Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Menangis


__ADS_3

Hampir 10 menit Jimmy terisak di dalam dekapan dr. Brian. Selama itu pula dr. Brian tak mampu berkata-kata sepatah kata pun untuk melerai kekalutan dan kesedihan Jimmy yang ditumpahkan lewat tangisan. Sementara itu, Nathan masih berdiri memandang adegan itu sambil menunggu waktu yg tepat untuk menyudahi ratapan tuan mudanya. Memang bagi Nathan sendiri bukan hal yang mudah bagi Tuan mudanya itu untuk menerima kabar ini dengan hati yang tenang dan lapang. Yah, sebab Jimmy masih dalam usia pertumbuhan, masih remaja dan butuh orang tua untuk mendampinginya menapaki masa depannya menggapai cita-cita yang ia inginkan sekaligus juga menjadi ahli waris Mariski Corp yang perusahaannya membentang luas di seluruh kota maupun provinsi-provinsi di berbagai pelosok di negara ini. Itu bukan hal yang mudah, apalagi sekarang sudah menjadi rahasia umum bahwa Jimmy telah menjadi Presdir baru bagi Mariski Corp. Secara diam-diam James telah menghubungi dewan penasihat perusahaan, advokat dan unsur-unsur lain perusahaan untuk mempersiapkan segala sesuatu demi pewaris Mariski Corp tersebut. Bahkan James melakukan hal tersebut tanpa sepengetahuan Steven asisten pribadinya. Dengan demikian otomatis seluruh perusahaan bahkan anak-anak perusahaan dan segala asetnya akan menjadi milikinya sekaligus menjadi tanggungjawabnya.


" Lalu apa yang harus dilakukan tuan mudanya yang bahkan sekarang baru menginjak bangku pendidikan sekolah menengah pertama. Bukan Hal yang mudah sekaligus menjadi tantangan bahkan semua pikiran orang-orang dalam perusahaan besar ini berjudi dengan masa depan Mariski Corp." Nathan menghempaskan nafasnya dengan keras. Ia tak dapat membayangkan apa yang terjadi dengan masa depan anak ini baik itu fisik maupun psikisnya.


" Bisa jadi perusahaan ini akan ambruk, down karena dipimpin seorang anak remaja yang belum cukup usia. Ibu sambungnya Marsya tak dapat diharapkan karena tak memiliki hubungan yang baik dengan tuan muda ini. Sedangkan Marsya tak memiliki hak terhadap perusahaan biar pun itu sedikit. Aturan dan segala prosedural keluarga konglomerat ini sangatlah ribet dan bisa dibilang sangat berhati-hati apa lagi ini bicara soal ahli waris." Nathan masih berkutat dengan segala problem dalam kepalanya.


Biarkan waktu yang menjawabnya. Nathan kemudian mengangkat kepalanya setelah berperang cukup lama di dalam kepalanya tentang masa depan Mariski Corp.


Jimmy lalu melepaskan dekapannya dari dr. Brian. Ia menatap sekeliling kamarnya dan baru menyadari kalau ia sudah terlalu lama menangis dan sudah saatnya ia harus bangkit menerima kenyataan itu. Ia harus segera menemui keluarga besar sekaligus melihat jasad ayahnya. Sakit memang namun apa lagi yang harus diratapi. Sebelum menjadi anak angkat dari keluarga Mariski ia sudah terbiasa menerima kenyataan untuk kehilangan orang-orang tersayang.

__ADS_1


" Tuan muda maaf, tetapi semua orang di bawah sedang menunggu kedatangan tuan muda." Ucap Nathan lagi.


Beberapa detik Jimmy berdiri merenungkan kata-kata Nathan sembari menghapus air matanya dengan kerah bajunya. Ia masih mengenakan baju seragam sekolah dan belum sempat diganti. Setelah menghapus air matanya ia kemudian menjawab John.


" Baik paman. Namun sebelumnya aku harus mengganti pakaian terlebih dahulu. Mungkin paman dokter dan paman Nathan bisa menunggu di luar." Balas Jimmy masih dengan suara serak dan bergetar. Ia harus kuat dan tegar walau itu tak akan mudah.


" Aku juga akan menunggu tuan muda di luar."


" Baiklah paman." Balas Jimmy cepat.

__ADS_1


Sepeninggalan Nathan dan dr. Brian, Jimmy kemudian mengganti pakaian dengan pakaian serba hitam yang tersedia dalam lemari pakaiannya dengan cepat. Mencuci muka dengan seadanya dan kemudian menyusul Nathan yang sudah menunggunya di luar kamar.


Keduanya kemudian menuruni tangga dari lantai dua. Dari atas lantai dua, ketika membuka kamarnya ia baru mendengar riuh di lantai satu. Ada isak tangis yang semakin terdengar jelas di telinga juga suara riuh orang yang sibuk dengan segala persiapan penerimaan tamu dan lain-lainya serta persiapan penguburan besok. Ia berusaha melangkah dengan tegar menuruni tangga walau terasa lututnya mulai bergetar dan air mukanya mulai panas. Situasinya hampir sama ketika ia kehilangan ayah dan ibunya di kampung kumuh beberapa tahun lalu. Sekarang situasi ini datang lagi dan hampir sama ketika itu, ia tak kuat menahan perih di matanya. Air matanya mengalir lagi tanpa diminta. Ketika semakin dekat pemandangan di ruang tengah rumah yang besar itu semakin jelas di matanya dan tidak seperti biasanya. Ada peti mati berwarna putih nampak berada di tengah-tengah rumah di kelilingi dengan kursi-kursi serta sofa untuk tempat duduk bagi keluarga banyak tamu yang hadir dan berpakaian serba hitam layaknya orang sedang berkabung. Hampir sebagian besar orang tidak dikenal oleh Jimmy, mungkin yang duduk di sofa yang dikenali Jimmy sebab mereka adalah keluarga besar Mariski yang sudah begitu dekat dengan Jimmy. Di situ ada Marsya bundanya, Maya, Jelita bahkan ada Bibi Santy dan Sita anaknya yang bertahun-tahun merawat Jimmy di kampung kumuh bantaran sungai Ciliwung.


Jimmy dan Nathan melangkah mendekati tempat di mana peti jenasah James ditempati. Menyadari kedatangan Jimmy dan Nathan beberapa orang nampak berdiri memberikan penghormatan layaknya ia adalah seseorang yang patut dihormati. Yah, itu masuk akal sebab hampir semua yang berada di situ adalah direktur-direktur yang sudah mendapat FAX resmi dari Presdir lama James Mariski bahwa Jimmy Mariski anaknya akan menjadi pewarisnya sekaligus akan menjadi Presdir yang baru menggantikannya. Namun tidak sedikit juga yang nampak acuh tak acuh terus duduk dan berbisik satu sama yang lainnya. Terlalu banyak orang yang ada di dalam ruangan itu sehingga Jimmy tak melihat ekspresi atau respon mereka satu persatu. Mungkin saja di luar rumah ini juga terdapat banyak lebih banyak orang yang datang melayat. Jimmy memikirkan itu semua ketika sedang berjalan menapaki kegugupannya mendekati peti jenasah berawarna putih yang sangat mewah dan indah. Sungguh suatu keadaan yang ironis bukan? Sebab setelah ia memutuskan untuk mewariskan segala aset dan perusahaannya kepada anak asuhnya yang baru menginjak masa remaja James Mariski justru mengalami musibah kecelakaan bersama Steven ia koma kemudian meninggal dunia setelah hampir seminggu dirawat di rumah sakit.


" Oh ya di mana Paman Steven? Bukankah di saat-saat seperti ini harusnya paman ada samping aku? Ia yang paling mengerti keadaan aku. Ia juga yang bersama ayah James menjemput aku di rumah kumuh, mengurus segala keperluanku memperkenalkan dunia konglomerat ini kepadaku dan segala sesuatu tentang dunia bisnis kepada aku. Di mana paman di saat aku membutuhkan dia untuk menjadi penopang aku." Gumam Jimmy dalam hati seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan besar itu hanya untuk ingin menemukan orang yang ia pikirkan tadi.


####

__ADS_1


__ADS_2