Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
KEMEWAHAN


__ADS_3

***


Jimmy tak menyangka kalau Ayah James menyulap kamar ini dengan mewah dan indah. Bukan itu saja ketika berjalan masuk mengelilingi kamar itu semua kebutuhan jasmani sudah lengkap tersedia dalam kamar barunya itu. Mulai dari Pakaian, Sepatu, dan barang-barang mewah lainnya hingga seragam sekolah barunya yang sudah di setrika rapi dan di gantung dalam lemari pakaiannya. Ada banyak sepatu yang jika diuangkan akan bisa mencapai ratusan juta rupiah sebab semuanya terbuat dari merk-merk terkenal dan mahal.


" Bagaimana sayang? Apa kau puas dengan semua ini?" Tanya James seraya memandang Jimmy sambil tersenyum melihat ekspresi takjub sekaligus keheranan dengan apa yang ada di depan matanya.


"Ayah..Paman.. Dari mana paman tahu semua ukuran tubuhku, ukuran sepatuku, dan semuanya ini?" Tanya Jimmy malu-malu sambil menggenggam erat tangan James pertanda ia masih sangat gugup dan belum siap secara psikologi untuk menerima semua ini.


"Sudahlah sayang. Sekarang ayah ke kantor dulu bersama paman Stev. Oke? Sore bentar, kita akan jalan-jalan bareng bunda dan adikmu Jelita. Nah, Segala kebutuhan kamu katakan saja pada paman Nathan. Dia akan jadi asisten kamu sekarang." Kata James memberikan wejangan kepada Jimmy sebelum ia dan Steven berangkat ke kantor.


Sepeninggalan James dan Steven Jimmy duduk termenung sendiri di dalam kamarnya. Sesekali ia berjalan mengitari kamarnya namun sesekali juga ia berdiri di jendela memandang indahnya masion ini dari atas kamarnya. Sungguh indah dan sungguh membahagiakan dapat tinggal di tempat ini namun mendebarkan Ia tidak menutupi rasa gugupnya sebab ia belum bertemu dengan anggota keluarganya yang lain. Bunda Marsya dan jelita adik angkatnya demikian nama mereka sesuai yang ayah James katakan.


"Apakah mereka bersikap sama dengan yang ayah James tunjukkan kepadanya ataukah sebaliknya? Apakah mereka menerima segala kekurangan atau pun menolak ia karena kedekilannya?" Tanya ia dalam hati.


"Arkkhhhh... Lebih baik aku tidur saja sebab sejak dari malam tadi aku tak dapat memejamkan mata hingga dini hari hanya untuk memikirkan hari ini." Lanjut Jimmy dalam hati sambil membanting tubuhnya ke tempat tidur empuk layaknya hotel bintang lima.


Tanpa menunggu lama selepas ia rebahan di tempat tidurnya Jimmy terlelap begitu saja. Hingga ketika makan siang Jimmy terkejut dengan bunyi ketukan pintu. Dan suara Nathan yang memanggil dia untuk makan siang.


"Tuan, tuan muda, saatnya makan siang tuan." Kata Nathan dari luar kamar.


Mendengar suara Nathan yang samar-samar sampai ke telinganya, Jimmy pun kaget dari tidur lelapnya.


"Aduh sialan.. aku tertidur. Sudah jam berapa ya?" Tanya Jimmy setelah meloncat dari tempat tidurnya dan memandang di sekeliling kamarnya. Setelah mengusap mata dengan tanyanya akhirnya ia sadar ia sedang berada di rumah barunya.

__ADS_1


"Tuan muda," terdengar lagi suara itu dari luar pintu kamar Jimmy.


Jimmy segera berlari ke arah pintu dan melihat seseorang yang tidak asing lagi bagi dirinya sedang menatap dia dengan tersenyum.


" Paman Nathan, maafkan aku tadi tertidur dan tidak mendengar suara paman." Kata Jimmy tertunduk dengan nada bersalah.


"Tidak apa-apa tuan muda. Sebab tuan pasti kelelahan dalam perjalanan tadi dan sekaligus memikirkan perjalanan hidup tuan ke depan. Sekarang pukul 13:00 siang tuan. Saatnya makan siang. Saya lebih dahulu ke ruang makan menyiapkan makan siang untuk tuan." Kata Nathan lagi dengan sopan dan senyum yang lebar.


"Baik paman. Dan satu lagi paman, paman panggil saja aku dengan nama. Tidak elok jika paman yang berusia lebih tua jauh dari saya yang masih belasan tahun ini memanggil dengan sebutan Tuan muda." Kata Jimmy malu-malu sebab ini kali pertama ia sangat dihargai dan dihormati sebagai seorang manusia yang memiliki harkat dan martabat.


"Ini sudah menjadi kewajiban saya tuan muda. Tuan James mengangkat Tuan muda sebagai anak berarti Tuan muda juga adalah majikan saya." Jawab Nathan dengan sopan.


" Terserah paman saja. Saya ingin mandi terlebih dahulu baru kemudian ke bawah untuk makan." Kata Jimmy menyerah untuk berdebat lagi dengan kepala pelayan ini.


Sepeninggalan John, Jimmy segera menyiapkan diri dan selanjutnya mengganti pakaian namun ia baru menyadari ia lupa menanyakan di mana kopernya.


" Waduh di mana mereka meletakan koperku?" Jimmy dengan handuk di badannya mengelilingi dan memeriksa kamarnya dari sudut ke sudut namun tidak menemukan apa-apa.


Akhirnya Jimmy membuka sebuah lemari besar dan betapa terkejutnya ia ketika membuka lemari itu. Di dalamnya terdapat baju, celana dan segala macam keperluan rumahnya. Antara rasa bahagia, senang maupun terharu bercampur menjadi satu; inilah yang dirasakan Jimmy saat ini.


***


"Kok lama sekali tuan muda?" Tanya Nathan ketika melihat Jimmy, anak remaja itu muncul dari di ruang makan keluarga.

__ADS_1


" Saya kebingungan mencari ruang makan ini paman." Kata Jimmy dengan senyuman malu-malu. Namun perkataannya itu adalah kebenarannya. Setelah berpakaian tadi ia kebingungan mencari ruang makan ini sebab masion ini terlalu besar hanya untuk mencari sebuah ruangan makan.


"Hehehe sudah paman duga. Paman minta maaf karena memang paman yang salah, belum sempat menjelaskan kepada tuan muda letak ruang makan ini." Kata Nathan sambil mempersilakan Jimmy untuk mengambil tempat di meja makan keluarga.


"Tidak apa-apa paman." Kata Jimmy dengan wajah gugup sambil mengambil tempat dan makan.


Sementara Jimmy makan, Nathan tetap berdiri di belakang sambil bercerita bersama Jimmy. Melihat Nathan hanya berdiri memandang ia makan, Jimmy merasa iba dan mencoba mengajak John untuk makan bersama.


"Tidak bisa tuan muda. Ini meja khusus untuk keluarga saja. Kami para pelayan beserta semua pekerja di masion ini memiliki meja makan sendiri di belakang." Kata Nathan mencoba menjelaskan hakikat seorang pembantu kepada Jimmy.


"Bukannya kita semua ini masih keluarga paman?" Tanya Jimmy lalu sejenak menghentikan makan siangnya itu.


" Hehehehe, kamu akan tahu jika sudah lama berada di rumah ini tuan muda. Dulu sebelum Nyonya Marsya menjadi istri Tuan Besar, aku memang sering diajak makan bersama oleh tuan besar di rumah ini. Namun sekarang, dan sejak dua setahun belakangan ini Nyonya Marsya telah mengubah semua aturan di rumah ini." Kata Nathan panjang lebar.


"Ohh jadi gitu ya. Paman saya ingin makan bersama paman dan semua pembantu lainnya di ruang makan pelayan. Sekaligus ingin mendengar cerita paman tentang Bunda Marsya dan adik Jelita dari paman dan pelayan yang lain." Kata Jimmy sambil bangkit dari tempat duduknya menenteng piringnya.


Semula Nathan ingin menolaknya, namun karena terus dipaksakan akhirnya Nathan hanya pasrah dan menuruti kemauan tuan mudanya.


Semua pelayan yang lagi menunggu giliran makan siang pun terkejut dengan tuan mudanya yang ternyata tampan dengan pakaian barunya. Dari penilaian mereka tuan muda mereka ini memiliki wajah yang hampir sama dengan Tuan Besar James.


Semuanya bertanya-tanya, mengapa anak setampan dia bisa menjadi gembel di jalanan dan tinggal di kampung kumuh. Sungguh mengherankan siapa sebenarnya tuan muda mereka ini? Gembel namun tampan. Walaupun masih remaja, guratan ketampanan dan tubuh yang atletis sudah mulai nampak. Itu cukup masuk akal sebab ia ditempa dalam situasi lingkungan yang keras.


" Paman, bibi, sebelum saya bertemu dengan Bunda Marsya dan adikku Jelita. Saya mau bertanya terlebih dahulu dari paman dan bibi." Kata Jimmy sambil makan bersama-sama dengan para pelayan-pelayan itu. Sedangkan diam-diam semua pelayan menatap Jimmy dengan takjub.

__ADS_1


" Sepertinya situasi rumah ini ke depan akan berjalan seperti sinetron." Kata Nathan dalam hati sebab ia tahu benar sifat Marsya dan anaknya Jelita.


__ADS_2