Pemulung Jadi Direktur Baru

Pemulung Jadi Direktur Baru
Serly


__ADS_3

kita tinggalkan ****Keluarga Mariski beserta kemelut tampuk kepemimpinan Mariski Corp dan mari kita pindah pada suatu tempat dengan situasi yang baru****.


Di suatu tempat sebulan setelah kematian James Mariski.


" Serly ayo berangkat!" Teriak seorang wanita berusia 40 tahunan dari luar pintu kamar berwarna pink.


" kalau kamu terus berdandan dan tak habis-habisnya menatap cermin maka kita akan terlambat sayang. Sudah hampir pukul 07:00 loh." Lanjut wanita itu lagi dengan wajah kesal.


Semakin diteriaki malah tak ada jawaban dari dalam kamar.


" Kok kamarnya sepi ya, tak ada jawaban lagi," gumam wanita tersebut dengan lirih.


Akhirnya ia mencoba untuk membuka pintu kamar anak perempuannya tersebut dan menemukan bahwa ternyata pintu kamarnya tidak terkunci dan betapa terkejutnya wanita itu karena ia menemukan anak manjanya masih terlelap di balik selimut tebal yang sangat memanjakan tubuh.


"OMG, Sayangggg...Serlyyyy!!!!!" Teriak wanita tersebut sambil menarik selimut remaja cantik yang dipanggil ibunya dengan nama Serly tersebut.


"Ayolah sayang..... Sudah pukul berapa ni coba?" Lanjut wanita itu lagi sambil duduk di samping tempat tidur anak remajanya itu.


Anak remaja yang dipanggil dengan nama Serly tersebut bangun sambil mengusap-usap kelopak matanya yang masih nampak kusam.


" Udah jam berapa mam?" Tanya Serlly malas seraya bersandar pada tumpukan Boneka Unicorn di belakangnya.


Wanita tersebut mengambil Jam alarm yang tergeletak di meja kecil di samping tempat tidur putri kesayangannya tersebut lalu kemudian menunjukannya tepat di depan muka Serly.

__ADS_1


Serly yang masih dalam kantuk yang berat mengusap-usap kedua kelopak matanya dan sekejab kemudian terperangah menatap arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 6:50.


" Ha????? OMG aku telat!!!!" Teriak Remaja tersebut sambil bangkit dengan tergesa-gesa, melewati ibunya yang nampak mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.


Melihat betapa gemasnya dan manjanya anak semata wayangnya tersebut mata Julia menjadi berkaca-kaca. Kini ia berusia 40 tahun namun masih teringat jelas dalam kisah 12 tahun yang lalu ketika ia berkecamuk dalam problematika keluarga yang sungguh amat menyiksa nuraninya hingga ia harus menepi dari pusat kota metropolitan dan menetap di sebuah ibu kota kabupaten yang sejuk, segar dan tenang serta asri ini.


Kota ini bernama Trenggalek.


Berkat usaha dan kerja keras yang ia geluti 10 sampai 11 tahun belakangan ini ia akhirnya menjadi salah satu wanita di kabupaten ini yang sukses. Ia telah menjadi wanita berkarier yang mampu mengembangkan bisnis di bagian perumahan dan mendapatkan profit yang lumayan besar setiap pembeliannya.


Ia hanya tinggal berdua dengan putri kesayangannya Serly yang telah menginjak usia remaja. Serly putrinya semakin cantik periang dan sungguh amat rupawan. Ia mewarisi muka ibunya yang juga cantik dan anggun.


Khayalan Julia tiba-tiba terhenti ketika Serly dengan kerasnya menarik lengan ibunya agar segera keluar dari kamarnya.


" Oke.. oke sayang.. Ibu tunggu di depan ya," lanjut Julia seraya berlalu dari kamar anaknya.


Beberapa menit kemudian.


" Ayo kita berangkat Mang Udin, kayaknya Serly sudah hampir terlambat tuh!" Kata Julia setelaj Serly masuk menyusulnya ke dalam Mobil Toyota Innova hitam milik Julia satu-satunya tersebut.


" Siap bu!" Balas sopir pribadi Julia tersebut seraya menjalankan mobil keluar dari pekarangan rumah yang cukup mewah untuk ukuran kota kecil sekelas Trenggalek.


" Serly, kamu sudah yakin tidak ada peralatan sekolah yang terlupakan?" Tanya julia cepat sebelum mobil benar-benar meninggalkan pekarangan rumah mereka.

__ADS_1


" Sudah ma;" jawab Serly singkat sebab ia masih sibuk mengurus rambut dan bajunya yang nampak berantakan karena terburu-buru.


Toyota Innova hitam tersebut kemudian melaju membelah jalanan kota Trenggalek yang nampak segar dan teduh di pagi ini. Kendaraan yang lewat pun belum terlalu padat. Taman kota yang dirawat oleh petugas dengan rapi pun menjadi pewarna sendiri bagi kota kecil ini. Ketika memasuki pusat kota anak-anak sekolah mulai memadati jalan raya. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang diantar oleh orang tua mereka masing-masing dan ada juga yang membawa kendaraan pribadi mereka. Sungguh suatu pemandangan yang estetis dan membuat orang yang pertama kali datang ke kota ini menjadi jatuh cinta.


Julia bersyukur sebab kota ini telah membuat dan sekaligus mengajarkan ia menjadi single parent yang tegar. Kedamaian kota ini membuat ia memiliki nurani yang bersih dan murni, penduduk kota ini yang ramah juga membuat ia memilik tekad yang kuat untuk terus menjadi wanita yang mandiri dan berguna bagi kemajuan kota ini sendiri.


Dan saat ini apa saja yang menjadi cita-citanya belasan tahun yang lalu hampir terwujud. Secara finansial ia boleh dapat dikatakan berkecukupan walau di lima tahun awal sejak kedatangannya dari kota metropolitan, Julia dihadapkan pada problematika dan tantangan yang tidak sedikit baik dalam bisnisnya maupun dalam keluarga kecilnya.


Namun berbekal pengalaman terlibat dalam satu perusahaan besar di Ibu kota metropolitan serta basic pendidikannya di bagian bisnis, akhirnya Julia melewati masa-masa kritis tersebut dan menikmati buah manis di beberapa tahun belakangan ini.


Lagi yang patut Julia syukuri hingga saat ini adalah bahwa putri satu-satunya yang menjadi alasan ia tetap tegar menjalani hidup yang keras, tetap setia dalam kegembiraannya, telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas, ceria dan sangat cantik dan energik.


Ketika Julia masih sibuk dalam nostalgia masa lalunya tak terasa mereka telah tiba di dapan gerbang besar sebuah sekolah yang hampir sepi. Julia melirik jam tanganya dan menemukan bahwa Serly akan benar-benar terlambat apabila mereka datang lebih dari dua menit dari sekarang.


" Ayo sayang, tinggal dua menit lagi gerbang akan ditutup. Sekarang sudah pukul 07:13 loh." Ujar Julia selepas melirik jam tanganya.


"Iya bu... Saya permisi ya bu, Mang Udin," balas Serly cepat seraya menjabat tangan ibunya, membuka pintu mobil dan berlalu memasuki gerbang sekolahnya. Sekolah Serly ada lah sebuah sekolah swasta yang mana dalam satu area lingkungan yang lebar dan panjang tersebut terdapat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah menengah atas yang bernaung di bawah satu Yayasan terkenal bernama Yayasan Nusantara. Yayasan Nusantara adalah besar dari Ibu kota metropolitan Jakarta yang sangat terkenang dan banyak diminati oleh anak-anak konglomerat.


Julia tahu benar yayasan ini sebab ia pernah sangat dekat dengan Perusahaan Besar yang menaungi yayasan tersebut .


Lebih tepatnya belasan tahun yang lalu ia pernah berada dalam ruang lingkup perusahaan itu. Saat yang mana menjadi alasan kemudian ia menepi dari ibu kota Jakarta.


Masa yang kelam.

__ADS_1


####


__ADS_2