
***
Sebelum aku mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepada pemilik mobil yang memberikan aku secarik kertas ini, lampu jalan telah berpindah hijau disusul bunyi klakson panjang beberapa kendaraan di belakang mobil itu.
Aku segera berlari ke pinggir jalan sambil menggenggam secarik kertas itu di tangan kiri dan gitar kesayangan di sebelah kanan.
Wanita pengemudi dan gadis remaja yang kemungkinan besar anaknya tersebut sempat melemparkan senyum licik sebelum aku berlari tadi. Ahh, aku curiga dengan tulisan dalan kertas ini.
Maka dengan perlahan aku menepi di trotoar jalan dan membuka kertas itu dengan tangan gemetar.
"KAMU KURANG BERUNTUNG".
" Sial!!! Aku dikerjain," teriak aku seraya merobek dan menghamburkan kertas tersebut ke dalam parit di pinggir jalan itu.
" Uhh, dasar orang kaya, bukannya berbelas kasih, malah mempermainkan dan mengejek kaum miskin seperti kami," aku terus menggerutu sebab untuk pertama kalinya aku dikerjain seperti ini.
__ADS_1
"Pagi menjelang siang ini aku terlalu banyak mendapat sial. Walau aku belum mendapat seribu rupiah pun lebih baik aku kembali ke rumah, sebelum aku mendapatkan sial yang lebih parah lagi atau aku dipermalukan lagi." Aku kembali ke kompleks dengan langkah gontai sambil menahan rasa malu dan amarah.
#####
Mari kita pindah ke suatu tempat, di sebuah gedung 20 lantai.
Lantai 15. Ruang Direktur Utama.
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN SETELAH KEJADIAN DI LAMPU MERAH.
tok tok tok
" Masuk!" Teriak suara laki-laki dari dalam ruangan.
Wanita itu membuka pintu dan berjalan menghampiri meja besar berwarna putih yang nampak mewah dan rapi menandakan pemilik ruangan ini sangat mengedepankan kerapian dan dekorasi yang mewah minimalis.
__ADS_1
Seorang pria berusia 40 an tahun sedang sibuk menatap layar laptopnya ketika wanita cantik tadi datang menghampiri dia.
"Silahkan duduk Maya." Pria itu mempersilahkan wanita bernama Maya tadi tanpa melepaskan pandangan dari layar laptopnya.
" Mana rekanmu yang satunya lagi?" Lanjut Pria dengan suara yang semakin berwibawa.
" Rekan yang mana pak? Aku masih sendiri di lobi tadi sebelum sekertaris bapak menyuruh saya untuk masuk menghadap bapak," Maya berusaha menekan rasa gugupnya dengan menjawab agak panjang.
Pria itu mengangkat wajahnya dan memandang lekat-lekat wanita yang di siapkan Maya. Ia menatap tajam seolah-olah mengintimidasi Maya yang sedikit mulai tertunduk menatap wajah pria berkharisma ini.
Pria ini adalah James Mariski, Pria berdarah campuran Polandia Indonesia. Walau telah berkepala empat namun wajahnya masih sangat menampakan raut ketampanan. Ia adalah Direktur Utama Mariski Group yang berbisnis di bidang Perhotelan dan Memiliki beberapa Swalayan besar maupun kecil yang tersebar di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia. Ia adalah pewaris tunggal dan ayah ibunya telah lama meninggal dalam sebuah kecelakaan laut ketika sedang berlibur dengan kapal pesiar mereka. Kapal meledak dan terbakar. Ia bersyukur karena sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota.
Kejadian itu sudah belasan tahun yang lalu yang akhirnya menewaskan istrinya yang baru 1 tahun ia nikahi. Istrinya dan anaknya yang masih berusia 8 bulan beserta ayah dan ibunya tewas dalam kecelakaan itu.
kesedihannya itu membuat ia depresi dan kehilangan senyum. Ia cepat marah, beberapa kali melampiaskan amarahnya kepada para pegawai. Bahkan beberapa kali ia mabuk-mabukan. Semuanya sedikit berubah ketika dua tahun yang lalu ia bertemu dengan Marsya yang akhirnya menjadi istri keduanya.
__ADS_1
***