Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Menghibur


__ADS_3

# aku sadar walau umurku belum cukup memahami apa yang terjadi sesungguhnya dalam keluarga ini namun isi hatiku berkata sekeras apa pun perlakuan ibu sambung aku, aku harus tetap sabar dan tabah demi membalas kasih sayang ayah James. Inilah kisah ku. #


Jimmy menutup diary kecilnya itu dan bersiap untuk menutup lampu kamar dan beristirahat untuk membuang rasa sakit hatinya selama menempati rumah mewah ini.


Ketika hendak memejamkan matanya, tiba- tiba pintu kamarnya diketuk dengan halus.


Tok tok tok.


" Sayang, sudah tidur?" Tanya suara dari luar kamar Jimmy.


" Ayah James?" Gumam Jimmy dalam hati.


Jimmy langsung mengenali suara itu sebab selama beberapa hari bahkan minggu ini ia terus berjibaku dengan suara ini bahkan suara ini akan terus bersamanya hingga seumur hidupnya bila memang Tuhan menghendaki semua itu terjadi.


Jimmy bangkit lalu berjalan cepat membuka pintu kamarnya.


" Nak, kamu belum tidur?" Tanya James seraya masuk ke dalam anak sambungnya itu. mereka berdua duduk santai di atas tempat tidur Jimmy. James tampak memandang lekat-lekat wajah anak laki-lakinya itu sedang Jimmy yg dipandangi sedemikian kemudian tertunduk gugup. Ini malam pertamanya di Masion besar ini. Dan ia dihadapkan pada situasi sulit ini.


" Ayah tahu kamu sedang memikirkan sikap bunda dan adikmu." Kata James membuka pembicaraan mereka.


" Jangan takut nak, ayah akan selalu di sampingmu dan sebenarnya bunda orangnya baik kok, hanya ayah salah karena tak memberitahu bunda mu." Kata James sambil memandang lekat-lekat anaknya tersebut sambil mengelus rambutnya.


James sengaja mempersalahkan dirinya agar Jimmy tak merasa ditolak di rumah ini.


" Esok, ayah dan paman Steven akan mengantar kamu untuk mendaftar ke sekolah. Ayah memutuskan untuk menyekolahkan kamu di sekolah yang sama dengan Jelita. Paman Steven sudah mengatur segalanya. Apa kamu setuju nak?" Lanjut James.


" Aku siap yah." Jawab Jimmy sambil memandang ayah angkatnya sekilas. Ia membalas singkat sebab ia tak mampu merangkaikan kata yang cukup bagus untuk mewakili perasaannya saat ini.


" Baiklah sayang. Istirahatlah. Esok tentu akan melelahkan buat kamu." Lanjut James sambil mengacak- acak rambut anak angkatnya dan berlalu pergi dari kamar anaknya tersebut meninggalkan Jimmy dengan sejuta rasa gugup yang menderu dalam dadanya.

__ADS_1


Sepeninggalan James, Jimmy lekas menutup pintu kamarnya dan menghempaskan tubuhnya pada pembaringan dengan kasar sambil memandang langit-langit kamar yang begitu mewah.


" Tuhan, semoga semuanya berjalan lancar," gumam Jimmy dalam hati. Ia akhirnya terlelap dalam mimpi dengan membawa semua perasaan hati yang campur aduk.


###


Kamar Maya


" Sialan, aku disudutkan lagi dan aku tidak mampu mengatakan yang sebenarnya dihadapan kakak iparnya. Ini sangat berat sebab aku belum memiliki kekasih. Lalu apa yang harus aku katakan pada kakak James esok?" Gumam Maya dalam hati sambil memutar Handphone di tangan dan mengelilingi kamar mewahnya seperti orang yang sedang dalam kegusaran.


"Hufftttt..... Apa yang harus aku lakukan?" Lanjut Maya dalam hati.


Sejujurnya situasi saat ini lebih sulit dari pada kerjaan di kantor Mariski Group yang mana ia telah menjabat sebagai kepala Divisi Keuangan Mariski Group yang tentunya akan sangat melelahkan. Apalagi mengurus keuangan Perusahaan sekelas Mariski Group yang memiliki banyak cabang dengan omset yang setiap tahun selalu menanjak labanya.


" Ini lebih sulit ketimbang kerjaan aku di kantor." Kata Maya dalam hati sambil mencoba memperhatikan layar handphone nya sambil mencari ide agar dapat keluar dari situasi pelik ini.


###


" Jel.... Jelita..." Teriak Shena, sambil mengguncang tubuh seorang remaja cantik disampingnya.


" Kenapa sih??? Balas remaja cantik yang dipanggil dengan nama Jelita sambil mencoba melepaskan tangan Shena yang mengguncang tubuhnya tadi.


" Lihat itu, Siswa baru tahun ini cakep-cakep ya," kata Shena dengan girangnya.


" Dan menurut pengamatan aku sedari tadi, dia yang paling cakep deh!" Kata Shena sambil menopang dagunya dan memasang senyum sumringah.


Jelita yang tidak lain tidak bukan adalah putri sambung dari James Mariski tersebut, kemudian memandang ke arah jari telunjuk Shena dan betapa terkejutnya Jelita ketika melihat siapa yang dimaksudkan oleh Shena sahabat karibnya.


" What?? Sialan itukan anak belagu yang dipungut ayahku di pemukiman kumuh. Kok dia bisa sekolah di sini. Ayah tidak pernah cerita dengan aku ya. Dan lagian ngapain sih dia harus satu sekolah dengan aku. Kayak ngga ada lagi SMP Favorit selain di sini. Uhhhh.. sialan!!! " Gumam Jelita sambil meremas tangannya sambil menggebrak meja.

__ADS_1


" Heii Jel..!!!!" Teriak Shena sambil melambaikan tangannya di dekat wajah wanita itu dan memandang wajah Jelita lekat-lekat.


Jelita yang terkejut kemudian tersenyum gugup ke arah Shena sahabat karibnya. Keduanya memang seperti surat dan perangko. Tak dapat dipisahkan. Entah di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Bahkan Shena sering beberapa kali nginap di rumahnya Jelita Mariski masion.


" Kamu kenapa sih? Matamu seperti mau menerkam aja tu anak baru." Lanjut Shena keheranan sambil menatap Jelita dan anak baru itu secara bergantian.


Yah wajar saja Jelita memang belum menceritakan perihal Jimmy kepada sahabat karibnya itu. Ia memang berniat untuk menceritakan perihal kakak angkatnya itu namun belum saatnya sebab ia belum terlalu mengenal lebih jauh kakaknya tersebut.


" Kamu kenal ya dengan tuh anak baru? Dari tatapan matamu seperti mengintimidasi banget tuh!" Sambung Shena dengan wajah keheranan.


" Maaf Shen," Balas Jelita dengan senyum tersungging ke arah Shena.


" Aku nggak kenal kok. Hanya aku penasaran aja, kayaknya pernah lihat tu anak baru." Lanjut Jelita sambil melanjutkan aktifitasnya.


" Hmmm... Yah sudahlah kalau kamu nggak kenal. Tetapi ekspresi kamu tadi berlebihan loh!" Sahut Shena cuek kemudian menyeruput Es Teh yang baru di antar.


###


Kantin Sekolah.


Ini hari pertama sekolah di tahun ajaran baru. Jimmy sedang duduk di sebuah meja di dalam kantin sekolah yang elit dan terkesan seperti sebuah restoran. Maklum saja sekolah inikan menjadi salah satu sekolah menengah pertama Swasta favorit di ibu kota metropolitan ini.


Ia memandang aktifitas siswa siswi yang sedang ramai di dalam kantin di jam istirahat seperti sekarang ini. Siswa Siswi di sini adalah kumpulan dari anak-anak konglomerat dan anak-anak artis sehingga wajar saja jika mereka dengan mudahnya memesan makanan maupun minuman di dalam kantin ini dengan santai walaupun bagi Jimmy harga makanan dan minuman di sini sangat tidak masuk akal.


Ada banyak yang sedang bersenda gurau bersama kelompok-kelompok gengnya, ada pula yang sedang sibuk dengan iPad atau pun Gadgetnya atau juga dengan laptopnya namun Mata Jimmy tertuju pada kedua orang siswi cantik yang memandangnya lekat-lekat sambil beberapa kali berdebat kecil dengan mata yang tak henti-hentinya menatap ia.


Salah satunya memang dikenali Jimmy itukan Jelita adik angkatnya dan mungkin saja di sebelah nya itu adalah sahabatnya. Walaupun secara usia Jelita itu adiknya namun di sekolah Jelita adalah kakak kelasnya. Karena memang selama beberapa tahun belakangan ini Jimmy belum sempat mengenyam pendidikan sekolah pertama.


Ketika pikirannya sedang berkecamuk dengan segala persolan yang akan dihadapinya beberapa tahun ke depan apalagi dengan situasi penolakan yang dialaminya di rumah, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.

__ADS_1


" Hai...." Sapa orang itu dan langsung mengambil tempat di samping Jimmy yang kebetulan sendirian di meja itu.


###


__ADS_2