama Jelita." Kata Marsya panjang lebar.
"Tapi kak..." Maya ingin menyela namun segera namun segera dipotong oleh Marsya.
" Sudahlah Maya. Yang sekarang harus kamu lakukan adalah; menjalankan semua yang sudah kita rencanakan bersama paman dan jangan lupa untuk merahasiakan identitas paman dari Mas James mu." Kata Marsya sambil bangkit dari pembaringan di lopo itu dan berlalu pergi dari Maya.
Sejujurnya Maya tak tega menjalankan semua rencana kakaknya sebab di satu sisi ia sangat menyayangi kakak iparnya James. Namun di sisi lain ia tak tega mengecewakan kakaknya Marsya yang susah payah bekerja di salah satu mall milik James. Mariski Mall. Di mall itulah tempat pertama kali James dan kakaknya Marsya bertemu dan menjalin hubungan dan akhirnya menikah dua tahun yang lalu. Marsya jugalah yang mengurus ia hingga menyelesaikan kuliahnya beberapa tahun yang lalu. Sebagai balas budi kakaknya, Maya belum menikah dan menunggu Marsya bahagia barulah ia mencari pasangan.
***
__ADS_1
Bibi Santy dan Sita sungguh terkejut karena kedua polisi itu bukannya membawa keduanya ke kantor polisi namun ke salah satu rumah sakit swasta yang sangat terkenal di ibu kota.
###