Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
MAYA


__ADS_3

Nathan mematikan layar Handphonenya. Ia menghela nafas panjang. Selama ini ia hanya bergelut dengan rumah ini, segala urusan rumah tangga keluarga konglomerat ini selama bertahun-tahun lamanya. Namun ia yakin dan percaya suatu saat akan tiba waktunya dan saat ini adalah saat dimana penantian.


" Aku harus mengambil tindakan dengan hati-hati jika tidak maka ini akan berakibat buruk pada perusahaan itu sendiri dan juga keselamatan tuan muda." Ujar Nathan dalam hati setelah membalas chat dari dr. Brian.


Keduanya saling membalas chat lewat Whatsapp. Hingga Nathan mencapai satu konklusi bahwa perusahaan dan keluarga saat ini sedang dalam satu ambang batas. Jika salah mengambil tindakan maka seluruh aset keluarga bahkan keluarga Mariski yang fundamen dari perusahaan Mariski Corp ini hanya akan tinggal nama. Dan ini akan terjadi sebentar lagi jika tak ada yang mengambil inisiatif untuk memulai.


" Akan banyak orang yang mengambil kesempatan ini untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompoknya. Ini tidak bisa dibiarkan dan tidak boleh terjadi bila memang sudah ada yang berusaha untuk merencanakannya." Lanjut Nathan dalam hati.


Setelah berkutat dengan isi kepalanya beberapa menit akhirnya Nathan memutuskan untuk beristirahat karena sudah terlalu larut untuk bertemu tuan mudanya ditambah lagi hari ini dan kemarin adalah hari yang berat untuk semua orang khususnya keluarga inti Mariski maupun keluarga besar perusahaan Mariski Corp.


###


Pagi menjemput suasana masih seperti kemarin-kemarin bagi Jimmy. Dan hari ini adalah hari keempat setelah kepergian James Mariski untuk selamanya. Selama beberapa hari setelah penguburan itu pula bibinya di kampung kumuh, bibi Santy selalu mengunjunginya. Terkadang ia bersama Sita anaknya yang sudah menjadi seperti adik kandung bagi Jimmy namun terkadang pula ia datang sendiri. Bagi bibi Santy ia tahu betul psikologi anak ini ketika mereka masih bersama di kampung kumuh sebelum almahrum James Mariski mengadopsinya menjadi anak asuh. Jimmy harus selalu didampingi, diajak bicara dan selalu ada orang di sampingnya sebab ia terlalu sering mendapatkan goncangan jiwa baik selama masih di kampung kumuh maupun di rumah Mariski ini. Ia telah kehilangan segalanya terutama kasih sayang yang seharusnya masih ia butuhkan diusia peralihan seperti sekarang ini. Ketika ia telah mendapatkannya ia dipaksa lagi untuk kehilangan orang terdekat untuk kesekian kalinya.


" Tuan muda!" Seru seseorang membuyarkan lamunannya.


" Ahhhh .. Si.. siapa??" Jimmy memutar kepalanya kiri dan kanan mencari si pemilik suara.


" Saya tuan muda."

__ADS_1


Jimmy membalikkan tubuhnya sebab suara tadi berasal dari belakangnya.


" Ahh,,,, paman Nathan bikin kaget saja." Ujar Jimmy dengan suara lirih dibarengi senyum mentah tak semangat.


" Sudah hampir lima menit saya bersama tuan muda. Namun saya tak ingin mengganggu tuan muda yang nampak sibuk melamun atau mungkin sibuk dengan pikiran tuan muda." Sahut Nathan lagi dengan sopan.


" Sudahlah paman. Jangan terlalu formal dengan saya. Paman tetap menjadi paman sekaligus teman dan sahabat saya." Jawab Jimmy dan setelahnya ia menggandeng Nathan ke meja makan untuk sarapan pagi.


Keduanya berjalan melewati ruangan-ruangan dalam rumah besar itu dan ketika melewati ruang tengah rumah seperti aula rumah, sesekali Jimmy mencuri pandang ke tempat di mana jenasah ayahnya sempat di baringkan dalam peti jenasah. Cukup menyayat hati dan matanya mulai tergenang oleh bulir-bulir air mata. Namun ketika ia hendak memasuki ruang makan ia segera menghapus air matanya. Nathan menyadari hal itu namun ia diam saja dan membiarkan tuan mudanya larut dalam kenangannya. Setibanya di ruang makan, di sana sudah ada ibu sambungnya Marsya, bibinya Maya dan saudari angkatnya Jelita yang juga sedang sarapan dalam hening. Mereka tak bersuara sedikit pun entah itu karena masih dalam suasana duka atau bisa jadi karena tak memiliki topik yang pantas untuk dibicarakan pagi-pagi seperti sekarang ini.


" Aku duluan." Melihat kedatangan Jimmy Marsya bangkit dari kursinya meminum air mengecup kening Jelita lalu berangkat. Ia pergi bahkan sarapannya baru sekali suap. Ia berjalan ke arah depan rumah tanpa sepatah kata pun pada Jimmy maupun kepada Nathan.


" Paman Nathan kita sarapan sama-sama." Ujar Jimmy seraya menarik kursi di sampingnya.


" Maaf tuan muda tidak layak bagi saya seorang pelayan untuk duduk semeja dengan tuan muda." Sahut Nathan sopan sambil menunduk.


" Bukankah begitu aturannya? Pelayan memiliki tempat makannya sendiri. Bahkan di meja makan mereka hampir sama mewahnya dengan meja makan ini." Sahut Maya merasa risih dengan permintaan Jimmy.


" Apakah paman masih menganggap saya sebagai tuan muda di rumah ini?" Tanya Jimmy seraya menatap Nathan.

__ADS_1


" Tentu saja tuan muda." Jawab Nathan seraya tersenyum mencoba mencairkan suasana yang nampak tegang.


" Apakah benar ayah James telah menjadikan saya sebagai pewaris sekaligus presdir baru di Mariski Corp?" Tanya Jimmy lagi masih dengan mata menatap Nathan.


" Menurut yang saya tahu dari kabar dan berita resmi dari perusahaan Mariski Corp. Demikian adanya tuan muda." Balas Nathan mantap sebab ia sudah menduga muara dari pertanyaan tuan mudanya tersebut.


" Maka atas semuanya itu. Saya Jimmy Mariski meminta paman untuk makan bersama saya dan menemani saya di meja makan ini. Apakah paman masih menolak?" Tanya Jimmy seraya tersenyum santai kepada Nathan.


" Paman tak memiliki kuasa untuk menolak permintaan tuan muda." Jawab John dengan cepat. Ia lalu mengambil tempat di kursi yang disediakan oleh tuan mudanya Jimmy Mariski.


" 1:0. Sebuah penyataan keberadaan dan sebuah legitimasi kekuasaan yang handal dari seorang anak remaja. Hehehehe,,," Nathan terkekeh dalam hati membayangkan wajah mengkerut dari Maya yang sesak mendengar percakapan Jimmy dan Nathan yang sudah pasti menyudutkannya. Dan itu nampak sekali dari alur nafas Maya yang mulai tidak teratur, berat dan dibaluti wajah yang memerah.


Maya hanya terdiam. Dia tak percaya dalam sekali serang dia langsung terkeok oleh ocehan remaja yang baru naik tahta. Dalam hatinya Maya sangat marah dan menaruh dendam yang membawa karena berhasil dipermalukan oleh seorang remaja yang bahkan belum lulus sekolah menengah pertama.


Mau melawan namun ia masih berpikir dua kali. Jabatannya saat ini sangat bergantung pada bocah remaja ini. Paling tidak untuk sekarang belum terlalu berbahaya namun akan sangat berbahaya jika Jimmy terus menyimpan rasa tidak suka kepadanya hingga saat ia duduk di tahta Presdir Mariski Corp dan menjalankan roda perusahaan. Maka saat itu ia tak dapat membayangkan jika ia ditendang dengan tidak hormat.


Kecuali dia harus disingkirkan dengan segera.


###

__ADS_1


__ADS_2