
Serly terbuka mulutnya, Cassandra, Lydia beserta teman-teman kelas VII A SMP Nusantara berdiri mematung mencoba terbangun dari mimpi. Semua mereka berasal dari keluarga mampu tentunya. Namun siapakah yang mampu membeli mobil Sport di Trenggalek ini. Mereka dapat dihitung dengan jari sebab tidak semua pengusaha mau membuang uang bermiliar-miliar hanya untuk membeli mobil sport dan bergaya di ibukota kabupaten di pelosok timur pulau Jawa ini. Dan di hadapan mereka seorang siswa SMP yang terlihat biasa-biasa saja, ke sekolah dengan menggunakan ojek dan tidak terlalu menonjol secara penampilan selama dua hari ini di sekolah, namun ia datang ke sebuah acara ulang tahun kecil ini dengan Buggatti Chiron. Gila dan gokil bukan? Tentu saja prrasaan itulah yang terpatri dalam hati anak-anak remaja yang memandang kagum pada anak baru di kelas mereka tersebut.
Jimmy Jonathan Putra Mariski.
Dialah sosok yang keluar dari pintu mobil sport tersebut. Jimmy tak datang sendiri. Ia datang bersama seorang pria muda yang bahkan membukakan pintu mobil untuk dia. Jimmy keluar sambil menebarkan senyum terbaiknya dan tentu saja seperti biasanya. Senyum yang tak dibuat-buat, santai dan tentu saja terlihat akrab dan hangat.
Dari semua yang terkagum-kagum dengan momentum kedatangan mobil sport tersebut, Serly-lah yang paling tertegun dengan situasi itu. Ia tak menyangka siswa baru yang selalu ia cuekin, ia pandang rendah karena terlalu cari perhatian, tak elok secara penampilan walau tampang cukup tampan, adalah seorang yang berasal dari keluarga kaya.
Ia tampak senang namun di balik bahagianya tersirat rasa bersalah dan rasa malu yang amat sangat pada kawan sebangkunya tersebut. Jimmy dan pria muda di sampingnya berjalan memasuki tempat acara dengan. Semakin dekat Serly semakin terkagum dengan penampilan teman barunya tersebut. Dari, baju, celana, hingga sepatu sneakers yang ia kenakan, wow.... Semuanya bermerk terkenal dengan harga yang fantastis. Dan satu lagi yang hati Serly berdebar adalah pada tangan pria muda terdapat sebuah kantong tentengan bermerk GUCCI.
Jimmy tersenyum lebar ketika menemukan yang berbahagia pada malam hari ini.
" Selamat Ulang Tahun Cer.."
Cer adalah nama Serly yang kata jimmy akan semakin manis jika dipanggil demikian. Alay dan lebaynya itulah yang membuat dua hari ini Serly begitu muak melihat Jimmy. Namun malam ini begitu berbeda dengan kemarin dan siang tadi. Malam ini Jimmy dipandang bak pangeran yang sedang menyamar lalu pada suatu momen membuka dan menunjukkan keasliannya. Serly bahagia tentu saja. Bahagia bercampur malu lebih tepatnya.
" Terimakasih Jimmy." Balas Serly singkat dengan senyum yang sedikit tersipu, sambil berjabatan tangan dengan Jimmy.
" Paman mana hadiah nya?" Tanya Jimmy sambil memandang pria muda yang stand by di belakangnya.
Pria muda itu memberikan kantong yang sadari ia tenteng.
" Ini tuan muda." Sahut pria muda itu sopan.
Serly yang sedang berdiri bersama dengan Cassandra dan Lydia tertegun bendengar kalimat pendek yang terukir dari bibir pria muda tersebut.
__ADS_1
" Tuan muda?? Wow!! Siapa sebenarnya siswa baru ini? Jika dia dari Jakarta dan berasal dari keluarga kaya, ngapain jauh-jauh ke Trenggalek ini?" Tanya mereka dalam hati masing-masing.
" Maaf Cer. Aku tidak terlalu tahu barang apa yang paling kamu suka. Semoga ini cukup memuaskan. Maaf jika ini terlihat biasa-biasa saja buat kamu." Kata Jimmy sambil menyerahkan kantong tentengan yang berlabelkan Gucci kepada Serly.
" Yahhh pasti senang dan memuaskanlah!!" Gerutu Cassandra dalam hati mendengar kata-kata merendah yang diucapkanJimmy tadi.
"Toh barangnya Gucci." Lanjut Cassandra dalam hatinya.
"Terimakasih banyak Jimmy. Maaf sudah merepotkan. Dan terimakasih sudah datang di acara sederhana in." Balas Serly malu-malu sambil menerima hadiah dari jimmy.
Ekspresinya memang malu-malu namun dalam hatinya berbunga-bunga dan hendak berteriak sekeras-kerasnya menerima hadiah ini. Sudah pasti harga yang adalah di dalam kantong ini puluhan juta. Dan ada yang bahkan menyentuh ratusan juta. Rasa-rasanya Serly hendak masuk ke dalam salah satu ruangan di hotel ini dan membuka apa isi hadiah dari kawan sebangkunya ini.
" Sebagai teman sebangku, aku wajib datang dong." Balas Jimmy lagi sambil tersenyum hangat.
" Hay bu ketua kelas. Hay Lydia. Kalian dari tadi ya?"
Jimmy kemudian terlibat perbincangan santai dengan Cassandra dan lydia.
Serly memandang Jimmy dengan tatapan penuh rasa bersalah. Ia ingin meminta maaf atas segala sikap yang ia tunjukkan selama keduanya menjadi teman sebangku. Serly sering merendahkannya, cuek, menghardik dengan kata-kata kasar dan seringkali menohok, namun lihatlah, ia terlihat santai, ceria, bahkan membawakan hadiah dengan harga tidak masuk akal.
Serly juga menemukan bahwa Jimmy bersikap kepadanya apa adanya tanpa melihat masa lalu, melihat sikap buruk yang ia tunjukan di sekolah.
" Siapa dia sebenarnya??" Lanjut Serly dalam hati sambil tersenyum memandang Jimmy dan Cassandra yang terlibat dalam percakapan jenaka. Sedangkan Lydia yang melihat aksi kocak keduanya hanya bisa tersenyum dan sesekali tertawa lepas. Mereka kemudian bergabung bersama teman-teman sekelas mereka yang lain.
Dari semua mereka tentu Serlylah yang paling bahagia, ia semakin bahagia ketika mendapatkan hadiah special dari Jimmy tersebut, bahkan saking pamernya ia tak meletakkan hadiah tersebut dan terus membawanya di tengah acara tersebut agar dilihat semua orang betapa mahalnya hadiah ini.
__ADS_1
Hehehe ada-ada saja.
####
Melihat tuan mudanya tersebut sudah membaur bersama teman-teman kelasnya. Pria muda yang datang bersama Jimmy tersebut pun akhirnya mohon pamit dan mencari tempat duduk. Ia berjalan ke arah pinggir tempat acara. Ia duduk di sana sambil menatap indahnya Kota Trenggalek dari atas bukit ini.
Ketika ia melirik ke seseorang yang sedari tadi tak berhenti memandang ia dan tuan mudanya, ia menemukan bahwa orang tersebut sedang berjalan ke arahnya.
Dari balik keremangan malam, pria muda tersebut tersenyum tipis.
" Ceritanya bakal panjang." Gumam pria tersebut dalam hatinya.
Selang beberapa saat.
" Aku tahu anda memiliki banyak pertanyaan. Makanya saya berusaha menjauh dari tuan muda. Sudah pasti anda akan datang dan berbicang dengan saya secara pribadi." Kata Pria muda tersebut sambil mengangkat kepalanya memandang seseorang yang telah berada di hadapannya.
" Selamat malam Ibu Julia Sriningsih," lanjut pria muda itu sambil berdiri dan berjabatan tangan dengan Julia.
Keduanya duduk di meja tersebut, dan sampai sejauh ini Julia masih duduk membisu. Ia memang sudah menduga pertemuan dan percakapan ini akan terjadi, namun ia tak menyangka akan datang secepat ini.
Setelah duduk di hadapan pria muda tersebut, Julia kemudian berkata.
" Pantasan saja, anda dapat dengan mudah membeli tiga perumahan kami yang terbaik sebab tuan muda anda bermarga Mariski. Marga yang berlimpah kekayaannya di ibu kota." Kata Julia sambil tersenyum mentah. Setelah belasan tahun akhirnya ia kembali mengumpulkan keberanian untuk menyebut marga tersebut.
###
__ADS_1