
" Baik kak." Maya hanya menunduk sambil menjawab kakak iparnya.
" Pergi sekarang!" Lanjut James sambil mengambil tempat di sofa ruang rekreasi itu. Marsya pun mengambil tempat berhadapan dengan dengan James sambil mencari tahu kejadian sebenarnya. Mengapa James begitu berubah. Padahal James sangat mencintai dia dan rela melakukan apa saja hanya untuk kebahagiaan dia.
Satu lagi yang Marsya heran kan. Siapa sebenarnya anak ini sehingga James rela mengantar sendiri anak remaja itu untuk berbelanja. Jika itu hanya untuk keperluan pribadi, kan biasanya Steven yang mengatur segalanya.
" James itu tipe orang yang sedikit cuek, wibawa dan tidak ingin direpotkan dengan urusan-urusan kecil yang dapat dilakukan oleh Steven ataupun pelayannya." Kata Marsya dalam hatinya, sambil memandang kebingungan pada James yang memasang wajah datar.
" Mas, apa maksud semua ini? Seharusnya aku yang marah dengan mas karena mendatangkan anak pungut itu tanpa sepengetahuan aku! jadinya aku yang ingin diinterogasi?" Tanya Marsya sambil melotot ke arah James. Rasanya Marsya ingin segera mengetahui apa yang terjadi sehingga James ingin mengumpulkan Maya dan Jelita di ruang santai ini.
Namun semakin ditanya, James hanya sibuk dengan layar iPad-nya. Ia sibuk meneliti laporan-laporan keuangan dari perusahaan maupun proyek-proyek perusahaan.
Tidak lama kemudian Jelita dan Maya datang dan bergabung bersama James dan Marsya di situ. Mereka berempat duduk bersama dalam diam sebab James tak berkata-kata apa-apa dan hanya sibuk dengan ponselnya sedari tadi. Jelita sangat segan dengan ayah sambungnya itu, sebab ia tidak terlalu dekat dengan James. Segala urusan hidup, pergaulan, sekolah hingga urusan lainnya diatur semua oleh ibunya Marsya. Hanya beberapa kali mereka berbincang-bincang apa bila ada kesempatan makan bersama di meja makan. Sehingga bagi Jelita sendiri ini merupakan kali pertama ayah angkatnya ingin berbicara dan ingin bertemu dengan dirinya. Namun herannya mengapa malam ini agak berbeda, suasananya cukup mencekam. Mereka seperti sedang berperang dalam kepala mereka sebab situasinya sangat tegang. Dan lagi tidak seperti biasanya ayah sambungnya itu bersikap cuek dengan ibunya Marsya. Lazimnya yang Jelita liat selama ini James selalu tunduk dalam segala hal dengan segala permintaan Marsya.
"Hmmm... pasti ada yang tidak beres," gumam Jelita dalam hati.
Tidak lama berselang, Marsya mencoba membuka pembicaraan dengan sangat hati-hati.
"Mas! Tolong jelas...."
"Cukup Marsya!" Potong James sebelum Marsya sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Aku sudah cukup pusing mendengar ocehan kamu tadi. Sekarang giliran aku untuk bertanya!" Lanjut James dengan ekspresi membunuh, yang tidak lazim.
__ADS_1
"Mas apa maksud semuanya ini? Mengapa mas begitu berubah?" Jawab Marsya dengan mata berkaca-kaca.
" Simpan air matamu Marsya." Sambar James dengan tegas.
"Dua tahun lebih sudah cukup bagiku untuk menahan semuanya ini. Aku tak menyangka jika aku dibuat seperti ini." Kata James lagi sambil tersenyum sinis kepada Maya dan Marsya bergantian. Sedangkan Jelita hanya tertunduk diam. Ia bingung dengan keadaan ini sebab selama dua tahun lebih ketika pertama kali menginjakkan kaki di masion ini, kejadian seperti malam ini baru pertama kali terjadi.
Dan Jelita belum siap untuk menerima semua ini. Ia mungkin terlalu terlena dengan kekayaan ini dan segala sesuatu di rumah ini yang dimanja. Bahkan di sekolah sendiri, ia tak segan-segan memamerkan kekayaannya kepada teman-temannya.
" Apa maksud semua ini?" Tanya James seraya melemparkan iPad ke tengah meja, seraya mendengus kesal.
" Tagihan Kartu kredit bulanan kalian membengkak? Tabungan aku terkuras, Padahal semua kebutuhan di rumah ini sudah di urus Steven. Aku memanjakan kalian bertiga dengan sekeping kartu ini bukan berarti kalian dengan leluasa menggunakannya. Masakan hanya untuk kalian bertiga saja, selama bulan ini aku harus mengeluarkan uang ratusan juta hampir miliaran?" Tanya James lagi.
" Anehnya lagi, tagihan Kartu Kredit Jelita kok mengerikan ya? Mana ada seorang anak SMP menghabiskan ratusan juta sedangkan segala kebutuhannya sudah disiapkan di dalam rumah ini?" Tanya James lagi.
Namun sial menimpa Marsya malam ini mereka duduk tak berkutik dan mendengar ceramah dari james tanpa bisa membalas apa-apa. Marsya kebingungan apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia jawab sekarang. Sebab sejak semula membangun rumah tangga bersama James, ini kali pertama James mempersoalkan Kartu kredit. Marsya curiga ada persoalan lain yang melatarbelakangi persoalan ini diungkap oleh James.
" Aku yakin Marsya, kamu sudah menebak ke arah mana pembicaraan kita malam ini." Kata James lagi sambil menatap tajam ke arah Marsya.
" Dan kamu jelaskan kepada ayah sekarang juga apa saja yang kamu beli selama sebulan ini! Cepat!" Hardik James disusul tangis Jelita yang pecah.
"Mas jangan keras-keras dengan dia mas, dia tidak tahu apa-apa!" Kata Marsya yang juga berlinangan air mata sambil merangkul Jelita yang menangis dalam pelukan Marsya.
"Hmmm.. Jadi begitu ya. Apakah Maya juga tidak tahu apa-apa tentang semua ini?" Tanya James seraya melipat tangannya dan melirik ke arah Maya dan Marsya secara bergantian.
__ADS_1
"Dia juga mas."Kata Marsya memotong sebelum di jawab Maya sambil memandang tajam ke arah Maya.
Namun James melihat gelagat dari Marsya tersebut.
" Aku tanya Maya, Marsya! bukan tanya kamu." Potong James juga.
"Tapi mas,"
" Cukup!" Kata James keras sambil melotot ke arah marsya lalu kemudian kembali memandang Maya.
"Cepat jawab Maya. Kamu satu-satunya orang dalam rumah ini yang juga aku berikan kartu ini selain keluarga inti. Untuk keperluan apa kamu gunakan uang sebanyak ini?" Tanya James yang mencoba mencari tahu walau secara pribadi bersama Steven, sudah tahu semua persoalan ini. Semuanya sudah dijelaskan oleh Steven beserta bukti-bukti dari anak buahnya sehingga James berani menghadapi ketiga orang ini.
" Ahhhh... Itu untuk.." Jawab Maya sambil tertunduk.
" Angkat mukamu Maya. Ini bukan di kantor. Kamu bukan bawahan di sini. Kamu adik ipar ku. Jika tidak bersalah maka angkat mukamu dan katakan dengan lantang bukan menunduk seolah-olah menyembunyikan sesuatu." Kata James panjang lebar.
"Aku membelikan mobil untuk pacarku kak." Kata Maya sambil mengangkat kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya.
"What??? Laki-laki macam apa itu. Besok panggil dia ke mari dan suruh bawa juga dengan mobilnya." Seru James kepada Maya.
"Dan kalian berdua." Kata James seraya menunjuk ke arah Marsya dan Jelita anaknya.
" Besok aku ingin tahu alasan dari semua ini! Oh ya, aku tak suka ditipu," lanjut James sambil bangkit berdiri meninggalkan ketiganya.
__ADS_1