Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Mencari Kebahagiaan


__ADS_3

kita kembali ke Ruang Direktur Utama


James Mariski masih duduk termenung di kursi kebesaran Direktur Utama Mariski Group. Wajahnya yang dahulu tampak wibawa dan segar nampak sangat kacau saat ini. Ia sedang memikirkan persoalan perusahaan dan kejanggalan-kejanggalan yang akhir-akhir ini nampak mulai jelas skenarionya. Namun ia tidak mau terlalu terburu-buru untuk mengambil langkah lebih jauh.


"Ah, lebih baik aku memanggil Steven untuk berbagi kecurigaan ini. Ataukah lebih baik aku serahkan semua urusan ini pada Steven," gumam James lirih.


James mengambil HPnya dan menelpon Steven yang ruang kerjanya tidak jauh dari ruang kerja James. Setelah beberapa saat mengutak-atik HPnya ia kemudian menelpon Steven.


" Hallo Bos," sahut Steven di seberang dengan cepat.


" Hallo Steven, segera ke ruangan saya. Ada beberapa hal yang hendak saya bicarakan, " kata James.


" Siap Tuan!" sahut Steven dengan cepat dan langsung mematikan teleponnya.


Selang beberapa saat, Terdengar ketukan pintu ruang kerja James.


"Silahkan masuk," teriak James daei balik meja kerjanya.


Tak lama kemudian Steven membuka pintu dan masuk dengan tergesa-gesa. Pria itu mendekat ke arah James sambil menatap wajah bosnya dengan wajah panik dan dahi berkerut.


Steven adalah asisten pribadinya James. Ia yang mengatur segala keperluan dan mengatur jadwal meeting baik jam kantor maupun di rumah.


Steven baru berumur 30 tahun. Dan James telah menganggapnya sebagai adik kandungnya. Sebab secara lahiriah James tidak memiliki kerabat lagi di Indonesia ini. Kerabatnya yang masih hidup berada di Polandia. Tentu James merasa sangat kesepian apabila berada di rumah sebelum dia menikah lagi dengan Marsya dan memboyong adik Marsya yakni Maya dan anak tirinya Jelita ke rumahnya.


Steven selalu standby 24 jam apabila James membutuhkan bantuannya baik itu jam kantor maupun di luar jam kantor. Oleh karena kesetiannya kepada James hingga saat ini belum menikah. Jika bicara tentang kekasih, semua orang tidak pernah mengetahuinya sebab Steven sangat tertutup kepribadiannya. James tak pernah menanyakannya sebab James tahu batasan privasi orang.

__ADS_1


Steven memang sepantasnya panik sebab tak biasanya Tuannya ini memanggil dia secara tiba-tiba bila berada di kantor. Lain halnya apabila di luar jam kantor. James selalu menghubungi Steven apabila ada yang mengganjal di hatinya baik itu persoalan


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan engkau. Namun tidak di sini, sebab aku ingin mencari angin sambil jalan-jalan. Kamu pasti tahukan tempat favorit aku?" kata James santai sambil menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang masih menyimpan ketampanan walau usianya sudah berkepala empat.


" Baik Tuan," kata Steven sambil menganggukkan kepalanya sambil membalas James dengan senyum tipis.


Namun dalam hati Steven masih tersembunyi pertanyaan-pertanyaan sebab tuannya tidak biasanya berlaku seperti ini.


"Steven, sudah berulang-ulang kali aku ingin kau memanggil aku dengan sebutan kakak. Engkau sudah bersama aku 5 tahun dan aku sudah menganggap engkau sebagai adikku sendiri," Kata James sambil mengetuk jari telunjuknya di dada bidang asistennya tersebut, sambil merapikan meja kerjanya dan menutup laptop.


Namun permintaan tuannya tersebut dijawab dengan gelengan dari Steven sambil berkata;


"tidak tuan, walaupun tuan sudah menganggap aku sebagai adik kandung sendiri namun di kantor ini Tuan tetap bos saya" sahut Steven yang disambar dengan senyum lebar James.


keduanya kemudian merapikan ruang kerja Direktur Utama Mariski Group tersebut dan berlalu dari gedung 20 lantai itu setelah menitipkan semua urusan kantor kepada sekertaris nya Tania.


###


Setelah keluar dari kompleks kantor tersebut keduanya melaju kencang dengan mobil pribadi Bugatti Chiron berwarna silver mobil kesayangan James.


Setelah beberapa menit dalam mobil kedua terdiam dan sibuk mengamati jalanan dengan segala kesibukkan kota metropolitan. Kota ini masih nampak sibuk sebab memang saat ini waktu masih menunjukan pukul 4 sore. Namun belum ada yang berani membuka percakapan. Steven sudah pasti tidak berani membuka percakapan terlebih dahulu dan lebih memilih menunggu tuannya yang duluan. Ketika mobil sport mereka itu berhenti di lampu merah. Seperti biasanya tempat ini adalah tempat favorit James sebab di sini ia dapat membagi uang kepada anak-anak di bawah umur yang mengais rejeki untuk makan sehari dengan mengamen. James bahagia ketika melihat senyum sumringah mereka setelah menerima uang pemberian James. Itu adalah momen terbaik dalam hidupnya.


James membuka percakapan dengan Steven setelah mobil mereka kembali melaju santai keluar dari lampu merah tersebut. Steven tahu tempat favorit James yakni di sebuah taman kecil dekat sebuah pemukiman kumuh sungai Ciliwung. Dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan ke arah taman itu.


" Steven kamu tau, aku sangat benci dengan orang yang sibuk mencari kekayaan dengan cara tidak halal, sedangkan lihat anak-anak dibawah umur tadi, mereka berjuang mencari recehan untuk makan sehari dengan cara halal dan mulia walau hasilnya hanya untuk makan sehari walaupun kadang-kadang tak cukup," James membuka percakapan dengan mata masih memandang jauh ke depan jalan.

__ADS_1


Steven yang sedang menyetir mobil hanya dapat menganggukkan kepalanya beberapa kali.


" Lalu apa maksud tuan? dengan urusan penting yang tuan katakan di kantor tadi?" sahut Steven langsung pada pokok persoalannya.


"Kelihatannya kamu tak sabaran ya," kata James sambil tertawa kecil.


" Kalimat pertama tadi yang menjadi pokok persolan dari masalah yang aku alami akhir-akhir ini," James melanjutkan penjelasannya.


"Aku masih ragu-ragu dengan posisi bagian keuangan dan bagian pengembangan perusahaan. Namun aku masih ragu dengan orang yang aku pilih. Kamu kan tahu ini karena rengekan Marsya untuk memilih adiknya menjadi kepala bagian keuangan perusahaan." James terdiam sesaat.


"Aku curiga ini adalah setingan dari Marsya istriku. Namun ini sebatas kecurigaan aku saja. Dan kamu tahu steven, hingga saat ini aku masih belum berani menolak keinginan Marsya. Sebab jika aku kehilangan dia dan Jelita aku tak tahu, apa yang terjadi dengan usiaku yang tak muda lagi," kata James dengan wajah yang mulai menampakkan kesedihan.


Jika sudah pada saat-saat seperti ini Steven lebih banyak terdiam dan mendengar sampai bosnya itu selesai menyampaikan unek-unek dalam pikirannya.


"Aku tak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Apa lagi saat ini aku dan Marsya tak mungkin menghasilkan keturunan lagi," kata James dengan air mata yang mulai menampakkan diri di sudut mata James.


"Saat ini aku seperti kesepian, aku merindukan Jorge, Donita, Ayah, Ibu," lanjut James.


Steven memang belum melihat secara langsung wajah-wajah orang kesayangan yang disebutkan oleh tuannya tadi. Namun ia telah mengetahui cerita ini sebab selama 5 tahun ia bekerja bersama James, cerita ini selalu diulang-ulang oleh James.


Steven hanya tahu kalau James sangat mencintai keluarga kecil nya dahulu dengan foto-foto mereka yang menghias dinding ruang kerja James atau pun masion James.


keduanya terdiam sesaat dan hening. yang terdengar adalah raungan mesin Bugatti Chiron itu memecah kesunyian mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2