Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Pria Paruh Baya


__ADS_3

" Mari paman. Kita sarapan bersama." Ujar Jimmy sambil melayani Nathan menyiapkan piring dan perlengkapan makanan. Nathan jadi tak enak hati sedangkan Maya membuang nafas dengan keras lalu menyudahi sarapannya dan berlalu dari ruang makan untuk menyiapkan diri ke kantor.


" Tuan muda terlalu berlebihan. Jangan mengorbankan segalanya hanya untuk membela pelayan seperti kami tuan muda." Ujar Nathan seraya menatap Jimmy dengan tatapan serius.


" Hehehe. Ayah James selalu berpesan setiap kali mengunjungi kamar dan menemani saya sebelum tidur. Jangan membeda-bedakan status seseorang hanya karena materi dan status sosial. " Balas Jimmy seraya tersenyum kepada Nathan.


Dan sambil makan jari telunjuk kirinya menekan ke arah jidatnya, Jimmy berkata;


" Saking seringnya ayah mengucapkan kalimat itu, kalimat itu kemudian tersimpan di sini." Lanjut Jimmy dengan telunjuk masih di kepalanya.


" Selama Tuan Besar James masih hidup. Ia juga sering mengucapkan kalimat itu tuan muda. Maka paman tidak terlalu terkejut jika kalimat itu diucapkan oleh tuan muda dari almahrum Tuan James." Kata Nathan lagi seraya melanjutkan sarapan bersama Jimmy.


Tiba-tiba jelita yang sedari tadi diam kemudian angkat bicara.


" Jimmy. Boleh kah kita dua berangkat barengan ke sekolah?" Tanya Jelita hati-hati seraya memandang Jimmy lekat-lekat.


Menyadari pertanyaan sekaligus permintaan tersebut datang dari Jelita, Jimmy dan Nathan saling berpandangan. Keduanya terkejut dan bingung sekaligus girang dengan sedikit perubahan sikap dari anak tiri James Mariski ini. Mereka berdua bahkan seisi masion ini tahu kalau saudari tiri Jimmy ini tak akur dengan tuan muda mereka. Ia dan ibunya serta bibinya semakin terang-terangan tak menyukai pewaris tahta Mariski Corp tersebut. Namun pertanyaan sekaligus permintaannya pagi ini cukup menyiratkan intensi misterius.


" Boleh-boleh. Memangnya ada yang perlu kita bicarakan?" Tanya Jimmy dengan wajah menyiratkan pertanyaan besar.


" Tidak. Aku hanya ingin semobil dengan kamu. Tidak ada yang ingin aku bicarakan." Ujar Jelita dengan senyum tulus.


" Yah baiklah kalau begitu." Jimmy menyudahi interogasinya setelah mendapat jawaban santai dari Jelita.


Ia masih bertanya-tanya namun biarlah suatu saat nanti Jimmy akan menemukan sendiri jawabannya.

__ADS_1


Selesai sarapan bersama, Jimmy dan Jelita berangkat ke sekolah di sekolah swasta yang ternyata adalah milik Mariski Corp. Yayasan Nusantara adalah Yayasan yang didirikan oleh ayah dari James Mariski yang kemudian diberi nama Yayasan Nusantara yang membawahi beberapa sekolah dari Sekolah Dasar, Sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas. Saat ini Yayasan sedang berusaha untuk mendirikan perguruan tinggi di bawah naungan Yayasan Nusantara. Gila bukan? Jimmy di dalam mobil membayangkan betapa kayanya Mariski Corp tentu memiliki aset-aset yang besar serta memiliki saham di beberapa perusahaan besar. Ditambah anak-anak perusahaan yang tersebar di seluruh provinsi di nusantara ini.


Jimmy dan Jelita Kembali ke aktifitas mereka sebagai remaja sekolah menengah pertama setelah selesai masa duka mereka kepergiaan ayah mereka. Mereka dua semobil Toyota Alphard putih kesayangan Jimmy. Sebab mobil ini adalah pemberian pertama dari ayah James. Maka mobil ini bukan saja menjadi mahal secara harga namun juga secara menjadi mahal dalam hal historisitasnya.


###


( Di sebuah ruangan di komplek perumahan elit )


Prakkk...


Seorang pria paruh baya menggebrak meja sambil mengumpat kesal kepada beberapa orang bawahan yang duduk di dalam ruangan tersebut.


" Dasar anak durhaka. Aku tugaskan dia masuk dalam ruang lingkup Mariski Corp, mengambil hati presdir dan menjadi orang kepercayaan kemudian menjatuhkan secara perlahan,, ehhhh dia malah hilang lenyap entah kemana!!" Seru pria paruh baya tersebut dengan kesal.


" Hanya mengurus satu orang loh!! Kalian tidak sanggup. Malah datang dengan wajah lesu sambil meminta maaf." Ujar pria itu lagi sambil menatap tajam pada beberapa bawahan yang hanya tertunduk dan diam seribu bahasa.


" Alex jawab!!! Sejauh mana kalian melacak keberadaannya? " Tanya pria paruh baya tersebut kepada seorang bawahan yang adalah asisten pribadinya. Yah pria paruh baya tersebut adalah pria paruh baya yang turut hadir dalam upacara penguburan Presdir Mariski Corp James Mariski tempo hari.


" Maaf tuan. Kami benar-benar tidak mendapatkan petunjuk keberadaan Tuan Steven. Bahkan anak-anak buah sudah aku sebarkan hingga menggeledah apertemennya. Namun kata pengurus apertemen ia sudah pindah rumah beberapa minggu yang lalu. Maafkan kami tuan, kami benar-benar kehilangan jejak tuan Steven. Namun saya berjanji tuan, saya akannn....."


" Cukup!! Janji tidak akan menyelesaikan persoalan Alex. Ditambah lagi, engkau terlalu sering membuat janji lalu akhirnya gagal juga menepati janji." Potong pria paruh baya tersebut dengan cepat.


" Lalu bagaimana kabar orang dalam yang kau hubungi tempo hari?" Tanya pria paruh baya itu lagi.


" Belum ada kabar tuan. Kata mereka situasi dalam kantor masih biasa-biasa saja." Jawab Alex dengan suara lirih. Ia siap untuk menerima cercaan dari bosnya tersebut sebab urusan yang satu ini belum juga kelar.

__ADS_1


" Hahhhhh... Semua anak buah tidak bisa diandalkan. Mengurus situasi se simple ini saja kalian tak mampu bagaimana kalian akan diberi kepercayaan untuk mengurus perusahaan sebesar Mariski Corp?" Desah pria paruh baya tersebut sambil menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya.


Beberapa detik semuanya terdiam. Menunggu kata-kata lanjutan dari bos mereka yang sedang marah besar. Beberapa dari mereka bahkan menahan nafas takut-takutnya mereka dipecat oleh bos mereka tersebut.


Selang beberapa detik, bos mereka berkata dengan nada suara yang cukup rendah;


" Namun aku heran, perusahaan sebesar itu dapat berjalan tanpa ada presdir dan hanya ada presdir boneka yang belum cukup umur!? Bahkan tak ada yang berbeda antara sebelum dan sesudah James Mariski meninggal. Ini aneh bagaimana perusahaan sebesar dan serumit Mariski ini menjalankan sistem bisnisnya dengan tampuk pimpinan kosong?" Pria paruh baya tersebut tampak mengeluh sambil memijat-mijat kepalanya yang nampak sedang berpikir keras.


Semuanya terdiam. Sebab mereka tahu benar sifat dan tabiat bos mereka yang ini. Dia orangnya ambisius, penuh perhitungan dalam mengambil langkah bisnis, memiliki segudang strategi, dan satu lagi tentu ia adalah pria yang brilian secara intelektual. Itu dapat terlihat dari basic pendidikan yang mencapai S2 di luar negeri di bidang bisnis. Oleh karena itulah Ia menjalani semua rencana ini selama bertahun-tahun lamanya, menjalankan dengan cermat dan penuh dengan perhitungan. Namun hingga saat ini semua bawahan tak memiliki referensi terkait intensi di balik sikap ambisius bos mereka untuk menguasai dan menjatuhkan Mariski Corp. Bisa dibilang bos mereka adalah pria yang misterius. Bahkan latar belakang keluarganya juga dapat dikatakan sangat misterius.


Kring.. Kring...Kring...


Ponsel pria paruh baya tersebut berdering menandakan ada panggilan masuk. Semua mereka mengangkat wajah mencari tahu asal muasal dering ponsel tersebut. Namun setelah mengetahui nada panggilan masuk tersebut berasal dari ponsel bos mereka semuanya kembali tertunduk.


" Kalian boleh keluar dari ruangan ini." Perintah pria paruh baya tersebut kepada semua bawahannya tanpa terkecuali.


Setelah semuanya keluar dari ruangan tersebut, ia mengangkat teleponnya.


" Yah, Hallo??" Tanya pria paruh baya tersebut dengan wajah yang dipenuhi guratan-guratan pertanyaan.


Dapat dimaklumi sebab nomor yang baru masuk ini adalah nomor baru dan tak tersimpan di dalam kontaknya.


bersambung....


###

__ADS_1


__ADS_2