Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Murid Baru


__ADS_3

###


Kurang lima belas menit dari waktu yang disepakati, Julia telah tiba di tempat yang janjikan.


Cafe Central.


Sebuah cafe milik Julia yang baru dibangunnya. Cafe ini berada di area sebuah bukit di perbatasan kota Trenggalek dengan pemandangan kota yang eksotis dan estetis. Julia duduk pada sebuah meja kosong dan langsung dilayani oleh pelayan-pelayan Cafe di situ. Yah, masuk akal sebab Julia adalah pemilik Cafe ini.


Setelah meneguk beberapa seruputan minuman dingin, Julia mulai nampak tak tenang. Matanya menyisir seluruh ruangan Cafe, hingga di area parkiran dan pintu masuk namun ia tidak menemukan orang yang sedang ia tunggu.


" Sudah hampir pukul 10:30. Kok orangnya belum datang ya?" Gumam Julia dalam hati.


" Huhhh..."Julia menghembuskan nafasnya dengan keras sebab kesabarannya mulai nampak dicobai.


" Syukurnya aku masih penasaran dengan orang ini kalau tidak aku tidak punya waktu untuk bersabar dan menunggu kayak gini." Geram Julia dalam hati.


Setelah melewati dua puluh lima menit penantian membosankan, akhirnya orang yang ditunggu itu pun datang. Seorang pria muda tampan dan modis mengenakan pakaian rapi dengan senyum yang manis dan kira-kira berusia akhir dua puluhan memasuki Cafe Central sambil matanya menyisir seluruh isi Cafe. Setelah menemukan orang yang ia cari senyumnya melebar dan mendekati sebuah meja di sudut Cafe yang diduduki Julia.


" Maaf membuat anda menunggu begitu lama." Kata pria muda tersebut seraya berjabat tangan dengan Julia.


" Ahh... Tidak apa-apa. Bukankah pembeli adalah raja?" Jawab Julia seadanya mencoba menncairkan suasana dengan sedikit basa-basi sambil tersenyum lembut.


" Mari silahkan duduk," lanjut Julia.


" Terimakasih," jawab pria itu singkat seraya duduk di hadapan Julia.


Julia memanggil salah seorang pelayan dan memesan minuman dan cemilan sesuai dengan keinginan pria tersebut.


Julia mencoba menerka-nerka setelah melihat gaya bicara dan penampilannya, pria ini walaupun masih muda memiliki karismatik yang tinggi dalam diskusi, negosiasi, seputar bisnis selepas beberapa menit bertukar cerita. Kesimpulan pria ini memiliki perusahaan yang cukup terkenal dan dari latar belakang keluarga konglomerat.


" Maaf pak. Boleh saya tahu nama anda biar pembicaraan kita lebih terkesan akrab dan tidak terlalu kaku."

__ADS_1


" Ohh ya maaf. Nama saya Michael Haryadi. Ibu boleh panggil saya Mike."


Julia mengerutkan keningnya, menandakan bahwa nama itu terdengar begitu asing. Julia tergabung dalam group-group pengusaha-pengusaha di berbagai daerah, namun belum sekalipun ia mendengar nama Michael Haryadi disebut dalam bilangan pengusaha sukses.


" Saya yakin ibu belum mengenal saya," Mike melanjutkan perkenalannya sebelum Julia sempat menyela.


" Atau ibu merasa asing dengan saya sebab saya hanyalah sekertaris atau asisten pribadi dari tuan muda saya yang datang mewakili dia untuk berbicara dan melakukan transaksi bersama ibu." Sambung Mike.


" Dan tentu saja ibu adalah Julia Sriningsih. Salah satu pengusaha wanita tersukses di kota kecil ini." Lanjut Mike dengan menggebu-gebu tak peduli Julia yang sedari tadi hendak menyela ucapannya.


" Terimakasih sudah menyanjung namun saya merasa masih terlalu jauh dari bilangan pengusaha sukses. Apalah artinya menjadi pengusaha sukses di kota kecil seperti Trenggalek ini." Jawab Julia dengan senyum kecut.


" Rendah hati. Hehehe.. Sifat yang hampir tidak bisa ditemukan di kalangan pengusaha. Namun anda memilikinya. Saya teringat akan tuan besar saya. Hampir sama sifatnya seperti ibu." Balas Mike cepat.


Sebelum Julia sempat menjawab, Mike mengeluarkan sebuah map biru dari dalam tas yang dibawanya.


" Saya telah mendapatkan profil perusahaan ibu dari saudara Wira kepala marketing anda sekaligus dengan foto-foto sample bangunan-bangunan..........."


" Baiklah ibu, sebelum bertemu dengan ibu, saya telah berbincang dengan tuan muda saya dan kami telah memutuskan untuk membeli tiga unit rumah ibu yang terbaik dari perusahaan anda."


Mike kemudian menunjukkan foto dari ketiga rumah tersebut yang filenya sudah diberikan oleh Wira sebelumnya.


Beberapa detik kemudian Julia hampir tersedak sebab harga dari rumah yang ditunjuk oleh Mike hampir mencapi sepuluh miliar perunitnya. Jika mereka membeli tiga rumah sekaligus berarti mereka mengeluarkkan uang hampir tiga puluh miliar.


Bila ini Jakarta maka Julia dapat memahaminya sebab membeli rumah dikota besar bisa jadi itu investasi. Namun apalah gunanya memebeli beberapa rumah mahal di kota kecil seperti di sini. Jika benar-benar dibutuhkan satu saja pasti cukup sebab rumah yang ditunjuk Mike adalah bangunan terbaik dari PT. Berdikari.


Melihat air muka Julia yang keheranan Mike kemudian tersenyum lebar dan berkata;


" Tuan muda saya membutuhkan banyak waktu untuk sendiri dalam keheningan dan tak terlalu suka keributan. Makanya tuan muda inigin membeli tiga rumah sekaligus agar jauh dari yang namanya keributan tentangga."


" Jadi Bu Julia apakah transaksi kita dapat berlanjut ataukah ibu masih memiliki kendala untuk tiga buah rumah ini?"

__ADS_1


"Ahhhh.. Ti-tidak Pak Mike!" Jawab Julia cepat namun dengan sedikit terbata-bata.


Keduanya kemudian melanjutkan transaksi mereka dan mencapai kesepakatan bahwa, sebagai tanda jadi, Mike akan menyerahkan DP sebesar 15 M terlebih dahulu dan akan menyerahkan sisanya setelah Mike menerima surat-surat tanah berupa sertifikat atas nama tuan mudanya.


" Ini adalah data tuan muda saya. Dan saya akan menunggu kabar selanjutnya dari ibu." Mike bangkit berdiri seraya menyerahkan map tersebut kepada Julia.


Sampai detik ini Julia masih belum menemukan titik temu atau benang merah dari kegalauannya sebelum-sebelumnya.


Jika perbincangannya hanya sebatas ini lalu mengapa pria yang bernama Mike ini ngotot ingin bertemu dengan dirinya? Bukankah dengan Wira semuanya bisa beres?


Julia meraih map bersampul biru tersebut


dari hadapannya membukanya dan selang beberapa menit kemudian Julia terperangah membaca nama tuan muda dari Mike tersebut. Ia tahu sekarang mengapa Mike begitu ngotot ingin bertemu dengan dia.


@@@@


*Kita kembali ke ruangan kelas Serly.


Pukul 08: 05*


Wali kelas Serly bernama Bu Nina. Usianya hampir 50 tahunan. Cassandara kemudian kembali ke tempat duduknya seraya menahan malu sebab ketika Bu Nina masuk bersama seorang remaja tersebut, Cassandra masih berdiri di meja guru atau mimbar mengajar.


" Selamat pagi anak-anak!!!!" Sapa Bu Nina dengan cukup lembut seraya mengulas senyum lebar yang tidak biasa. Biasanya Bu Nina akan uring-uringan jika menemukan kelas lagi ribut dan riuh ketika guru tidak ada dalam kelas.


" Selamat pagi ibu...!!!!!" Jawab siswa-siswi serempak.


" Saat ini ibu berdiri bersama seorang anak yang akan menjadi teman baru kalian. Silahkan perkenalkan dirimu nak."Lanjut Bu Nina masih dengan senyum yang lebar.


Remaja tersebut kemudian memperhatikan sekelilingnya, menarik nafas berusaha membuang rasa gugupnya dan memperkenalkan diri.


" Nama saya, Jimmy Jonathan Putra Mariski."

__ADS_1


####


__ADS_2