Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Di Rumah Sakit


__ADS_3

***


"Waduh! Anak itu dalam keadaan baik-baik atau tidak?" Kata James dengan bibir bergetar karena takut, kalau-kalau anak yang mereka tabrak tadi kenapa-kenapa.


Syukur kalau luka ringan bagaimana kalau sampai anak itu meninggal keduanya akan berurusan dengan pihak berwajib dan keluarga.


" Tidak tahu tuan. Semoga dia baik-baik saja." Jawab Steven tidak kalah paniknya.


" Kamu juga....... Hati-hati lah, pelan-pelan, jangan ngelamun dong!" Kata James sedikit dengan nada marah.


"Saya tidak tahu tuan, soalnya tadi ketika belok ke kiri, pandangan kita terhalang gerobak pedagang kaki lima. Tau-tau anak itu lewat begitu saja."Jawab Steven lagi. Jika di review lagi, memang begitulah kejadiannya.


"Sudah-sudah. Ayo kita lihat keadaan anak itu." Kata James sambil membuka pintu mobil sportnya yang di dorong ke atas.


Steven memarkirkan Mobil Bugatti Chiron, mobil sport milik James tersebut dan dengan segera keduanya membuka pintu mobil dan dengan segera menghampiri anak yang mereka tabrak yang tidak lain adalah Jimmy. Ketika keduanya keluar dari mobil mereka hampir saja digebuk warga yang sekitar yang mulai mengerumuni tempat kejadian.


" Hei.... hei... Sabar-sabar semuanya. Kami berdua akan bertanggungjawab dengan anak ini." Kata James menengah kan massa yang mulai padat berkumpul. Kendaraan yang lalu-lalang pun mulai berhenti dan macet.


" Wah dasar orang kaya, nyetir mobil mewah ngga liat jalan ya," kata salah satu pedagang kaki lima di situ sambil menggerutu pelan, namun suara mereka terdengar jelas.


" Benar......" Massa yang berada di situ menjawab serempak.


" Maaf-maaf kami tidak sengaja." Kata Steven dan James bersama-sama.


"Ahh, tipu lu, memang orang kaya biasa begitu. Liat anak itu. Dia yatim piatu. sudah susah kalian susahkan lagi." Kata salah seorang pemilik kios sembako yang ada di area taman itu.


James dan Steven pun mencoba mendekati anak itu. Mereka berusaha menerobos orang-orang yang mengelilingi Jimmy yang terkapar pingsan, dengan wajah dilumuri darah segar.


Melihat keadaan Jimmy yang sudah pingsan karena darah yang terus keluar, seketika itu juga James sadar mereka harus segera mengantar anak itu ke rumah sakit.


" Waduh, Steven ayo kita bawa anak ini ke rumah sakit. Jika kita menelepon polisi atau menunggu ambulance lagi, maka anak ini tidak akan tertolong." Kata James sambil meminta bantuan Steven untuk menggotong Jimmy masuk ke dalam mobilnya. Semua orang yang sedari tadi berkumpul hanya melihat dan menonton James dan Steven menggotong anak itu. Maklum itulah orang kota, tak berani untuk mengambil resiko menjadi saksi apabila anak yang ditabrak meninggal dunia.

__ADS_1


Ketika di dalam mobil,


" ayo Stev, kita ke rumah sakit milikku saja. Kalau dari sini kan dekat saja ke rumah sakit." Kata James dengan wajah cukup pucat.


"Siap, tuan," Kata Steven dan melaju ke Rumah sakit milik Swasta milik Mariski Group. Dan tentu saja pemilik rumah sakit itu adalah James.


" Lebih cepat Stev. Anak ini sudah tidak sadarkan diri. Jika terlambat kita akan kehilangan anak ini." Kata James setelah melihat keadaan Jimmy.


"Akan aku usahakan tuan," ujar Steven serius sambil fokus melihat jalan.


Dengan mobil Sport yang laju itu, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit Mariski hanya dalam waktu 15 menit. Yah maklum saja mobil Buggati adalah jenis mobil sport yang sangat kencang di atas aspal.


" Stev, Bantu aku membawa dia ke ruang UGD."setelah membuka pintu buat James yang sedari tadi dalam mobil menggendong Jimmy sambil berusaha menutup luka dengan jas hitamnya agak tidak banyak darah yang keluar.


"Siap Tuan." Sahut Steven sigap membantu James, juga sebelumnya menutup pintu mobil.


Di depan ruang UGD, keduanya sudah disambut dua orang perawat wanita, beserta satu tempat tidur pasien.


Yah, benar ketika di dalam mobil tadi James telah menelpon Dokter Brian, Direktur Rumah Sakit Mariski. Dan menyampaikan perihal kecelakaan dan tentang Jimmy yang akan di bawa ke rumah sakit.


" Maaf Pak James dan Pak Steven, bapak berada di luar ruangan dulu, selesai pemeriksaan barulah kami menemukan bapak berdua," Kata seorang dokter wanita yang masih terlihat muda dengan sangat ramah. Sebab ia sedang berhadapan dengan pemilik rumah sakit ini.


"Baik Dok." Sahut James pendek. Dan berlalu bersama Steven ke ruang tunggu UGD.


Sesampainya di ruang tunggu itu. James dan Steven menjadi pusat perhatian pengunjung di situ, sebab jas kantor keduanya terdapat banyak noda darah dari anak tadi yang tidak lain adalah Jimmy sendiri.


Keduanya berjalan mondar-mandir tak jelas sebab mereka berdua disibukan dengan pikiran dan ketakutan masing-masing. Beberapa saat kemudian Dokter Brian yang baru selesai mengoperasi salah satu pasien jantung datang menghampiri James yang masih mondar-mandir tak karuan.


"Selamat sore Pak James." Kata Dokter Brian sopan.


"Sore juga dok." Sahut James singkat.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan anak tadi? Apakah sudah ada laporan dari dokter yang memeriksanya?" Tanya Dokter Brian.


"Belum dok. Kami masih menunggu." Jawab James singkat.


Melihat atasannya kurang mood untuk diajak lebih santai dan rileks menghadapi persoalan seperti ini Dokter Brian memutuskan untuk mengajak ke ruangan Direktur. Sebab tak elok bila seorang pemilik rumah sakit ini duduk di ruang tunggu biasa.


" Pak James dan Pak Steven. Bagaimna kalau menunggu di ruangan saya saja atau di ruangan meeting."


" Ahh tidak perlu dok. Saya datang sebagai keluarga pasien. Bukan sebagai pemilik rumah ini." Kata James dengan sedikit mengukir senyum, walau sangat jelas itu sangat dipaksakan.


dr. Brian tahu baik, Bosnya ini tidak ingin yang resmi-resmi atau di layani sebagai seorang Presdir Mariski Group pemilik banyak hotel, mall, rumah sakit, bahkan sekolah-sekolah swasta berlabelkan Mariski Group.


Hal ini disebabkan karena Brian selain sebagai Direktur Rumah Sakit Mariski, juga adalah dokter pribadi James dan keluarganya Bahkan dari Orang tua istri pertama Donita dan anak James yang bernama Jorge masih hidup.


James dan Brian seusia sehingga seperti sahabat karib yang sudah saling mengenal watak dan tingkah laku masing-masing.


" Baiklah jika memang itu keinginan pak, maka saya tinggal dulu. Sebab masih ada beberapa pasien yang harus dioperasi sore ini." Kata Dokter Brian memohon diri.


"Silahkan jalani tugasmu dok." Jawab James dengan menyunggingkan senyum tipis.


Setelah beberapa saat setelah kepergian dokter Brian, James menghempaskan tubuhnya di kursi ruang tunggu tersebut dan memejamkan matanya.


***


Rumah Bibi Santy.


Bibi Santy mondar-mandir tak karuan di depan teras rumahnya sambil sesekali memandang jauh ke arah ujung gang kompleks kumuh itu. Namun orang yang ditunggu tidak kunjung datang. Yah, Bibi Santy sedang menunggu kedatangan Jimmy anak yatim piatu yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya atau kakaknya Sita anak sematawayangnya.


" Biasanya ia tidak seperti ini. paling lambat jam 6 sore dia sudah berada di rumah. Tidak biasanya sampai jam 7 malam seperti ini ia belum kembali ke rumah. Kemana ya?" Kata Bibi Santy dalam hatinya


Wajahnya menampakan kecemasan yang amat sangat. Sebab firasatnya kurang baik sejak tadi siang. Ia takut terjadi sesuatu dengan Jimmy.

__ADS_1


Tiba-tiba Mang Dadang berjalan cepat ke arah Bibi Santy diikuti dua orang polisi berpakaian lengkap.


###


__ADS_2