Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
SIUMAN


__ADS_3

***


Bibi Santy mulai terisak dengan suara yang mulai mengalun pelan. Melihat itu kedua polisi itu meminta maaf.


" Maafkan kami jika pertanyaan tadi menguak luka lama ibu atau membuat ibu bersedih. Tapi inilah tugas kami ibu kami harus menemukan titik temu yang benar bahwa anak ini diasuh oleh ibu. Ini akan menjadi laporan kami kepada atasan dan merupakan poin penting dalam kasus ini adalah apakah benar kedua orang tua anak Jimmy ini telah meninggal?" Tanya salah satu polisi sambil mengeluarkan rekaman dan alat tulis serta buku.


" Maaf pak, bukan berarti saya tak mau menjawab semua pertanyaan bapak tetapi apakah boleh saya melihat keadaan anak saya dulu?" Tanya Bibi Santy dengan pipi sembab.


"Oh ya maaf-maaf ibu," kata polisi tersebut. Ia baru ingat Bibi Santy belum sempat menjenguk anak itu.


" Mari ibu," kata James sambil bangkit berdiri diikuti Steven dan Bibi Santy, Sita serta kedua polisi tadi.


mereka menelusuri beberapa lorong dan naik ke lantai dua di mana tempat khusus untuk pemilik rumah sakit atau atau tempat rawat privat.


ketika memasuki kamar rawat tempat jimmy dirawat tersebut. Bibi Santy dan Sita bahkan kedua polisi tadi terkagum-kagum dengan ruangan ini sebab tampak dalam ruangan ini seperti kamar hotel bintang 5. Dipadukan dengan warna putih seluruh dan ornamen-ornamen atau hiasan kamar yang mewah membuat mereka merasa bukan seperti di rumah sakit tetapi berada di sebuah hotel yang sekali nginap harus merogoh kocek jutaan rupiah.


" Wah-wah, kelihatannya Pak James ini kelewatan dermawan. Bagaimana mungkin ia menempatkan anak ini yang belum dikenal sama sekali, di ruang khusus keluarga ini." Kata salah satu polisi itu dalam hati.


" Ibu Santy ini anak angkat mu." Kata James sambil menghampiri tempat pembaringan yang lebar dan mewah.


Nampak di situ ada dua perawat yang setia menjaga sambil terus mengecek keadaan Jimmy apa bila sewaktu-waktu ia siuman.


" Ah, Jimmy!!" Teriak Bibi Santy melihat keadaan Jimmy yang masih dibantu oksigen dan dibalut dengan peralatan medis lengkap serta beberapa perban di tubuh lengan dan kakinya.


" Kak Jimmy!!" Teriak Sita sama histerisnya.


ketika anak dan ibunya itu hendak menghampiri tempat tidur itu untuk segera memeluk Jimmy kedua perawat cantik yang bertugas menjaga dan merawat Jimmy segera menghalau mereka.

__ADS_1


"Jangan disentuh dulu ibu. Ia masih belum sadarkan diri dan masi beberapa luka ringannya yang baru diperban." Saya harap ibu tenang dan jangan panik. Ia baik-baik saja.


" Bagaimana mungkin baik-baik saja? Suster lihat saja tubuhnya dipenuhi peralatan seolah-olah dia koma," kata Bibi santy sambil menatap tajam suster perawat itu.


Suster itu pun menjelaskan seluruh keadaan Jimmy seperti yang disampaikan dokter kepada James tadi. Bibi Santy dan Sita merasa lega namun masih sedikit khawatir karena sampai sekarang Jimmy belum sadarkan diri.


Mereka terus berdiri bercengkrama dan saling bertukar cerita. Hingga pada suatu saat salah satu polisi menggali informasi dari Bibi Santy untuk dapat dijadikan laporan.


"Apakah Ibu mengenal baik kedua orang tua kandung dari anak ini?" Tanya Polisi tersebut sambil menyiapkan alat tulis dan alat perekam.


"Iya pak, kami bertetangga sudah puluhan tahun ini pak." Jawab Bibi Santy.


"Boleh saya tahu apakah anak ini sedang bersekolah?" Tanya polisi itu lagi.


"Dia tidak bersekolah lagi sejak tamat SD dua tahun yang lalu pak. Sejak kematian ayahnya dua tahun yang lalu, Ibunya telah 10 tahun yang lalu meninggal ketika melahirkan adiknya Jimmy, saya hanya sanggup menyekolahkan dia hingga tamat SD dan tidak punya biaya lagi untuk memberikan dia pendidikan di jenjang sekolah menengah pertama sebab saya harus membiayai Sita anak kandung saya ini." Jawab Bibi Santy dengan raut wajah sedih.


James yang berdiri tak jauh dari tempat polisi dan Bibi Santy duduk tersebut mulai memasang telinganya sebab ia mulai tertarik dengan pembicaraan mereka, dan akhirnya ia memasang telinganya baik-baik.


"Apa???" Kata James tiba-tiba dan langsung berjalan mendekati polisi dan Bibi Santy disusul Steven yang mulai penasaran dengan ungkapan Bibi Santy tadi.


"Maksud ibu?" Kata James cepat ketika mendekati mereka.


"Iya Pak James, Jimmy diadopsi mereka 13 tahun yang lalu." Kata Bibi Santy dengan bibir bergetar sebab telah sekian lama ia menyimpan rahasia ini. Bahkan kepada Jimmy, ia belum sekalipun menyinggung cerita ini.


"Jadi benar dugaan ku. Sebab melihat paras anak ini ia seperti memiliki darah campuran. Ia sangat tampan." Kata James dalam hati sambil menggaruk dagunya yang tak gatal.


"Apakah ibu tahu kapan mereka mengadopsi anak ini?" Tanya Steven mewakili keingintahuan James.

__ADS_1


Belum sempat Bibi Santy menjawab, salah seorang polisi memotong pembicaraan mereka.


" Maaf Pak James dan Pak Steven maaf kami memotong pembicaraan anda sekalian. Sekarang sudah pukul 10 malam dan saya kira dari laporan Ibu Santy dan keterangan saksi serta warga-warga di pemukiman mereka tadi sudah sangat cukup untuk menjadi laporan kami. Maka dari itu saya mohon pamit untuk kembali ke kantor."


" Oh maafkan kami pak sudah terlalu jauh berbicara sampai-sampai melupakan bapak berdua." Sahut James.


" Terimakasih banyak pak sudah mengurus laporan Lakalantas dan minta maaf jika mengganggu dan menyita waktu bapak berdua hingga jam selarut ini." Kata James sambil mengulurkan tangan dan berjabat tangan dengan kedua polisi tadi dengan senyum ceria.


"Terimakasih juga Pak James sudah mempercayakan kami untuk mengurus semua ini." Kata polisi yang lain sedang mereka berjabat tangan.


Steven menyerahkan sebuah amplop coklat berisi uang tunai sebagai hadiah kepada kedua polisi tersebut. Itu bukan sogokkan atau semacamnya namun itu hanyalah ucapan terimakasih.


"Jangan pak, kami bekerja tulus dan tidak memandang karena kekayaan. Melayani bapak saja sudah satu kebanggaan buat kami berdua." Kata salah satu polisi sambil menolak pemberian Steven.


Setelah pembicaraan yang alot karena kedua polisi tersebut bersikeras untuk menolak, akhirnya Steven mengalah dan kedua polisi tersebut pamit pergi meninggalkan Steven dan James duduk di Sofa empuk itu, sedangkan Sita setia menjaga Jimmy di samping tempat tidurnya.


"Jadi bagaimana Ibu Santy apakah kita boleh melanjutkan pembicaraan kita tadi?" Tanya James langsung kembali kepada persoalan mereka tadi.


"Aku harus mulai dari mana ya, sebab kejadiannya sudah belasan tahun yang lalu." Kata Bibi Santy sambil menatap ke arah lain sambil mencoba mengingat-ingat kejadian belasan tahun yang lalu itu.


Ketika Bibi Santy hendak memulai ceritanya tiba-tiba terdengar suara batuk, disusul teriakan Sita.


" Ibu, Kak Jimmy, ....... Ibu cepat ke sini dulu," teriak dia dengan kata-kata yang tumpang tindih serta dibaluti wajah panik.


Steven, James dan Bibi Santy berlari cepat k arah tempat tidur Jimmy.


di sana sudah ada kedua perawat, dan mereka melihat Jimmy telah membuka matanya dengan tatapan aneh kepada semua orang yang mengelilingi dia.

__ADS_1


"Aku di mana?" Akhirnya ia mengeluarkan suara.


###


__ADS_2